"Semoga esok, langit berpihak kepada kita, Nay"

Tias Mafazatu
Karya Tias Mafazatu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Desember 2016

Para seniman jalanan sedang menampilkan lukisan terbaiknya. Sepanjang jalanan kota tua ini dipenuhi dengan pengunjung. Emmm lukisan yang menarik, meskipun tak berlirik. Andai kau datang tepat waktu, tak mungkin aku mendamparkan diri di tempat ini. Aku sudah terlampau jauh dari tempat yang kita janjikan sebelumnya. Dan lukisan – lukisan ini, sungguh aku tidak dapat memaknai tiap goresan dan warnanya.

Baiklah, ku putuskan menghabiskan senja di tempat ini. Jalanan ini ramai dengan para pekerja yang sedang dalam perjalanan kembali ke rumah mereka. Beberapa remaja terlihat saling bercerita sambil bercanda ria. Mereka bahagia. Lihatlah, malam ku hampir tiba, waktu istirahat ku sudah hampir dimulai. Handphone ku berdering, ah, kau selalu tak tepat waktu. Maaf, aku tak pernah memiliki niat untuk menunggu mu lebih lama *power off*.

Temukan aku kalau kau bisa. Aku melanjutkan perjalanan menuju malam. Angin malam ini, bagiku terlalu menusuk. Lagu yang sedang ku dengar seolah mengerti suasana hati. Hari ini terlalu rumit, membuat ku semakin ingin kembali.

“Nay...! Nay...!” Teriaknya dari kejauhan tempat ku berada. Aku tak mendengar panggilannya. Aku hanya membaca gerak bibirnya.

Aku terus melangkah, menuju ke arahnya. Wajahnya telah siap membordir pertanyaan. Sedangkan wajahku, telah siap menerima banyak penjelasan. Ku lepaskan headset, Ia tepat berada dihadapan ku.

“Kamu kemana aja sih? I’ve been looking for you, Nay.” Pertanyaan pertama yang terlontar darinya.

Ia terus menatap ku. Aku menghindari tatapannya.

“My bad, Rhy. Sorry.” Ku harap ini menjawab pertanyaan mu.

“That’s all? Ada apa, Nay?” Tentu jawaban ku belum menjawab pertanyaan mu.

Aku menghela nafas. “Mungkin hari ini, langit belum berpihak dengan ku.” Semoga kali ini menjawab pertanyaan mu.

Kau terdiam, menatap ku yang mengalihkan pandangan. Kau meraih tangan ku, membawa ku ke tempat duduk yang berada di trotoar pinggir. Kau masih terdiam. Kali ini sambil menatap sungai luas di depan mata. Kau tertunduk, lalu kembali mentap ku.

“Maaf, Nay. Hari ini diluar dugaan ku. Aku terpaksa terlambat setengah jam. Kamu mau penjelasan?” Ia masih berusaha mencari celah pada bola mata ku.

“It’s okay, Rhy. Nggak semuanya salah kamu. Mungkin seharusnya tadi aku nggak perlu mengabaikan panggilan mu. Seharusnya, aku tetap mengaktifkan handphone ku. Mungkin sebenarnya, tadi aku baru ingin menyendiri. Aku nggak perlu penjelasan, Rhy.” Kali ini, aku membalas tatapannya.

“Mungkin hari ini, langit belum berpihak dengan kita.” Jawab ku lagi. Aku mengenal mu, Rhy. Saat ini, kau juga sedang tidak baik – baik saja, Rhy.

“Are you okay, Nay?” Kau kembali menatap ku.

Aku menggeleng, “Emm..aku, sedang tidak baik - baik saja, Rhy.” Jawab ku sambil menatap langit.

“How ‘bout you, Rhy?” Tanya ku, kembali menatapnya.

“Not really good.” Jawab mu, sambil meniru ku menatap langit.

Kau kembali menatap ku. Kau tetap menatap ku. Ah, kau menunggu aku membalas tatapan mu.

“I hope we’ll be okay, Nay.” Kau menatap ku yang telah membalas tatapan mu.

Aku mengangguk, “we’ll be okay, Rhy.” Aku menatapnya, sambil menggenggam telapak tangannya.

Kau dan aku kembali menatap langit malam ini. Kau belum ingin menyinggung tentang hari ini, Rhy. Aku pun demikian. Kau belum mau berceloteh tentang hal yang terjadi sebelum kita bertemu tadi menjelang senja, Rhy. Aku pun sama.

Aku kembali menatap mu. Malam ini, kau sedang tidak karuan, Nay. Aku mengenal mu, Nay. Kau tak meminta ku menjelaskan. Kau, mengerti keadaan ku malam ini.

Kita tahu tak ada yang perlu di permasalahkan. Kita tahu, saat ini kita sedang dihadapkan kerumitan masing – masing. Mari kita mulai lagi, ritual diam sementara tanpa saling menyalahkan. Semoga esok, langit berpihak kepada kita, Nay.

  • view 138