RESEP 1: MENCINTAI SKRIPSI

Tohary Flash
Karya Tohary Flash Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 05 September 2016
RESEP 1: MENCINTAI SKRIPSI

RESEP 1: MENCINTAI SKRIPSI

Oleh dr. skripsi

 Istilah ‘skripsi’, untuk sebagian orang cukup ‘menakutkan’. Betapa tidak, tugas mahaakhir mahasiswa ini terbilang susah-susah gampang. Susah? Jelas, bagi mahasiswa yang malas mikir, malas bimbingan, malas ngetik, malas baca, dan aneka malas lainnya, tugas mudah itu jadi rumit. Apalagi dapat dosen pembimbing yang punya julukan ‘killer’, sudah bisa dipastikan, apologi, dalih, alasan, hujjah, dan alibi lainnya kian berderet panjang! Perlu bukti? Adalah ‘mahasiswa abadi’ buktinya, bahwa skripsi itu berwajah garang, sangar, horror, dan ‘susahnya’ minta ampun. Ya, meski ada banyak alasan lain untuk menjadi ‘mahabadi’ itu, tapi peperangan menaklukkan skripsi salah satunya.

Namun tentu, bagi sebagiannya lagi, tugas skripsi itu biasa saja. Semacam makalah mingguan, yang (biasa) ‘dipermak’ dengan metode ATM (Ambil, Tiru, dan Modifikasi). So, skripsi itu urusan gampang! Masih perlu bukti lagi? Tak sedikit mahasiswa strata satu, yang berlari sambil ‘ngunyah’ skripsi hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Eh, waktu yang relatif cepat maksudnya. Tiga tahun kuliahnya, beres! Normalnya sih butuh empat tahun untuk menyabet gelar mertua, eh sarjana itu. Plus dengan perjuangan menumpaskan skripsi!

Lantas, adakah mantra jitu agar skripsi lekas kelar? Jawabannya, ada! Well, mari mulai untuk mencangkul topik kacangan ini.

Pertama, yang harus kamu lakukan adalah ‘mencintai skripsi’. Lha, wajibkah? Wajib banget! Sebagaimana sabda para penyair: “Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga…Syalalala”. “Cintailah skripsimu, maka dia pun akan mencintaimu”. Paham?

Alasannya, jika kamu sudah cinta, maka apapun pasti dilakukan! Mau pahit asam manis rasanya ngerjain skripsi, pasti ditelen! Sebab dengan mencintainya, kamu akan melakukan itu dengan sepenuh hati, seluas jiwa samudera, dan seharum mawar melati. Paham?

Oke. Tips perdana ini jangan dianggap sepele, ya! Lantas, caranya? Sederhana saja. Kamu hanya butuh menuliskan satu topik, ingat hanya satu ya, topik yang betul-betul kamu cintai. Misalnya saya dulu di jurusan ilmu komunikasi. Saya sangat cinta dengan topik ‘Komunikasi Media Sosial’. Tapi, topik media sosial juga masih kebanyakan, terlalu luas. Maka, saya memutuskan untuk meneliti topik yatim piatu: Facebook. Gak salah? Ya jelas tidak. Sebab yang kudu kamu pahami juga, dalam sebuah penelitian itu cakupannya luas. Poin terpentingnya adalah jiwa eksplorasi kamu kudu luas juga. Dengan begitu, topik sekelas Facebook—yang dulu masih kaya alien untuk riset kampus—bisa dicangkul hingga ke akar-akarnya. Sependek ingatan saya, dulu topik Facebook masih belum laku dijadikan bahan riset di Indonesia, khususnya kalangan S1.

Kedua, hakikat menulis adalah membaca. Jadi, kalau ingin menulis, banyak-banyaklah membaca. Dijamin, cespleng mas! Paham?

Wajib kamu tahu, menulis itu ibarat menuangkan air dari dalam teko. Jika teko berisi cukup air, bahkan kalau kata Jupe airnya sampe tumpeh-tumpeh, memungkinkan kamu memiliki banyak bahan. Ya meski tidak menjamin akan langsung ngebut nulis, setidaknya, kalau sudah ada bahan baku, ‘kan mudah merangkai tulisannya. Paham?  

Dalam urusan membaca, pilihlah beberapa contoh skripsi ‘resmi’ yang menurut kamu ‘layak’ dijadikan referensi awal. Memangnya, ada skripsi yang tak layak pakai? Buanyaaaak! Banyak banget! Jadi, pintar-pintarlah dalam memilih jodoh, eh skripsi yang berjodoh dengan calon topik risetmu maksudnya. Berhati-hatilah bila menemukan contoh skripsi yang dollin mudillun, segera tinggalkan! Hem-pas-kan! Jika tidak selektif, kamu bisa saja tersesat. Paham?

Baik. Untuk #Resep1Skripsi ini saya rasa cukup dua langkah dulu. Ingat, cintai dan membacalah. Jika masih ada keluhan, sampaikan! Jangan dipendem, nanti jerawatan lagi! Paham?

 Kunjungi alamat praktik kami ke akun Facebook Tohary Flash.

 

  • view 212