Si Gadis Bibir Pantai

Toni Al-Munawwar
Karya Toni Al-Munawwar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Juli 2017
Si Gadis Bibir Pantai

Seorang gadis duduk termenung di bibir pantai. Wajahnya tampak murung. Tatapan gadis itu seakan kosong menatap ombak yang riang bermain. Entah, apa yang sedang dipikiran gadis berambut panjang itu. Sesekali ia menoleh, ke arah anak-anak yang asyik-masyuk bermain kecipak air di bibir pantai. Ia tersenyum tipis menyaksikan bocah-bocah itu bermain.

Di bibir pantai ini, dia merasakan ketenangan juga kedamaian yang tak pernah ia temukan bila ada di rumah. Linda, ya begitulah, saat sang ibu hendak memanggilnya. Linda saat ini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang begitu rapuh dan lemah. Entah, apa yang telah membuat remaja 13 tahun ini seperti itu.

Hari akan mulai gelap, namun gadis berambut panjang ini belum juga beranjak dari tepi pantai. Saat berada di rumah, gadis remaja ini akan melihat tayangan pertengkaran bapak dan ibunya. Dia tak mampu berbuat apa-apa, hanya menangis dalam kamar. Mungkin itulah, alasan gadis ini tetap bertahan.

Selalu terjadi percekcokkan dirumah itu, berawal dari sang bapak yang pulang selalu larut malam dan dalam keadaan mabuk. Hal itulah, yang menjadi penyulut api kemarahan ibunya menjadi berkobar.

Keributan itu bukan saja terjadi satu atau dua kali. Tetapi sudah berkali-kali hal ini terjadi. Bahkan, saat sang ibu tak bisa memberikan sejumlah uang untuk membeli sebotol minuman setan, sang bapak tiba-tiba berubah menjadi kesetanan lalu tak segan-segan tangannya yang kekar mendarat di pipi perempuan yang telah memberinya satu anak ini.

Linda hanya mampu memeluk ibunya yang tersungkur di lantai seraya menangis tersedu-sedu. Gadis itu pun mengiba-iba agar bapaknya yang kesetanan ini pergi meninggalkan mereka berdua.
Matahari sudah akan tenggelam. Orang-orang sudah mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Namun, gadis berambut panjang ini masih bertahan juga. Linda sudah muak sekaligus lelah, dengan tingkah sang bapak yang gila akan minuman setan.

Di satu sisi, ia juga tak mampu berbuat apa-apa. Hanya air mata saja yang berbicara. Hatinya telah tercabik-cabik saat menyaksiksan sang bapak dengan gilanya memukuli ibu yang tak berdaya. Semua ini gara-gara botol setan itu. Kalau saja bapak tak pernah bertemu dengannya, mungkin saja saat ini keluarga Linda baik-baik saja.

Senja mulai mengintip malu-malu, cahayanya yang kemerah-merahan menyembul keluar secara perlahan. Gadis kecil itu menatap senja seraya tangannya memegangi lutut. Sunyi, tak ada seorangpun di sini. Hanya deburan ombak yang sesekali terdengar. Linda lalu menarik napas dalam-dalam, membuangnya secara pelan-pelan. Keadaannya sekarang jauh lebih baik, seakan beban-beban berat yang menyesakkan dada tiba-tiba lenyap begitu saja. Mungkin beban itu ikut keluar saat ia mengembuskan napas tadi.

Senja sudah menampakkan diri. Cahayanya yang jingga, mampu meluruhkan segala kesedihan di hati. Gadis itu masih setia di bibir pantai, ia tak beranjak meskipun sedetik. Hingga malam datang menyapa. Gadis itu pun menghilang entah kemana bersama remangnya malam.

  • view 54