Mungkin aku Rumit, karena aku Mencintaimu

Titik Handayani Bawadi
Karya Titik Handayani Bawadi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2016
Mungkin aku Rumit, karena aku Mencintaimu

Aku ingat bait-bait puisi Sapardi tentang Aku mencintaimu dengan cara yang sederhana, tapi bagiku rasanya mencintai tidak bisa sesederhana itu, apalagi mencintainya…, seseorang yang hanya aku kenal 3 minggu lewat taaruf, lalu aku putuskan menerima lamarannya dan menikah dengannya. Sebagian orang bingung dengan keputusanku menikah dengan waktu secepat itu, tapi aku tak punya alasan untuk menolak laki-laki ini. Pertama, ia datang lebih dahulu ke Ayahku meminta izin sebelum taaruf denganku, kedua ia adalah laki-laki yang selalu kujumpai sedang sholat dimesjid, ketiga ia adalah laki-laki yang suka mengantar ibunya ke pasar, atau menemani ibunya pergi. 


Aku tak banyak mencari tau tentangnya, selain bertanya kepada kakak iparnya yang perempuan, sosial media, ia hanya punya what’s app saja. Dengan gambar foto profil alat listrik, entahlah aku hanya bisa meminta yang terbaik kepada Allah, aku beristikharah, dan Allah memberiku keyakinan untuk menggenapkan setengah dinnku bersamanya. Kami menikah tanggal 30 Juli 2016.


Setelah menikah…., hidupku banyak sekali berubah, dan tentunya karena taaruf yang sebenarnya benar-benar dimulai setelah menikah, aku harus cepat beradaptasi dengan keadaan dan situasi yang baru, dengan status baru sebagai seorang “Istri”, dengan amanah dan tanggung jawab baru, aku berharap dia bisa menjadi suami yang baik, bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku kelak, bisa sehidup dan sesurga, meski aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepan, dan siapa yang dipanggil Allah lebih dahulu.


Menikah, bukan perkara mudah, karena ini adalah Ibadah seumur hidup, menikahi seseorang bukan berarti kita menerima segala kebaikan yang ada pada diri seseorang, tetapi juga menerima segala kekurangan dan melengkapi satu dengan lainnya. Aku mendapati keduanya ada padaku juga pada suamiku, namun aku berusaha untuk belajar memperbaiki semuanya bersama-sama, membagi segala kesedihan dan kebahagian, memperbanyak kesabaran, mempertinggi batas toleransi, dan membuka hati yang lapang untuk menerima dan memaafkan segala kesalahan. 


Mungkin baru dalam hitungan bulan aku menikah, tapi izinkan aku membagi hal-hal baik dari suamiku,ini adalah hal yang indah dan sederhana dan bisa dicontoh dalam keluargaku,  semoga ini bisa menjadi ladang pahala, bagi siapa saja yang akan menggenapkan setengah dinnya, atau bagi pasangan-pasangan lainnya yang sudah menjadi suami istri.


Pertama, ini tentang amal ibadah, kita tak pernah tau amal ibadah seseorang, sebanyak apa, atau sekhusyu apa, selain Allah dan malaikat yang mencatatnya, dari sekian banyak amal ibadah yang aku lihat, salah satu yang Istiqomah dilakukan oleh suamiku adalah bersedekah setiap pagi, ini hal yang tak pernah akulakukan sebelumnya, aku bersedekah hanya ketika ke mesjid saja. Ia menyuruhku bersedekah setiap pagi, uangnya bisa untuk membantu siapa saja yang membutuhkan, memberikan kepada tukang angkut sampah, satpam dikomplek rumah yang menjaga rumah-rumah, atau untuk tetangga yang membutuhkan, ia bilang jika sedekah bisa jadi penolak bala, itulah yang aku baca dihadist.


Kedua, suamiku bukan laki-laki yang romantis, dia tidak akan memanggilku dengan kata-kata romantis, satu dua kali pernah manggil say atau beb, tapi Cuma bercanda, dia orang yang cuek, dan jarang menunjukkan perhatian, apalagi didepan keluargaku atau ditempat umum, tapi setiap selesai sholat, sehabis aku cium tangannya, dia selalu mencium keningku cukup lama, karena dia mendoakan kebaikan untukku  meski aku tidak tau doa apa yang suka ia baca setiap kali ia mencium kening  entahlah… ini seperti mantra ajaib, aku  selalu merasa dalam perlindungan Allah setiap kali pergi keluar rumah. Dan tentunya rasa sayang kepadanya yang semakin bertambah.

Ketiga, selain tidak romantis, suamiku adalah orang yang cuek, tapi dibalik ke cuekannya, siapa yang sangka jika ia bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga dengan begitu rapih, sebagai perempuan sepertinya aku harus banyak belajar darinya, masalah dapur sepertinya sederhana untuk kaum hawa, tidak untuk kaum adam, tapi dari suami aku belajar, bahwa dapur dan urusan rumah tangga bukan semata-mata kewajiban dan tanggung jawab istri, ia berfikir jika suatu saat istrinya sakit ia harus bisa menghandle segalanya, hal-hal sederhana seperti memasak nasi, atau mencuci baju. Ia ingin jika anak-anakku kelak bisa hidup mandiri dan tidak banyak bergantung dengan orang lain. Hal paling sederhana adalah mencuci piring setelah selesai makan atau setelah selesai memasak, jangan tinggalkan rumah dalam keadaan kotor, kecuali benar-benar mepet dan harus pergi sesegara mungkin.


Itu mungkin hanya sebagian hal-hal kecil yang aku rasakan satu bulan ini, tapi bagi aku ini menjadi sesuatu yang berharga, dan bisa menjadi bekal dalam menjalani rumah tangga, siapa pun ingin mendambakan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah, bisa sehidup dan sesurga, namun itu semua harus dibangun bersama-sama, tidak bisa sendiri, makanya Rasul menyuruh kita untuk menyempurnakan setengah agama kita dengan menikah. Pesan terakhir, jangan ingat pepatah yang bilang “Rumput tetangga selalu lebih Hijau dari rumput dihalaman sendiri”, yang lebih penting adalah kita menjaga dan merawat rumput-rumput dihalaman kita sendiri, agar selalu Hijau, dan terawat Indah.


Selamat berjuang…., semoga pintu surga terbuka untukmu, suamimu, dan keluargamu nanti, aamiin


Bandung, 9 September

  • view 307