Rindu Kampung

Toni Al-Munawwar
Karya Toni Al-Munawwar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Juni 2017
Rindu Kampung

           “Pak, gimana ini sudah mau lebaran tapi kita belum ada uang untuk membeli beras zakat fitrah?” tanya Bu Iyem cemas.

            “Ya, piye yo Bu, tahun ini sepi tidak seperti tahun kemarin. Dagangan Bapak juga belum laku,” sahut Toyo.

            Dua orang suami-istri sedang bingung dan harap-harap cemas. Sebab, Ramadhan akan segera pergi meninggalkan mereka. Tetapi, hingga detik ini, mereka berdua belum kunjung bisa membayar zakat fitrah. Tak seperti tahun lalu, Iyem dan Toyo, selalu membayar zakat fitrah dengan beras dua hari sebelum hari raya. Begitu pun tahun-tahun sebelumnya.

            Toyo, hanya penjual mainan keliling. Setiap pagi, ia haru menjajakan dagangannya, dari satu tempat ke tempat yang lain. Biasanya, selama Ramadhan dagangan lelaki setengah baya ini laku keras. Tapi, tidak dengan Ramadhan tahun ini. Puasa tahun ini sangat sepi, sebab banyak orang yang akan mudik ke kampung halaman masing-masing.

            Tidak seperti sebelumnya, jumlah pemudik tahun ini cukup meningkat. Itu sebabnya dagangannya sepi pembeli. Sebenarnya ia juga ingin pulang kampung seperti yang lain. Tetapi niat itu tak kunjung terwujud. Hidupnya yang serba kekurangan, membuat lelaki ini harus mengubur dalam-dalam keinginan itu.

            “Bisa makan saja sudah alhamdulillah,” ucapnya suatu hari. Sudah hampir dua puluh tahun Toyo tak pulang ke kampung halamannya. Orangtua saban tahun selalu menelepon memintanya untuk segera pulang. Tapi apa daya, hidup di Jakarta begitu beras. Bisa makan saja adalah suatu keberuntungan. Apalagi ia hanya penjual mainan keliling.

            Orangtua Toyo, yang sudah hampir sepuh itu, selalu merindukan sang anak. Di rumah mereka begitu sepi, tak ada seorang anak pun. Sebab, mereka hanya punya satu anak. Yaitu Toyo. Berharap, anaknya bisa memberikan cucu agar suasana bisa sedikit ramai dengan kehadiran sang buah hati pun hanya menjadi mimpi. Toyo dan istrinya hingga kini belum kunjung dikaruiai seorang anak. Semakin bertambahlah kesepian di keluarga itu.

***

            “Bagaimana Pak, jualannya hari ini?” tanya sang istri setibanya ia sampai di rumah.

            “Sama seperti kemarin Bu, sepi,” sahut lelaki itu sambil meletakkan pikulan berisi beraneka mainan.

            “Ya, sudah Pak. Sabar aja, mungkin tahun ini bukan rezeki kita,” Iyem mencoba menyemangati sang suami.

            Lelaki itu hanya diam membisu tak menanggapi lalu berjalan lesu masuk ke dalam rumah.

***

            Setelah membersihkan badan, lelaki setengah baya ini duduk di teras ditemani sang istri menunggu waktu berbuka puasa. Terjadi percakapan kecil antara keduanya.

            “Sekarang puasa ke berapa ya Bu?”

            “Ke 26 Pak, memangnya kenapa?”

            “Sudah bayar zakat fitrah, Bu?”

            “Belum Pak.”

            “Besok, kita bayar ya.”

            “Tapi, kita belum punya uang buat beli berasnya, Pak.”

            Toyo terdiam sejenak, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

            “Begini saja,” lelaki itu diam sejenak, “Kita pakai celengan Bapak saja untuk membayar zakat,” dia melanjutkan.

            “Tapi, uang itu kan buat mudik kita tahun ini Pak,” jawab sang istri.

            “Iya, memang tadinya mau buat mudik. Tetapi, kita punya kewajiban yang lebih penting dari itu. Yaitu bayar zakat. Meskipun kita hidup susah, tapi masih mampu bayar zakat, ya kita harus bayar. Biarlah, uang itu dgunakan untuk berzakat. Mungkin tahun ini belum bisa mudik. Insya Allah, tahun depan Allah mengizinkan kita bedua mudik, Bu.”

            Iyem hanya manggut-manggut mendengarkan ucapan suaminya itu tanda setuju. Toyo lalu masuk ke dalam dan tak talam kemudian keluar membawa sebuah kaleng berisi hasil jerih payahnya selama ini, yang ia tabung agar bisa mudik. Tapi, tampaknya celengan itu haru dirogoh unuk bayar zakat.

            Suami istri itu ikhlas bila uang yang seharunya untuk mudik, mereka gunakan untuk membayar zakat. Karena rezeki itu sudah diatur oleh-Nya. Jadi, mereka tidak merasa khawatir apalagi sedih. Setelah di hitung, ternyata uang itu cukup untuk membeli berasa sebanyak 5 Kg. Akhirnya, Iyem dan Toyo, bisa berzakat tahun ini meskipun batal mudik.

Depok, 26 Juni 2107

  • view 70