SEHARUSNYA TV ITU MENDIDIK

Tiena Hardiansyah
Karya Tiena Hardiansyah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Februari 2016
SEHARUSNYA TV ITU MENDIDIK

Entah kenapa aku mulai bosan dengan film-film yang disuguhkan oleh para sutradara negaraku sendiri. Dulu, awal orangtuaku membelikanku televisi (saat itu aku masih kecil) aku adalah penggila sinetron Indonesia. Selalu dan selalu sinetron yang ku tonton. Tapi sekarang, saat aku sudah dewasa aku menyadari betapa jelek pengaruh sinetron terhadap penonton terutama anak-anak. Kini aku mulai muak dengan perfilman Indonesia yang menurutku kurang berkualitas dan tidak mendidik sama sekali. Bahkan, menurutku seringkali film-film itu mengajari anak-anak kecil, remaja bahkan orang dewasa untuk menghancurkan dan membuat kehidupan mereka kacau balau.

Bagaimana tidak? Yang disuguhkan hanyalah seputar topik perebutan tahta, harta dan wanita saja. Penikmat film diajari bagaimana cara berbuat kriminal dengan baik agar tidak diketahui oleh publik, bagaimana memperebutkan kekasih yang dicintainya dengan cara-cara picik dan tidak bermoral, bagaimana identitas seorang anak menjadi kabur dan samar karena tidak diketahui siapa ayah kandungnya, bagaimana adik kakak bersaudara saling membunuh demi harta warisan, gosip tentang kehidupan artis yang kawin cerai seakan menjadi hal biasa bahkan sebuah kebanggaan karena ia laku di pasaran, bagaimana para artis berpakaian yang tidak senonoh dan meninggalkan adat pakaian lokal dan nasional yang beradap. Sungguh, ini hal yang sangat tidak pantas disuguhkan untuk khalayak terutama anak-anak yang masih berada pada tahap meniru. Belum lagi dengan film remaja yang menampilkan pacaran dan kasmaran secara dominan. Kegiatan belajar mengajar di sekolah bukanlah kegiatan yang mendidik melainkan mengajari siswa tentang bagaimana naksir sesama teman, bagaimana menembak gadis pujaan menjadi pacar, bagaimana merebut pacar teman dan seterusnya dan seterusnya. Dan seolah segala yang mereka lakukan adalah hal biasa bahkan sebuah kebanggaan.

Di mana sebenarnya letak fungsi Lembaga Perfilm-an Indonesia? Seharusnya mereka mampu memfilter segala yang akan ditayangkan oleh televisi Indonesia. Pun demikian stasiun televisi harus pintar dalam memilah dan memilih acara-acara yang akan disajikan. Mana yang baik dan tidak baik untuk dikonsumsi semua kalangan. Mana yang patut dan tidak patut untuk diteladani. Bukan hanya memburu pasar dan uang. Karena bagaimanapun, di era sekarang ini tidak dapat dipungkiri masyarakat berkiblat pada media, salah satunya televisi. Jika media Indonesia terbawa oleh arus modernisasi dan westernisasi, maka jangan sesali jika Negara kita semakin kehilangan jati diri. Media lokal dan nasional saja yang bisa dikatakan kiblat masyarakat tidak bangga akan jati diri sendiri, bagaimana Negara ini akan maju?

Telah menjadi sebuah kemakluman bahwa media membawa pengaruh yang sangat besar. Ia memiliki peran yang sangat signifikan dalam menyebarkan informasi dan meracuni otak penikmatnya. Oleh karena itu, semua media Indonesia, baik cetak maupun elektronik harus mempunyai visi dan misi yang baik dan benar serta mampu memfilter program-program yang akan disajikan. Di tengah kesemrawutan kehidupan masyarakat, hendaknya media menampilkan hal-hal positif sebagai contoh untuk dijadikan suri tauladan dalam hidup dan kehidupan. Jati diri daerah, provinsi yang ada di Negara kita ditampilkan agar timbul kebanggaan dan rasa memiliki dalam dada setiap warga Negara Indonesia. Agar kita bersama-sama memperbaiki diri dalam segala aspek untuk kehidupan yang lebih baik. Bukan mengekor begitu saja kepada Negara lain. Minder, tidak bangga, tidak percaya diri bahkan tidak mau mengakui budaya sendiri. Malu akan jati dirinya sendiri.

Benar apa kata cak Nun dalam bukunya, Demokrasi Harga Mati. Bangsa Indonesia malu dan tidak percaya pada dirinya sendiri sehingga ini menjadi penghalang kemajuan Negara ini. Yang lebih mengecewakan lagi, bangsa ini percaya diri namun tidak mau bangkit dan menunjukkan jati dirinya. Alih-alih, bangsa ini lebih memilih mengekor pada standarisasi Negara lain dan akan bangga jika mampu mengikuti pola dan gaya hidup mereka. Di sinilah peran media sangat dibutuhkan. Media harus mengangkat tema-tema dan program-program yang akan mengangkat jati diri bangsa ini. Media harus menjadi pembakar semangat bangsa ini untuk sadar dari belenggu westernasasi yang telah merongrong dan menjatuhkan harga diri.

Lagu-lagu local dan nasional harus didendangkan, permainan tradisional harus ditunjukkan, dilestarikan dan digalakkan, pola hidup berakhlak, bermoral dan berbudi luhur harus dicontohkan, bagaimana proses pendidikan yang baik di sekolah harus disuguhkan. Agar mereka tahu bahwa kita, bangsa Indonesia mempunyai jati diri yang bisa dibanggakan. Media harus mampu menggiring warga Negara ini untuk mengembangkan budaya bangsa. Semoga ini bukan harapan dan mimpi semata, akan tetapi menjadi kenyataan. Semoga. {}

  • view 173