manusia-manusia di gerbong kereta

titin titan
Karya titin titan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Mei 2016
manusia-manusia di gerbong kereta

ijinkan lelahmu pulang, biarkan ia bersandar tenang.

sekilas, senyum sabit nampak di raut wajahmu yang mulai letih. aku tahu, mungkin kau bosan dengan antrian dan pengap gerbong akibat berdesakan. meski petugas peron yang awalnya galak kini berubah sedikit lebih ramah karena kau menjadi pelanggan setianya. selembar peta usang masih tergenggam erat di tangan. entah berapa stasiun telah kau singgahi, entah berapa puluh mentari jingga kau abadikan melalui mata kamera.

hingga akhir bulan ke lima ini sudahkah kau pijak tanah tujuan? meninggalkan bau karat besi tua gerbong kereta, menanggalkan rindu pada senja beraroma jingga. sudahkah kau cium takzim tangan ibu, memandang gemintang matanya yang berjatuhan doa-doa, meneguk bergalon-galon sabar yang mengucur deras di sela jemarinya yang mulai kisut?

kau dan ratusan senja merona, ibu dengan sekeranjang doa yang (masih) sama.

belum banyak yang berubah setelah beribu peristiwa teralami di sini, bersama ribuan penumpang yang sama. mungkin. masih ada sepasang kakek dan nenek yang erat bergandengan. jalannya makin tertatih, tapi senyum cerah takpernah lepas dari wajah. masih ada tangis bayi di gendongan, matanya mengerjap jenaka, celotehannya membuat GR orang di sekitarnya. dia sudah bertumbuh, bahkan bisa berlarian merepotkan ayah ibunya. ah ya, ransel lusuh berdebu, setumpuk tiket perjalanan, kamera untuk mengabadikan keindahan serta jeans belel itu juga masih sama.

“tak penting perubahan pada penampilan bukan?” matamu taklepas dari gerbong yang baru saja pergi.

“tapi semua makin lusuh, tergerus air, udara, debu dan juga sikat cucianmu,” aku setengah bercanda.

“sudahlah, baju-baju, ransel dan setumpuk tiket serta peta usang ini taklebih penting dari hati baru yang lahir setiap senja dan harapan akan bertemu malam yang menyediakan selembar sajadah sebagai tadah tangisan, bukan?” wajah datarmu membuat mulutku terkunci.

iya, semua menjadi takpenting dibanding hati baru setiap waktu. yang jelas, kau juga tahu persis, “sejauh apapun tatap mata, ia punya batas cakrawala. namun selirih apapun doa ia akan bermuara pada pengabulan-Nya.”

 

 

 

  • view 122