PEREMPUAN

pratiwi prawito
Karya pratiwi prawito Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Oktober 2016
PEREMPUAN

Perempuan dengan segala kegalauannya

 

Dua  kata yang menggambarkan perempuan, yaitu rentan galau...

Termasuk aku yang sering di cap sebagai cuek, juga sering mengalami sindrom kegalauan....

Sebagai perempuan yang hidup di abad ke-21, abad di mana perempuan sudah bebas mengaktualisasikan dirinya di wilayah publik setara dengan pria. Berkat Kartini dan para pejuang perempuan lainnya, kini perempuan sudah dapat memperoleh hak yang sama dengan pria di wilayah publik, termasuk hak untuk mengaktualisasikan dirinya di masyarakat alias bekerja. Dengan memperoleh hak yang sama dengan pria, tak lantas membuat perempuan bersuka ria, karena perempuan dapat berekspresi di wilayah publik dengan berbagai persyaratan. Kewajiban perempuan sejatinya hanya bertugas di wilayah domestik (rumah) dan mengaktualisasikan diri adalah sunah dengan syarat tugas di wilayah domestik dapat teratasi.

Menjadi perempuan ideal adalah impian semua perempuan, walaupun ukuran ideal tiap perempuan berbeda. Contohnya aku, ukuran ideal menjadi seorang perempuan adalah bisa berkarir dengan profesional dan mengurus keluarga dengan baik. Dua hal itu menjadi permasalahan yang aku pikirkan (walaupun saat ini belum mendapat pekerjaan yang oke menurutku) sejak aku lulus sidang skripsi. Merealisasikan dua impian dalam satu waktu merupakan bukan hal yang mustahil walaupun agak sulit, di salah satu sisi sebagai perempuan aku harus mengetahui kodrat sebagai perempuan di wilayah domestik terlebih lagi jika sudah memiliki anak dan di salah satu sisi harus profesional dengan pekerjaan. Walaupun saat ini aku belum nikah, kedua hal tersebut sudah terpikirkan untuk menentukan langkah yang bijak (perkara siapa yang jadi suami, urusan belakangan). Aku dilahirkan dari seorang perempuan pekerja, walaupun ibuku perempuan pekerja beliau melaksanakan tugas sebagai ibu dengan baik, walaupun tidak seperti ibu yang di tidak bekerja. Sehingga, aku memikirkan baik-baik pekerjaan apa yang aku inginkan. Halah, ini mah curcol. Ya fokus tulisan ini kegalauan perempuan yang memilih berkarir.

Dimana letak kegalauannya.

 

Nih, letak kegalauan perempuan yang ingin berkarir, tetapi ingin bekerja juga...

 

Pertama, jika perempuan memilih bekerja, berarti memiliki dua pijakan yang harus dikerjakan dengan baik. Pijakan per tama berada di wilayah domestik, sehebat dan sesibuk apapun perempuan di wilayah publik, pekerjaan domestik tak bisa dihindari. Pijakan kedua berada di wilayah publik, bagaimana caranya tetap profesional di tengah permasalahan di wilayah domestik, misalnya, anak sakit, suami sakit, atau anak sedang sakit. Nah, sebagai perempuan yang memilih berkarir harus bisa menyeimbangkan ini.

Kedua, dua jenis pijakan itu ga bisa dipisahain kalau kita memilih bekerja. Sehingga, sebagai perempuan kita dituntut memiliki dua kepribadian (sikap) dalam satu waktu. Perempuan dituntut untuk lembut dan tegas dalam satu waktu. Maksudnya, kita harus tetap lembut dan penuh kasih sayang dalam menghadapi masalah yang terdapat di wilayah domestik, tetapi tegas dalam menghadapi masalah yang di wilayah publik untuk menunjukkan sikap profesional.

Ketiga, perempuan memilih bekerja tidak melulu soal uang. Terkadang perempuan yang bekerja karena faktor kewarasan karena pekerjaan domestik yang terlalu monoton terkadang membuat jenuhhhh...

 

Terinspirasi dari mak-mak pekerja dan mak-mak muda yang baru nikah..

 

  • view 181