Sebungkus Nasi Padang

Tifanie Rishar liea
Karya Tifanie Rishar liea Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Februari 2016
Sebungkus Nasi Padang

Suatu siang aku dan suamiku menyempatkan diri untuk makan diluar. "Mau makan apa kita?" suamiku bertanya. Akhirnya kita memutuskan makan nasi padang. Sampailah kita ke rumah makan padang yang pada waktu itu cukup ramai pengunjungnya. Sambil antree kita saling berbisik "Mas mau pake apa?" tanyaku. "Hmm, apa ya? Adek mau pake apa?" suamiku balik tanya ke aku.?

Singkat cerita setelah kita mengambil nasi dan lauk kita duduk sambil memesan minum. Sampai di meja obrolan kita pun masih seputar lauk yang ada di rumah makan tersebut. "Kok tempe gorengnya gag ada ya?" suamiku bertanya padaku sambil melirik kanan kiri. "Iya mas disini gag lengkap lauknya" jawabku. "Krupuk juga gag ada" timpal suamiku. Belum habis makanan kami, dari jendela aku melihat sosok nenek-nenek yang sudah cukup renta berjalan sambil membawa keranjang yang dia gendong dengan kain jarik. Sempat dia melirik ke arah orang-orang yang duduk diluar sambil menikmati nasi padang dengan tersenyum. Tapi tidak ada satupun yang menggubrisnya. Tak lama dari dalam seorang wanita datang menghampiri nenek tersebut. Dengan bahasa jawa ia bertanya "Mbah, sampun dahar?" (baca: Nek, sudah makan?) Nenek tersebut menggelengkan kepalanya. Lalu diajak masuklah nenek tersebut. Aku sempat melihatnya karena nenek itu berdiri menunggu di dekat mejaku. Wanita yang mengajaknya tadi ternyata pemilik rumah makan tersebut. Ia pun menawarkan pada nenek tersebut untuk makan tapi si nenek minta dibungkus saja. Setelah itu si wanita menanyakan lauk apa.yang diinginkan. Si nenek menjawab apa saja. Lalu si wanita memerintahkan ke karyawannya untuk membungkuskan nasi lengkap dengan sayur plus ayam goreng kemudian memberikannya ke nenek tersebut.

"Kita mau makan tinggal makan aja masih ngeributin lauk ya mas" kataku. "Iya..." jawab suamiku singkat. Lalu kita menghabiskan makanan kita tanpa meributkan lauk lagi.

Yap, dari situ kita jadi lebih bersyukur lagi karena kita masih bisa makan enak dan memilih apa yang mau kita makan. Masih banyak disekitar kita yang hidup serba kekurangan dan untuk makan saja sulit. Jadi mari kita lebih mensyukuri keadaan kita.

  • view 126