Salah Kaprah Memaknai Momen

Tiena Hardiansyah
Karya Tiena Hardiansyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2016
Salah Kaprah Memaknai Momen

MOMEN, apakah kamu punya momen istimewa? Tentu? setiap kita memilikinya. Kiranya kata inilah yang membuat banyak remaja kita dewasa ini mengekor pada budaya perayaan valentine?s day. Mengapa momen? Karena setiap kejadian memberikan kesan tersendiri bukan? Dari sekian juta kejadian yang terjadi pada diri kita, pasti ada satu, dua atau tiga kejadian istimewa yang membuat kita terkesan. Tak ingin beranjak. Tak ingin pula semua berakhir. Andai waktu bisa dihentikan, kita akan dengan senang hati menghentikannya. Demi momen yang istimewa itu. Seperti hari bersejarah dalam hidup setiap orang; hari pernikahan setelah sekian lama memilah dan memilih calon pendamping hidup yang tepat, hari lahir yang menandakan perkembangan usia dari tahun ke tahun, hari pertama masuk kerja setelah sekian lama menikmati hidup sebagai pengangguran, dan momen-momen penting lainnya yang akan membuat hati dipenuhi kenangan abadi, entah itu kenangan yang menyisakan bahagia maupun duka. Tapi tetap itu adalah momen istimewa yang layak untuk dikenang juga dirayakan, yang andai bisa waktu kembali diputar, kita akan memutarnya tepat pada momen istimewa itu. Namun, karena sehebat apapun kita tetap tak bisa menghentikan waktu atau memutarnya kembali, momen istimewa itu lalu kita abadikan dalam memori yang indah untuk dikenang. Di masa mendatang, di tanggal yang sama kita merayakannya agar kejadian berkesan itu tetap ada meski tergilas oleh waktu yang terus melaju. Dan setiap kita memiliki momen istimewa yang berbeda. Namun ada beberapa momen yang itu menjadi milik bersama. Milik golongan tertentu, milik umat tertentu. Seperti valentine?s day, di mana ia adalah momen milik umat nasrani yang dirayakan pada 14 februari setiap tahunnya. Mengapa saya mengambil contoh valentine?s day? Tentu karena momen ini menarik untuk dibahas. Dari tahun ke tahun valentine?s day selalu menjadi trending topic tak terbantahkan. Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba ia menjadi momen yang begitu berarti bagi kebanyakan remaja kita. Momen itu terlanjur dianggap sebagai satu momen penting untuk menyampaikan cinta dan kasih. Di hari itu, muda mudi merayakannya dengan berbagai bentuk. Ada yang mengucap cinta kasih pada pasangan, teman dekat, atau seseorang spesial menggunakan kartu ucapan ?Happy Valentine?s day?, ada yang mengungkapkannya melalui cokelat dengan balutan pita warna merah muda yang cerah, bahkan tak jarang yang telah salah kaprah merayakannya dengan melakukan free sex berjamaah. Entah dari mana remaja kita memperoleh ide-ide gila untuk turut merayakan momen itu. Entah bagaimana pula virus perusak moral itu mengakar, tumbuh mendarah daging dalam jiwa remaja kita. Mereka memanfaatkan momen itu untuk kesenangan nafsu belaka. Remaja adalah masa di mana emosi sedang labil, simpang siur kesana kemari. Pacaran yang telah menjadi satu hal lumrah bagi remaja kita hari ini, memberikan mereka peluang untuk terjebak pada pergaulan bebas. Tak ayal, momen valentine?s day mereka jadikan sebagai acuan untuk menuruti kesenangan sesaat itu. Tanpa menelisik lebih dalam tentang apa hakikat valentine?s day, bagaimana sejarahnya, mengapa tiba-tiba ia menjadi momen yang istimewa dan berbagai hal ganjil lainnya, remaja kita telah terjebak pada budaya ini. Padahal, asal-usul lahir dan berkembangnya valentine?s day sangat beragam dan masih simpang siur. Menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) sejarah Valentine?s Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa tentang cinta burung jantan dan betina yang mulai bersemi pada tanggal 14 Pebruari. Burung-burung memilih pasangannya di hari itu. Lalu mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang. Versi lain menghubungkan Valentine?s Day ini dengan seorang pendeta. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa Valentine?s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine yang ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya. Sementara versi lainnya lagi mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine?s Day. Upacara untuk menghormati Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius berpendapat tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan. Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda. Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Pebruari sebagai tanggal penghormatan untuk Saint Valentine. Akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, cokelat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta. Tentu saya tidak melarang mereka yang memiliki valentine?s day untuk merayakannya. Karena ini adalah momen milik mereka, momen istimewa yang ingin mereka kenang dan abadikan. Tapi, momen ini bukan milik remaja kita, remaja Islam Indonesia. Saya berasumsi momen ini sengaja digelontorkan dan digembor-gemborkan untuk merusak moral remaja kita. Juga untuk melancarkan kepentingan bisnis beberapa pihak. Mengapa saya berasumsi demikian? Kalau kita menoleh ke belakang, mengamati bagaimana sejarah perkembangannya, mungkin Anda juga akan memiliki asumsi yang sama dengan saya. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama diproduksi secara massal dan dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 - 1904) dari Worcester, Massachusetts. Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut ?Hari Putih?(White Day) muncul. Pada hari ini (14 Maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali. Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa. (https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kasih_Sayang) Setelah menelisik lebih dalam, kemudian bagaimana seharusnya muda mudi Islam Indonesia mengambil sikap? Haruskah mereka hanyut dalam arus perayaan valentine?s day itu? Tentu saya menganjurkan untuk TIDAK! Melihat dari kaca mata Islam, Valentine?s Day telah merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas cokelat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine?s Day juga mempersempit kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia. Perayaan Valentine?s Day juga menggiring remaja kita pada moral yang salah. Valentine?s day semakin mendorong remaja kita untuk melestarikan budaya berpacaran bahkan untuk melakukan seks bebas. Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Karenanya, secara pribadi, besar harapan saya agar muda-mudi Islam Indonesia cerdas memaknai sebuah momen agar tidak dengan mudahnya terbawa oleh arus budaya yang membawa mereka pada perbuatan amoral. Budaya yang hanya akan membawa kita dan bangsa ini pada kebobrokan. Semoga!

  • view 251

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Memang pada akhirnya VD lebih banyak mudharatnya ketimbang kebaikannya yang hanya menjadi jargon bisnis semata, Mbak Tiena. Barangkali memang sejak riwayat awalnya VD telah 'tak lazim' serta 'tak ahsan', hingga endingnyapun tak sebagus seperti yang ramai dipropagandakan...^_ Artikel yang amat menarik, Mbak Tiena, salam kenal dan salam hangat...^_

    • Lihat 1 Respon