Metamorfosa Menjadi Ibu

tiara nurwita
Karya tiara nurwita Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 Desember 2016
Metamorfosa Menjadi Ibu

Waktu berlalu begitu cepat, sudah lebih dari 4 tahun sejak saya merasakan pertama kali menjadi ibu. Saya bermetamorfosis dari mahasiswa yang tugasnya hanya kuliah di kampus sekarang sempurna menjadi kupu-kupu dewasa yang memiliki tanggung jawab sendiri atas hidup ini. Saya menikah di usia muda 21 tahun, belum lulus kuliah dan tampak tidak siap menghadapi perubahan pasca menikah. Walaupun kami menikah di usia muda, kami sudah siap berkomitmen dengan segala resiko seperti emosi yg tidak stabil atau keuangan yang belum mapan. Suami saya waktu itu sudah menjadi abdi negara, sedangkan saya tetap melakukan tugas saya sebagai mahasiswa, tetap hangout dengan teman-teman kuliah, dan memenuhi janji saya kepada bapak saya untuk lulus kuliah tepat waktu. Berat memang di saat suami harus menanggung biaya kuliah yang tidak sedikit dan segala keperluan keluarga kami sementara saya belum bisa membantu dalam hal ekonomi.  Tapi kami yakin rezeki tidak akan tertukar, dan pada akhirnya setahun kemudian setelah kami menikah, lahir anak kami yg pertama yang membawa rezeki untuk keluarga kami, azka.

 Saya masih ingat jelas bagaimana perjuangan seorang calon ibu yg pertama kali hamil, perubahan mood yang naik turun, perubahan bentuk badan, segala bentuk morning sickness yang saya alami. Semua itu terbayar dengan suara tangisan Azka ecil yang lahir lewat operasi sc karena posisi bayi terlilit tali pusat dan tidak memungkinkan lahir normal. Setelah Azka lahir, kehidupan sebagai seorang ibu seutuhnya dimulai. Seperti kebanyakan ibu baru lainnya, saya juga mengalami baby blues, menangis tanpa sebab sepanjang hari itu dan malas menyusui si bayi. Ketika mengalami baby blues, yang paling dibutuhkan adalah perhatian dari suami dan orang-orang terdekat. Beruntungnya saya dan suami berasal dari kota yang sama, jadi lumayan banyak yang menemani saya. Perubahan demi perubahan terjadi dalam perjalanan saya menjadi ibu. Saya tidak lagi memiliki waktu yang fleksibel untuk jalan dengan teman-teman. Saya harus membagi waktu antara kuliah dan mengurus bayi. Its okay, saya menikmati peran ganda sebagai mahasiswa semester akhir dan mengurus bayi.  Saya merasa selangkah lebih dulu dari teman-teman saya, memiliki gelar sarjana dan menjadi ibu baru. Tidak apa-apa jika dalam proses nya menjadi lebih sulit di bandingkan teman-teman saya yang lain, karena kebahagiaan menjadi ibu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

 Perjuangan yang paling membekas adalah memberikan ASI untuk azka. Jarak antara rumah dan kampus adalah 1,5 jam dari Jogja ke Solo atau 45 menit jika menggunakan kereta Prameks. Setiap hari saya harus mengejar kereta untuk kuliah dan mencuri curi waktu untuk pumping di kost teman, karena di kampus tidak ada fasilitas seperti nursery room  atau ruang khusus yang sifatnya privat. Banyak pekerja yang bernasib sama seperti saya, para pejuang ASI. Kami menjadi saling kenal karena setiap hari bertemu dalam perjalanan di kereta. Masing-masing memiliki cerita dan keharuan dalam perjuangannya memberi ASI, demi masa depan anak-anak. Dengan ASI, bonding antara ibu dan anak akan terbangun cukup kuat sebagai bentuk kasih sayang yang tidak ternilai. Saya merasakan sendiri harunya bisa memberikan ASI untuk anak saya. Tidak pernah terbayangkan saya bisa sampai tahap ini, betapa saya bangga dan bahagia karena bisa memberikan ASI untuk bayi saya. Memang tidak semua ibu bisa sukses memberikan ASI, walaupun begitu, tetap semua ibu adalah malaikat yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk anak-anaknya. :)

 Tahun demi tahun berganti, sekarang usia anak saya menginjak 4 tahun. Proses belajar menjadi orang tua tidak akan pernah berhenti sepanjang hidup ini. Anak memiliki fase-fase penting perkembangan dalam kehidupan nya. Baik secara emosi maupun fisik.  Semakin pintar seorang anak, semakin banyak ilmu Iparenting yang harus kita tahu. Sebagai ibu, saya lah yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anak. Selama 2 tahun pertama saya menjadi fulltime ibu , sekarang saya harus berbagi waktu untuk bekerja di luar rumah. Keputusan yang berat pada awalnya untuk menitipkan anak di fullday school. Terkadang hidup kita dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk masa depan yang lebih baik, begitu juga saya, supaya keluarga kami lebih mapan demi pendidikan anak-anak di masa mendatang. Sebagai ibu bekerja, saya agak selektif untuk memilih pekerjaan, yang jam kerja nya sesuai dengan kebutuhan saya untuk tetap penting mengantar dan menjemput anak tepat waktu. Tidak overtime seperti sebagian besar perusahaan lain. Saya berusahan menghandirkan sosok saya yang dekat dengan anak-anak walaupun bekerja, yang masih sempat menemani mereka bermain layaknya ibu-ibu lain yg memiliki banyak waktu di rumah.

 Saya dan suami sepakat untuk menjadi orang tua yang dekat dengan anak, kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Kami sengaja membagi pekerjaan rumah, supaya anak ikut terlibat dan terbiasa berbagi. Kami menikmati proses ini, tidak ingin kehilangan momen-momen penting perkembangan anak kami. Tidak perlu terlalu sibuk merekam dan mengunduh perkembangan anak di media sosial. Cukup mengemasnya di sebuah album kehidupan…

 Tahun ini, ada anggota baru di keluarga kami.Kehadirannya membuat warna tersendiri dalam kehidupan kami. Hari-hari akan terasa lebih sibuk dengan 2 anak. Tapi kali ini usia saya sudah lebih matang untuk menjadi ibu baru dengan 2 anak.

 Kata-kata tidak akan pernah habis untuk melukiskan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Apalagi ketika anak membutuhkan kita, rasanya hidup kita sangat berharga. Rasanya kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

 Terimakasih anak-anakku, kalian menempa ibu menjadi seseorang yang lebih kuat. Kalian memberi banyak warna dalam hidup ini. Tentu saja ibumu ini tidak sempurna, mari kita belajar dan tumbuh bersama, anakku. :)

  • view 178