Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 21 Desember 2017   13:20 WIB
Ku Harap, Kita Semua Dapat Menikmatinya Kawan

Jangan dikira, mereka yang suka menuangkan kegalauan atau beban hidup via dunia nyata atau dunia maya, adalah yang benar - benar menderita.
 
Jangan disangka, mereka yang hobi bercanda seolah tanpa beban di dunia maya atau dunia nyata, adalah yang benar - benar tanpa kisah dibalik tawa riangnya.
 
Mau tau apa beda dari keduanya? Well, yang buat beda adalah, ada mereka yang meratapi 'drama' nya, dan ada mereka yang menikmati 'drama' nya.
 
Ibu ku selalu bilang, dapat menikmati tiap ups and downs 'drama' dalam hidup ini adalah sebuah nikmat Tuhan yang harus selalu disyukuri. Karena apa? Tak semua orang bisa menikmati 'drama' hidupnya.
 
Dan kita, tidak bisa menyalahkan mereka. Kayaknya, mereka juga nggak mau deh jadi orang yang begitu mudah tenggelam dalam alur 'drama' hidup mereka sendiri. Iya nggak sih? Kalau kata Ibu ku, "pribadi orang itu, beda - beda. Jangan semua orang kakak (baca: aku) samakan pribadinya dengan kakak."
 
Kalau aku, lebih suka berusaha untuk selalu menikmati ketimbang meratapi. Sambil mempengaruhi mereka yang saat ini masih meratapi 'drama' nya, untuk beralih menikmati.
 
Enak banget nggak sih aku ngomongnya? Well, ku bisa tulis tentang ini bukan tanpa alasan. I've been there, anyway. Menjadi satu dari sekian banyak orang yang tenggelam 'meratapi' dramanya. Sampai pada akhirnya, ratapan itu berubah menjadi 'penyakit fisik' yang ku sendiri belum pernah merasakan. Berapa lama ku harus keluar dari lingkaran sakit batin dan lahir itu? 2 tahun. Lama kan? Lama menurutku.
 
Tetapi ternyata, 2 tahun ku tak seberapa lama dibandingkan dengan saudara sekandung ku, Ojan. Lelaki dengan kepribadian sedikit melankolis dan hobi memendam perasaan. Dia, adalah pelajaran Tuhan buat ku. Dia adalah bukti nyata, bahwa sakit batin dapat dengan mudah berubah menjadi sakit fisik. Berapa kali ku harus antar Dia mampir UGD meski hanya 2 jam untuk sekedar pasang infus. Ia, satu - satunya yang diambil sel darah nya untuk diperiksa. Dan ajaibnya, tak ada satu pun penyakit yang bersarang di tubuhnya. Cukup sulit untuk mengajaknya keluar dari lingkaran yang sepertinya, Ia ciptakan sendiri. Kebayang kan, bagaimana rasanya hidup tenggelam meratapi 'drama' hidup sekian tahun itu seperti apa? Ditambah, sering mencipta praduga semau akal dan perasaan.
 
Tunggu dulu, akan ku sampaikan berita baiknya. Yess!! Aku dan Ojan saat ini luar biasa baik - baik saja. Bisa saling bercerita apa saja. Bisa menonton film dan drama dari buatan negara mana saja. Bisa duet sambil genjrengan lagu apa saja. Bisa bercanda sampai tertawa kayak orang gila. Yup!!! aku dan Ojan berdua baik - baik saja dan Insya Allah selalu bahagia.
 
Ya, aku dan Ojan berhasil dan akan terus berjuang survive mengeluarkan diri dari kemelut pikiran dan batin kami. Tentu tidak mudah dan tidak dalam waktu singkat.
 
Bagaimana caranya? Tentu kita perlu niat yang kuat, lalu mengusahakan niatan kita, dan yang pasti, bersabar pada tiap prosesnya. Kita semua pasti bisa untuk survive. Asal, kita benar - benar mau, dan benar - benar mengikhtiarkan niat kita. Percaya nggak, terkadang, apa yang ada dipikiran dan perasaan kita, adalah hasil ciptaan kita sendiri? 
 
Aku nggak kan bilang proses ini mudah. Itu sulit. Apalagi saat kita harus berusaha menaklukkan diri sendiri. Ditambah, kita harus mulai belajar berkomunikasi dengan diri sendiri.
 
Terkadang, ku merasa proses 'healing' ini menjadi seribu kali lebih sulit, saat aku tak bisa bercerita keadaan yang sebenarnya. Entah pada orang tua, atau bahkan pada kawan - kawan terdekat.

Terkadang, saat seseorang tak mampu bercerita, bukan berarti Ia tak percaya. Barangkali saja, Ia bingung harus memulai dari mana. Karena faktanya, tak semua orang pandai memulai cerita. 
 
That's why, saat bertemu mereka yang seperti ini, jangan ditinggal sendirian. Jangan dibiarkan diam terlalu lama. Itulah kenapa, aku suka memulai curhat dengan Ojan. Aku bolehkan Ia tidur malam dengan ku (karena dia adik kandung ku yaa) waktu kami masih kuliah di Jogja dulu. Mereka memang harus diajak bicara lebih dulu. Agar suatu saat, mereka mau dengan sendirinya bercerita apapun padamu.

Tak selalu mereka yang bercerita menginginkan sebuah tanggapan. Terkadang, mereka hanya ingin sekedar 'di dengarkan'.
 
Dan satu hal yang sepertinya membuat ku dan Ojan benar - benar bisa keluar dari kemelut itu adalah, mengembalikan segalanya pada Yang Maha Kuasa. Dan ku akui, pendekatan dengan Nya, adalah yang paling efektif. Mencoba teratur memenuhi panggilannya, adalah cara termujarab yang pernah ada. Ditambah, selipan Doa yang selalu kita sampaikan. Sangat mudah bagi Nya untuk dapat membolak balikkan keadaan, termasuk perasaan manusia.
 
Finally, kesimpulan ku adalah, let's survive to fight our own selves! Apa yang ada di fikiran dan perasaan kita, adalah tergantung dengan kita sendiri. Mari kita belajar berkomunikasi dengan diri sendiri, mari kita belajar untuk sedikit dapat membuka diri, atau jika tetap tak berhasil, mari kita dekati Sang Pencipta Hati. Jangan lupa, untuk selalu berprasangka baik atas apa yang kita lakukan saat ini. Karena 'Bahagia' dan 'sehat' nya fisik sertabatin, adalah hal remeh temeh (menurut sebagian orang) yang sebenarnya sangat penting.
 
Let's be happy, everyone!! ❤❤
 

Karya : Tias Mafazatu