Setelah Runtuh, Tembok Baja Itu Kembali Kokoh

Setelah Runtuh, Tembok Baja Itu Kembali Kokoh

Toni Al-Munawwar
Karya Toni Al-Munawwar Kategori Motivasi
dipublikasikan 30 Agustus 2017
Setelah Runtuh, Tembok Baja Itu Kembali Kokoh

Sejak awal, banyak orang yang meragukan bahwa tembok ini akan bertahan. Mengingat, lawan yang dihadapi cukup berat. Namun nyatanya, pasukan kita jauh lebih unggul pada awal-awal penyerangan. Mereka ketar-ketir menghadapi serangan bertubi-tubi tiada henti. Sebagian kewalahan menghadapi kelihaian pasukan kita. Taktik yang disusun sepertinya berjalan mulus.
           
Namun sayang, kita sempat lengah pada serangan lawan, sehingga salah satu dari mereka berhasil menghancurkan sebagian benteng. Hal ini membuat semangat semakin ganas, kita begitu gencar menyerang hingga menumbangkan para penjaga dan berhasil pula menghancurkan sebagian benteng. Keadaan ini memaksa lawan menambah kekuatan, membuat keadaan jauh lebih berimbang.
           
Begitulah, jika kira-kira timnas Indonesia digambarkan saat menghadapi Thailand pada ajang Sea Games 2017 yang berlangsung di Malaysia. Mungkin banyak dari para rakyat yang meragukan bahwa tim ini bisa berbicara banyak di kompetisi paling bergengsi di Asia Tenggara mengingat lawan pertama mereka adalah Thailand yang sudah berulang kali menggondol emas di ajang ini.
           
Tetapi, ternyata anggapan itu salah besar. Garuda Muda mampu menunjukkan taringnya dengan menahan imbang Thailand pada laga awal. Inilah yang memantik terus semangat anak-anak muda kita hingga mampu membekuk Filipina, Kamboja, juga Timor Leste. Kita patut bangga sekaligus mengapresiasi perjuangan mereka.
           
Saat laga kontra Vietnam, Garuda Muda memiliki tembok yang begitu kokoh sehingga sulit ditembus. Terbukti, berulang kali kita digempur habis-habisan namun tak ada satu pun bola yang mampu merobek gawang timnas Indonesia. Siapakah tembok itu? Dia adalah Satria Tama sang Tembok Baja. Betapa tidak, berulang kali dia telah melakukan penyelamatan gemilang. Meski kita harus bermain dengan 10 pemain, tetapi tetap tidak mengubah apapun. Sang Tembok Baja tetap berdiri kokoh.
           
Namun sayang, tembok ini keadannya semakin lemah dan harus segera ditopang. Akhirnya, pertengahan babak kedua Satria Tama harus diganti akibat cedera. Ini sungguh merugikan bagi kita, sebab lawan yang sedang dihadapi bukan lawan yang sembarangan. Beruntung, kita masih punya satu kiper lagi yang tak kalah hebat dengan Si Tembok Baja.
           
Indonesia dipastikan melaju ke Semi Final, setelah menumbangkan Kamboja dan bertemu Malaysia di sana. Jutaan rakyat menaruh harapan besar pada tim ini. Tentu kita semua ingin melihat mereka terus maju hingga partai puncak nanti di final. Tetapi, awan mendadak gelap gulita. Malam begitu pekat dan hujan pun sangat deras. Malapetaka itu pun muncul. Sang Tembok Baja akhirnya runtuh, meruntuhkan segala harapan yang dikandung dada. Suasana mendadak senyap dan hening seketika. Tak ada yang mampu bersuara. Hanya diam membisu tanpa kata.
           
Meski begitu, ini masih belum berakhir. Kita memang gagal ke Final, tapi kita masih punya satu kesempatan lagi. Agar pulang tak membawa tangan hampa. Paling tidak, ini bisa mengobati rasa kecewa. Lagi-lagi pada babak awal, kita tertinggal lebih dulu dari Myanmar dalam perebutan Mendali Perunggu. Ini belum berakhir, karena kta masih punya waktu cukup panjang untuk memutar keadaan. Ya, akhirnya anak-anak Garuda Muda mampu memutar keadaan. Kita sekarang memimpin dengan defisit dua gol. Satu lagi, setelah sempat runtuh akhirnya Tembok Baja itu kembali berdiri dengan kokoh.

  • view 148