MY JOURNEY IN DIENG : MAU IRIT MALAH KEJEPIT

MY JOURNEY IN DIENG : MAU IRIT MALAH KEJEPIT

Tiyo Subastian
Karya Tiyo Subastian Kategori Wisata
dipublikasikan 03 Agustus 2018
MY JOURNEY IN DIENG : MAU IRIT MALAH KEJEPIT

#Agustus 2016

Waktu itu di tahun 2016 waktu saya sedang Jomblo dan sekarang juga masih begitu sampai batas waktu yang belum bisa di tentukan. Lukman mengajak Saya untuk pergi ke Dieng Culture Festival di bulan Agustus. Karena penasaran saya mencoba menelusuri informasinya lebih banyak lagi. Hal yang membuat saya tertarik pada acara itu adalah Festival lampion, Festival kembang Api, dan penampilan Jazz. 3 poin yang bisa memenuhi kriteria Romantis jika dalam set filem percintaan anak muda zaman now.

“Gimana ?” Tanya Lukman,

“Nggak bisa Luk, nggak dapat Izin Gawe (kerja) !”

SKIP >>

#Desember 2016.

Saya ajak Lukman untuk ke Dieng. Dia mengiyakan dengan catatan harus berangkat dari Cirebon. Setelah di fikir lagi, jika berangkat dari Cirebon akan menghemat biaya juga, nggak usah repot-repot beli bekal, dan saya juga ingin merasakan hawa panas Cirebon ditemani empal gentong atau nasi Jamblang.

Sesampainya di Cirebon harapan terpenuhi, Nasi Jamblang dan empal gentong memang makanan yang harus cicipi jika datang ke Cirebon. Saya juga belajar bahasa Cirebon dan mencoba seperti mereka yang saat berbicara maka akhir katanya ditambah kata “jeh”.  

Pagi hari sekali, kami berangkat menuju Wonosobo naik Bis, tidak naik kereta karena rencana untuk pergi ke Dieng ini dadakan, sementara memesan tiket saat libur sama saja melubangi dompet.

Naik Bis lah kami dari Cirebon menuju Purwokerto, dari purwokerto menuju Wonosobo dan dari Wonosobo naik Elf ke dataran tinggi Dieng.

Udara sudah mulai terasa dingin, sedingin dia yang kalo saya chat panjang dia cuman balas Oh…

Sampai Dieng jam setengah enam. Kita cari penginapan yang murah tapi nggak dapet-dapet.  Dipanggillah kami berdua oleh seruan adzan magrib dan segeralah kami solat lalu berdoa untuk diberikan kemudahan.

“Gimana ?” tanya saya

“Tenang, kalo nggak dapet juga ya tidur di mesjid bae !” kata Lukman

“Dingin banget jeh!” Jawab saya

“Yaudah, ngopi aja dlu, disebelah sana ada tempat kopi sekalian kita cari makan”.

“cari jodoh juga”

“Kumaha maneh we” kta Lukman lalu pergi

Saat perjalanan untuk mencari kehangatan, kita akhirnya bertemu dengan penginapan “100k” bagi 2 ? gocap-gocap deh …

Kemudahan kedua Allah berikan pada kami lewat penjaga penginapan yang menawarkan sewa motor. Jadi kita nggak usah susah-susah cari penyewaan, katanya yang punya motornya akan datang ke penginapan pukul 08.00 waktu indonesia bagian barat.

Kami melanjutkan pencarian kehangatan yang terhenti tadi.

Hari sudah mulai gelap, setelah solat Isya kami foto-foto di tulisan Dieng. Kenapa coba tulisan I nya berwarna biru? Ya nggak tau. Yang jelas saat huruf NG hilang maka akan menjadi Die yang artinya Mati.

“Mumpung kosong, foto yang banyak !” kata saya pada Lukman dan kita saling bergantian. Tidak lama kemudian segerombolan orang-orang datang untuk ikut foto-foto juga disana, salah seorang dari mereka mendatangi saya dan berbicara dengan bahasa Jawa. Awalnya saya mendengarkan seolah saya paham dengan apa yang dikatakan, saat dia berhenti dari bicaranya saya menengok kebelakang dan memanggil Lukman. “Sini ! bantuin translate” masalah teratasi dan kamipun melanjutkan pencarian kehangatan yang lagi-lagi terjeda oleh satu dan lainnya.

“mau pesan apa mas?” tanya Mas-masnya saat saya pegang menu.

sesuai dengan rekomendasi google dengan keyword "makanan khas dieng yang cocok dimakan oleh jomblo" maka saya memilih mie ongklok. 

sementara itu Lukman makan Nasi goreng.

Kamu bisa lihat bagaimana penampakan nasi ongklok yang pada kenyataannya tidak lebih enak dari Indomie. Bikin tenggorokan seret dan pengen banget rasanya malem itu pesen nasi goreng aja.

Ditempat tersebut kami bertemu dengan ibu-ibu yang mengajak kami ngobrol, mereka sudah ada di Dieng sejak kemarin, kamipun bertanya padanya banyak hal sampai kami rasa cukup untuk mengakhiri obrolan karena sudah di tunggu di penginapan oleh orang.

Di penginapan, hal seru terjadi antara Lukman dan tukang sewa motor. Karena kata dia sekarang lagi waktu libur jadi harganya mahal, tapi kami kokoh dengan pendirian “ayolah mas, uang kita cuman ada segini buat motor!”

Deal ! 150k motor berhasil kami dapatkan dengan bensin yang full. Kami bisa pakai untuk keliling.

Pukul 4 pagi kami sudah berangkat dari penginapan ke Sikunir. Melihat sunrise.

Di atas sana, kami menunggu sang mentari dalam keadaan menggigil. Dan diluar ekspektasi ternyata banyak banget yang datang berlibur ke Dieng.

Dan ketika penantian itu tiba, saat semua indra mulai merasakan keindahan dan kenikmatan yang diberikan oleh sang pencipta, maka lisan pun berucap “maka nikmat mana lagi yang kau dustakan wahai Tiyo Subastian?” come on ! take and deep breath and say Masyaallah.

Saya jadi ingat pepatah “belum jalan-jalan kalo belum foto-foto” maka dari itu saya minta Lukman untuk foto saya. Lalu gantian. Setelah itu kita sibuk dengan diri masing-masing yang sedang merasa takjud dan tidak ingin melewatkan keindahan yang ada di depan pandangan. Bahkan saya sampai lupa kalau beberapa menit yang lalu sempat kedinginan, saya juga sampai lupa bahwa saya ternyata belum punya jodoh. Maka kesimpulannya, agar tidak memikirkan jodoh “TRAVELING LAH ! ”

Setelah dari sini, kami pergi ke kawah Sikidang, Seingat saya, kita diharuskan untuk membayar retribusi 15. Itu sudah termasuk tiket masuk ke Candi juga.

Disini banyak spot foto yang ngeharusin kamu bayar, foto di tulisan ini bayar, foto di bunga yang ini bayar, bunga yang itu bayar juga, di foto di Jeep bayar, maen flying fox bayar, naek ATV bayar, naek motor trail juga bayar. Haha serba bayar. Kalo kami setelah selesai foto bilang aduh nggak ada receh lalu pergi. Nggak akan dimarahi kok. Konsep harap maklum adalah hal yang harus di pakai saat seperti ini. Karena setiap ketidak tahuan kita kadang akan membuat orang memaklum.

Selanjutkanya foto dari atas, biar keliatan tirus. Destinasi selanjutnya yaitu batu ratapan angin. Tidak perlu masuk ke destinasi Talaga Warna, cukup lihat dari atas batu ratapan angin maka pemandangan indahpun bisa kita dapatkan.

Tadinya saya diajak Lukman untuk masuk ke Dieng Theater, tapi ngebosenin banget kayaknya cuman nonton-nonton doang, di youtobe juga ada kalo cuman video vulkanologi.

Akhirnya kita juga pergi mengunjungi Candi.

hari sudah mulai panas, setelah berkeliling cukup lama, kami lanjutkan untuk mengunjungi kawah Candra Dimuka yang waktu itu akses jalannya jelek banget. Jalan menanjak dan bebatuan. Bahkan ada yang sampai mogok kendaraannya. Kasian. Oh ya sebelum itu kami juga sempat mampir ke Sumur Jalatunda. Sumur ini terbentuk akibat adanya fenomena geologi. Diameternya 90 meter. Untuk menuju Sumur Jalatunda kita harus naik 257 buah anak tangga. Nah loh ! cape kan .. coba deh itung lagi bener nggak sih 257 ?

dan lucunya di tempat ini ada yang jual batu, katanya batu itu dilempar jika sampai ke ujungnya maka apa yang dicitakan terwujudu BULSHIT ! HAHA MUSRIK ! tapi batunya masih banyak kasian. Lain kali jadi tukang parkir aja biar dapat banyak. Saya nyobain aja tuh ya lempar batu untuk membuktikan bahwa tidak ada hal mistis disini, bahwa apa yang saya lempar hanya batu yang akan jatuh kebawah karena pengaruh gravitasi. Lalu tentu saja untuk menunjukan pada Lukman bahwa saya adalah lelaki perkasa yang memiliki kemampuan melempar seperti  Adam Volker, siapa itu ? Pitcher asal australia.

Tidak banyak yang kami kunjungi di Dieng, karena hujanpun turun dengan deras. Setelah membali oleh-oleh khas yaitu rica-rica. Kami memutuskan untuk pulang.

Segera berbenah dan kembali menuju Bandung.

Sampai terminal wonosobo kami memesan tiket bis menuju Jakarta. Tapi kami tidak pergi kejakarta. Kata Lukman dengan naik bis ini nanti kta bisa turun di gerbang tol Plumbon lalu naik angkot dan sampailah di rumah Lukman. Baru keesokan harinya ke Bandung lagi naik motor.

Dalam perjalan pulang kami berhenti disalah satu pemberhentian Bis. Supir dan kondektur makan, penumpang yang lain juga sama. Kami solat ke mesjid. Lalu kami kembali lagi. Didapati si kondektur dan supir masih minum kopi. Kamipun izin pada mereka untuk membeli pecel. Nggak tau kenapa pada waktu itu saya males banget pergi ketika diajak untuk cari makan karena lokasi tempat pecel membuat kita nantinya tidak bisa melihat kepergian Bus karena terhalang oleh bangunan.

“tenang, kita kan sudah izin, dan sebelum berangkat kondektur pasti hitung dulu jumlah penumpang”

Setelah pecel kami dapatkan, kami kembali.

Namun saat kami kembali. Seperti dalam mimpi saja ! karena Bis yang kita tumpangi sudah tidak ada, pos pemeriksaan Bispun sudah tutup dan warung-warungpun tutup. Astagfirullah… Lukman seakan tidak percaya, kami berdua panik. Saya harap waktu itu adalah mimpi.

Kok bisa yah kita di tinggal, tadikan kita sudah izin, lagipula orang yang duduk di samping kita pasti sadar kalo kita belum masuk.

Tas dan peralatan kami semua ada di Bus. Hanya Handphone dan dompet saja yang kami bawa. Itupun keduanya dalam keadaan yang tragis. Lukman Low bat dan saya juga demikian.

Ada dua orang lelaki berpakaian kaos polos hitam, gondrong dan satunya lagi berkupluk. Mereka berdua sedang duduk sambil ngerokok dan ngopi . Kalo kamu melihat mereka pada waktu itu pasti akan berfikir bahwa mereka adalah preman. Toko-toko sudah pada tutup, kami tidak tahu ada di daerah mana dan pilihan kami hanya bertanya pada dua lelaki menyeramkan tersebut..

“Maaf mas, bis yang tadi parkir disini sudah lama perginya?” tanya Lukman

“Sudah, memang kenapa ?” kata si Gondrong yang kemudian berbicara panjang sepanjang rambutnya yang lurus dan berkilauan.

“ketinggalan bis ya?”

“Iya”

“Kok bisa?” tanya dia lagi

“Tadi kami beli makan, padahal sudah izin untuk beli pecel disana” kata saya nunjuk

“Goblok !” kata si Gondrong yang tiba-tiba saja kesal. Kami kaget, untung pecel lele yang kami bawa tidak langsung kami lempar karena kaget

“Penumpang nyampe ketinggalan, kamu apal nggak plat nomernya ?”

Kami berdua geleng-geleng,

Si kupluk angkat bicara. “Sudahdeh sekarang kita hubungi aja agen Bis nya untuk minta kontak supir bis yang terakhir berangkat”

Lukman dimintai sikupluk untuk membeli Pulsa. Tapi nggak di angkat. Berangkatlah sikupuluk bersama Lukman ketempat agen Bis tadi untuk meminta kontak supir.

Saya menunggu bersama si gonrong yang dari tadi mengibas-ngibas rambutnya seperti bintang shampo.

“abis keremas ya?” gumam saya

“Apa de?”

“oh engga mas, itu kopinya takut dingin”

“oh ia” gluk … gluk

“Heran saya,  penumpang bisa sampai ketinggalan. Nggak mikir tuh supir, Goblok ! gimana coba kalo anaknya kaya gini” kata dia  

Saya diam, nggak ngomong apa-apa sebelum dia tanya

“Dari mana?” kata si Gondrong

 “Dieng”

“Liburan apa kerja?”

“Liburan”

“Rumah di Jakarta ?”

“Bukan”

“Loh, dimana ?”

“Sukabumi”

“tapi ke Jakarta dulu ?”

“Bukan, tapi ke Cirebon”

“Loh, kamu kan naik Bis Jakarta”

“Ya, nanti turun di gerbang tol Plumbon”

“setelah dari cirebon baru ke Sukabumi gitu ?”

“Ke Bandung”

“Loh, kok Ke Bandung?”

 “ngambil motor di kosan temen”

“jadi sekarang mau ke Cirebon, kerumah temenmu yang tadi?”

“Iya”

Tak lama setelah itu, Lukman datang bersama si Kupluk. Dia mengatakan bahwa supir akan menunggu di terminal paling dekat.

Waktu itu saya lupa nama terminalnya yang pasti dari jarak kami berada sampai ke terminal sekitar 15. Tapi kata mereka sih jauh.

Sebelum kami diantar ke terminal itu, si Kupluk dan si Gondrong mengatakan bahwa mereka bersedia mengantar jika diberi 100k. Lukman menolak, malam semakin larut. Sudah pukul 10 dan kami tidak tahu ada dimana. Sampai pada akhirnya saya sampai membentak kawan saya sendiri untuk bilang “sudah lah! Kita turuti aja. Supir pasti sudah nggak mau nunggu. Mereka bilang jaraknya jauh, mereka lebih tahu” Lukmanpun diam, saya berikan mereka 100k dan kami segera berangkat mengejar Bis.

Saya dengan si Gondrong dan Lukman dengan sikupluk.

Dibawah remang lampu jalan, rambut sindorong menusuk – nusuk ke wajah saya.

“Mas nggak bawa helm ?”

“Nggak usah, nggak akan ada Polisi, lagian nggak akan ada yang mau nilang”

wess … preman gituloh, masalahnya bukan safety riding, tapi semua hanya untuk kenyaman penumpang yang tertetusuk-tusuk rabut gondrong yang baunya udah kaya bulu ketek.

“Mas nanti uang dari saya, beliin bensin, beli makanan buat keluarga, yang terakhir bli shampo ya, jangan shampo kucing” kata saya dalam hati karena tak berani ungkapkan sebab takut dimutilasi di jalan yang sepi itu. Saya mencoba menjadi penumpang paling sabar yang pernah hidup di muka bumi.

Karena si Kupluk lebih dulu dari kami, saya fikir si Gondrong tau tempat yang kita tuju.

Di jalan dia kembali menggerutu “dimana ya teman saya itu, sialan malah ninggalin. Terminal mana ya ~ coba telepon teman kamu”

“hape saya mati”

“Yah .. Gawat ini”

Lampu merah menyala, kami benar-benar kehilangan jejak si Lukman dan Sikupluk.

“Kamu beneran nggak ingat plat nomernya ?”

“nggak, nomer telpon sendiri aja saya sering lupa”

“waduh ! jangan-jangan yang itu !” dikejarlah salah satu Bus di depan kami sampai pada akhirnya saya melihat Lukman.

“Bang kesebelah sana!”

Cekitttt !!!! dia mengerem dan segera merubah haluan, untung saja motor dibelakang kami tidak menabrak. Jangan ngambek, preman mah bebas. Ngeng !! kami sampai disebuah terminal yang disana sudah ada kondektur yang menyambut kami dengan Haha Haha.. supir yang menggerutu karena harus menunggu.

Disepanjang jalan, si kondektur meminta kami untuk bercerita. Lukman berbicara dengan konderktur sementara saya melihat penumpang yang duduk bangku samping kami. Manyadari bahwa saya memperhatikannya diapun memalingkan badan.

Kok ada yah, orang yang seperti itu. Saat kepedulian pada sesama hilang, baginya bahwa melakukan sesuatu yang tidak ada untungnya bagi dia adalah hal yang sia-sia. Dia belum tahu bahwa sedikit kebaikan yang dilakukannya meski tidak tampak baginya manfaat tapi Allah berikan balasan kebaikan juga. Ingatlah bunyi surah al zalzalah Allah berfirman bahwa siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, ia akan melihat balasannya.

Jika dihari itu dia mengatakan bahwa masih ada kami yang belum naik bis, maka sungguh itu lebih baik dari pada mencoba untuk tidak perduli. Lihat sendirilah akibatnya. Waktunyapun terbuang karena harus menunggu kami.

Saya harap tidak ada orang yang seperti itu didunia.

Setelah kejadian itu, jangankan mau makan pecel lele, rasanya pengen tidur aja. Tapi ternyata nggak bisa. Disepanjang perjalanan saya dengar supir masih membahas tentang kami yang ketinggalan Bus itu. Ya .. sepertinya kami yang harus merasa salah karena telah merepotkan mereka, telah membuat waktu mereka menjadi terbuang karena menunggu kami. Saya jadi nggak enak dan waktu itu saya malah ingin buang air kecil. Saya ingin bilang pda supir untuk berhenti lah sebentar, saya ingin buang air kecil tapi nggak enak. Akhirnya dengan kekuatan Doa semuanya pun terjadi. Ketika sudah tidak kuat menahan dan berusaha ingin buang air kecil di botol tapi nggak jadi, supir menepikan mobilnya. Katanya Ban depan mereka kurang angin. Saat kesempatan itu datang maka sayapun bisa lega bisa buang air kecil di tempat tambalban.

Malam pengejaran itu menjadi moment tak terlupakan

menjadi momen kesialan yang paling mendebarkan selama hidup saya.

Jangan lupa follow Ig : tiyo_subastian ya dan saya rasa cukup sampai disini

Terimakasih telah membaca.

Kamu harus tahu bahwa manfaat dari traveling bersama teman itu semakin mempererat persahabatan. :D

oh ya... lucunya setelah pulang dari Dieng karena saya yang nggak bilang-bilang, Om saya ngomel, katanya "kenapa nggak bilang kalo ke Dieng, Om punya banyak saudara di sana. tiket tempat wisatapun gratis. oalah..

27 Desember 2016

 

  • view 73