Titik

Tika Primandari
Karya Tika Primandari Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 Juni 2016
Titik

 

“Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada”
-GM, Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

***
Malam itu kau duduk di ujung tempat tidur, wajahmu samar terlihat, tertutup air  yang tumpah ruah dari mataku.
“Kita terlalu sering berpisah, aku lelah harus melewati ini lagi,” katamu.
“Kalau begitu mari jadikan ini yang terakhir,” aku bersuara.

Kau menatapku dengan mata yang sudah kupandang bertahun-tahun.  Ada masa di mana mata itu membuat hatiku melonjak, atau gundah karena absen melihatnya terlalu lama. Kini, yang kurasakan hanya rasa sakit tepat di ulu hati.
“Kita selalu punya cara untuk saling menemukan,” kau berkata.
“Berarti kita harus berhenti saling mencari,” ujarku.
Mendadak,  sesak memenuhi dada.

Kau menatap langit-langit, memandang cicak yang lalu lalang, rokok di tanganmu kau biarkan hingga abunya memanjang.
Kupikir kita sama-sama tahu hari esok bukan untuk kita.
Kurasa hatimu juga hatiku sadar bahwa ini waktunya untuk saling melepaskan.
Kita berdua pasti paham jika malam ini kita putuskan untuk tetap berjalan bersama, bukan karena kita saling menemukan tapi karena enggan didera sepi. Takut sepi kurasa bukan alasan bagus untuk terus bersama.
“Apa yang salah dengan kita?”
“Tak ada. Kita hanya lebih sayang diri sendiri dan itu bukan kesalahan,”

Lima tahun bukan  waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan, meskipun aku sadar belum mengenalmu hingga dalam tulang. Kukira aku selalu menemukan hal baru darimu setiap hari, tak akan ada habisnya.
Ratusan hari penuh cerita, tawa, dan air mata telah kita lewati. Kau adalah sahabat paling karib dan rival paling menantang. Aku terlalu biasa berbagi denganmu.

Kita tidak satu frekuensi, kita tahu sejak mula. Berkali-kali kita memilih jeda untuk meyakinkan hati bahwa kita tak seharusnya bersama. Berkali-kali kita mencari pengganti, namun berkali-kali juga aku tahu bahwa di suatu waktu aku akan menemukanmu lagi di ujung jalan. Kau selalu kembali, aku selalu kembali.
Tapi di malam itu kita memantapkan hati untuk berhenti. Aku tak akan menanti dan kau tak akan datang lagi. Titik.

Aku yakin kita akan bahagia hanya dengan mengenang, tak perlu dijalani bersama.
Kita tidak akan apa-apa.
Kita akan baik-baik saja.

***

-tikaprimandari
Cawang, 20 Februari 2016

  • view 64