I left my half heart in Rinjani

Cheese Burger
Karya Cheese Burger Kategori Wisata
dipublikasikan 15 Juli 2017
I left my half heart in Rinjani

Tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk dapat menginjakkan kaki di tempat tertinggi di Lombok bahkan di Indonesia. Proses persetujuan hanya berlangsung sehari sebeum keberangkatan. Semua serba cepat dan sama sekali tak ada bayangan akan seperti apa tempat yang akan kudaki ini. Gunung Rinjani, namanya telah kudengar sejak 19 tahun yang lalu. Namun baru pada usia hampir 20 tahun aku dapat melihat betapa megahnya tempat itu. Maka kunjungan ini telah kutetapkan sebagai kado istimewa ke 20 tahun buatku. Tak apalah memberikan hadiah bagi diri sendiri. Bukankah itu lebih baik daripada mengemis hadiah.

Entah apa yang kupikirkan sebelumnya. Aku hanya sekedar ingin memuaskan rasa ingin tahuku terhadap tempat itu. Aku tahu bahwa medan yang kulalui akan sangat panjang dan sulit. Butuh tenaga ekstra sehingga faktor fisik tidak bisa diremehkan. Banyak yang meragukan fisikku, termasuk juga diriku sendiri. Tapi satu yang membuatku yakin yaitu kekuatan motivasi. Buktinya, aku telah sanggup mendakinya meski tak benar-benar sampai puncaknya. Tapi tak apalah, namanya juga pemula dan amatiran.

Awal mula perjalanan, aku sempat mengeluh dalam hati. Bagaimana tidak?  Ternyata tidak melesat jauh dari apa yang aku bayangkan. Medannya sunguh berat dan panjang.  “Untuk apa melakukan ini semua? Hanya membuat lelah saja” Mungkin ini juga yang sempat terlintas dalam pikiran pendaki amatiran yang lain. Di hari pertama, hampir setengah hari dihabiskan untuk melintasi entah berapa  sabana yang menghubungkan dua pos awal. Perjalanan berakhir di pos dua, tempat dimana banyak pendaki yang rehat semalam untuk melanjutkan perjalanan  esok paginya. Dari sini aku mulai mengakui keindahan Rinjani. Selama ini aku bermimpi agar dapat melintasi sabana yang dikelilingi bukit dan bernaung di bawah langit malam penuh bintang. Sesunguhnya Rinjani adalah salah satu tempatnya.  Bagi yang menyukai sabana, mungkin bermimpi untuk bisa ke lokasi shooting yang ada di Lord of the ring, Harry Potter, atau mungkin the hobbit. Maka pergilah ke Rinjani! Untuk pertama kalinya dalam hidupku dapat melihat hamparan bintang di langit dan dengan mudahnya melihat bintang jatuh. Aku takjub dan bersyukur! Tuhan mengabulkan salah satu mimpiku!

Perjalanan nan panjang dan berat seharusnya tidak boleh terlalu dipaksakan. Semuanya harus dinikmati dan dibuat mengasyikkan. Inilah kunci untuk melalui semua rintangan Rinjani dan mungkin perjalanan-perjalanan yang lainnya. Segala rupa medan yang tergolong berat membuat perjalanan semakin berat jika tak dinikmati. Perjalanan akan terasa sangat berat jika yang menjadi tujuan akhir hanyalah bagaiamana agar mencapai puncak. Journey ain’t about the goal but it’s about how you enjoy the journey itself. Kiranya itulah gambarannya.

Aku kembali dibuat takjub oleh kemegahan Rinjani ketika secara langsung dapat melihat hamparan laut, samudra di atas awan, perbukitan, hutan hijau nan teduh, danau nan cantik. Ah Rinjanii! Tak lupa pula suasana selalu dimeriahkan oleh sinar bulan yang menjadi penerang kala melintasi bukit dan hutan di malam hari. Kapan lagi bisa berjalan kaki tengah malam melintasi bukit dan hutan dengan bulan sebagai lampionnya. Sudah cukup membuat irikah?  Berdiri di salah satu tempat tertinggi, siapa yang tak bangga.

Terbayar sudah semua rasa lelah dan tadi dengan semua kemegahan surga dunia ini. Tak lupa pula rangkaian kenangan bersama mereka yang turut serta menemani perjalanan, akan menjadi sebuah kenangan tak terlupakan yang akan selalu mengingatkan agar suatu saat dapat kembali mengunjungi si cantik Rinjani. Aku memang tak benar-benar dapat mencapai puncaknya, tapi suatu hari aku akan kembali untuk menggapainya. Menemui separuh hati yang tertinggal disana.

  • view 50