[Rant] Dunia Maya dan Demo Damai

Kartika putri
Karya Kartika putri Kategori Renungan
dipublikasikan 05 November 2016
[Rant] Dunia Maya dan Demo Damai

Siapa lah saya ini, berani-beraninya berkomentar tentang demonstrasi damai yang akhirnya tidak saya ikuti langsung di lapangan. Bahkan latar pendidikan hukum atau politik pun tak ada. Dunia maya memang seringkali membuat orang merasa sah-sah saja menjadi pakar akan suatu hal yang baru dibacanya 15 - 20 menit sebelum berkomentar. Namun tetap saja bukan pembenaran bagi saya untuk berkomentar seolah saya tahu segalanya. Saya menulis bukan karena saya merasa tahu segalanya atau berhak memberitahu apa yang seharusnya dilakukan siapa. Silakan pembaca menilai apakah tulisan ini sebaiknya disebut komentar, racauan, curahan kecemasan saya yang biasa timbul - tenggelam, atau kombinasi dari ketiganya.

Bagaimana rasanya membuka media sosial pertemanan di Indonesia pada 4 November 2016?

Triggered.

Terutama bagi yang rentan terjangkit social (media) anxiety. Scroll down linimasa sesenti saja, sudah berisi pro dan kontra topik yang sama secara berurutan. Sesenti lagi adalah pernyataan telah unfriend orang yang pro atau kontra terhadapan topik tersebut.

Awal tahun lalu, perdebatan yang dapat cukup “tearing the nation apart”(setidaknya di media sosial Indonesia) hampir di semua lapisan latar belakang (politik / usia / profesi / tingkat pendidikan) adalah “The Dress : apakah gaun ini bewarna biru-hitam atau putih-emas?”. That simple. Isu ini yang menyatukan anak TK sampai dengan S3 dalam diskusi yang sama.

Indonesia tahun ini? Things escalated quickly. Isu ini yang benar-benar “tearing this nation apart” dan menjadi perhatian semua kalangan dari latar belakang. Tanggal 3 November, saya dapat kiriman video berisi pidato sekelompok murid TK yang meminta agar pihak keamanan ikut menjaga keselamatan orangtua / anggota keluarga mereka yang akan menyuarakan aspirasi dalam “Demo Damai 4/11” ini. Saya pun dapat ajakan berpartisipasi ikut aksi di lapangan. Sedangkan beberapa hari sebelumnya, saya menyaksikan dua teman saya terjebak dalam “ diskusi ” panas tanpa ujung tentang perlu atau tidaknya aksi tersebut.

Jika saya mencoba merunut ke akar permasalahan yang menyebabkan demontrasi ini terjadi, pastinya saya akan terdengar seperti komentator awam yang mencoba menjadi pakar. Namun, jika saya harus sok menganalisis seolah saya berilmu, saya akan menulis :

“Ada pihak yang merasa tersakiti. Saya, pribadi, punya pendapat ‘receh’ mengenai sakit - tersakiti. Bayangkan kejadian ini tanpa konteks apa pun ; tanpa sedang bercanda ataupun berkelahi. Suatu hari, A menampar B. B (tertampar) berteriak kesakitan dan A (penampar) mengatakan “mana mungkin, begitu saja sakit..”. Pertanyaannya, yang merasakan sakit atau tidak , si tertampar atau si penampar? Untuk lebih pastinya, tentu sebaiknya pergi ke dokter yang akan memeriksa bukti atau tingkat kesakitan dengan ilmu yang dipelajarinya. Untuk memasukkan siapa A, siapa B dan siapa dokternya, kembali ke pemahaman masing-masing pembaca.“

Toh nyatanya saya bukan orang berilmu. Jadi, saya merasa tidak punya kapasitas untuk menghakimi siapa pun dengan satu paragraf di atas.

Yang jelas, ada satu hal yang sama-sama diketahui oleh awam & pakar ; saling menyatakan pendapat adalah hak setiap orang. Seperti apa cara & hukumnya, (mungkin) idealnya, lebih diketahui yang lebih memiliki ilmu & pengalaman.

Menyinggung kata "damai”, media yang saya lihat pun memberitakan bahwa aksi damai memang terjadi setidaknya dari pagi hingga sore. Memang masuk akal ; menyampaikan pendapat memang tidak harus lewat kericuhan. Mengetahui ini sore itu, kecemasan saya berkurang. Pasalnya, sejak awal mendengar massa demonstran yang ikut akan sangat banyak (bahkan dari luar pulau Jawa), saya sangat menyangsikan orang-orang yang yakin tidak akan ada provokasi. Jika saya orang jahat , (tak usahlah provokator, copet saja) dengan massa sebanyak itu, saya akan memanfaatkan kesempatan.

Sayangnya kata “damai” dirusak selepas sore hari. Suami teman ibu saya sempat ke rumah sakit karena menjadi salah satu korban gas air mata. Sementara di sisi lain, tante saya (dan kami sekeluarga) sempat khawatir dengan anaknya, sepupu saya, yang pada saat mulai kericuhan sedang bertugas menjaga keamanan di sekitar Patung Kuda.

Secara logika, demonstran hanya ingin pendapatnya didengar dan diproses (which was why finally The Vice President came out responding to them) tanpa kekacauan. Secara logika, penjaga keamanan disana ada untuk menjaga keberlangsungan acara dengan baik (which was the why they released hijabi officers & religious officers to chant praises with the crowds) tanpa kekacauan. Semua suka kedamaian. Entah siapa yang membuat kericuhan, mungkin logikanya berbeda dengan para demonstran, petugas keamanan, atau pencari kedamaian lainnya.

(As written in my personal tumblr : annoyingpitch.tumblr.com)

  • view 157