Jangan Panggil Aku Valentine

Thurneysen Simanjuntak
Karya Thurneysen Simanjuntak Kategori Inspiratif
dipublikasikan 15 Februari 2016
Jangan Panggil Aku Valentine

Hingga saat ini, tanggapan atas Hari Valentine masih jadi pro-kontra di negeri kita. Mungkinkah karena ini adalah tradisi barat? Ataukah karena sebagian orang memaknainya sebagai cinta eros? Atau mungkin berbagai alasan lainnya?

Tahun berganti tahun, menjelang bulan februari, masalah selalu berulang -- perdebatan. Banyak pihak atau kelompok menjadikan ini sebagai isu yang hangat dan menarik untuk diperdebatkan, tentu karena didasarkan pemikiran dan pemahaman masing-masing yang berbeda.

Momen seperti ini, sepertinya telah menjadi tambahan musim bagi masyarakat kita, yaitu 'musim perdebatan'. Jadi ternyata bukan hanya musim kemarau dan hujan aja yang ada. Perbedaan pendapat tentang ini, menurut saya hal yang wajar. Apalagi pemikiran dan pandangan seseorang sangat dipengaruhi latar belakangnya. Tapi sangat tidak wajar kalau energi dihabiskan untuk memperdebatkannya. Sesungguhnya ini telah menjadi sesuatu yang kontra-produktif. Padahal banyak sekali masalah di masyarakat kita yang perlu dipikirkan serta dibicarakan demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Jadi, sikap apa sebenarnya yang harus disiapkan?

Menurut hemat saya, ini adalah pilihan setiap orang. Mungkin bagi orang yang merasa hari ini penting dan istimewa, lakukanlah dengan bijak dan bertanggung jawab. Lakukanlah demi cinta atau kasih sayang bagi sesama. Seperti latar belakang terjadinya hari valentine tersebut. Tetapi bagi pihak yang tidak merayakan, perlu kita juga menghargai. Selagi dijalankan dengan nilai dan norma yang dianut atau tidak bertentangan dengan norma kebiasaan dan norma hukum bangsa yang berlaku, ya tidak masalah. Lembaga agama, pendidikan, sosial-budaya, bahkan hukum, toh telah mengambil peran di garda depan. Apalagi semua lembaga ini memiliki peran sebagai pemegang kontrol sosial untuk memberikan rambu dan tindakan-tindakan preventif untuk menghindari berbagai penyimpangan yang terjadi.

Sebagai penutup dari saya, kalau saya tidak pernah tertarik dengan perayaan hari valentine, jangan pernah meneriaki saya sebagai orang kolot atau kuno. Apalagi mengatakan kalau saya tidak memiliki kasih sayang. Bagiku, tanpa merayakannya pun saya wajib menabur kasih sayang bagi sesama setiap saat. Bagi rekan-rekan yang akan merayakan, mari jadikan perayaan ini sebagai momen untuk mengingatkan agar selalu menabur kasih sayang bagi sesama. Bukan kasih yang manipulatif, yang mementingkan dan menguntungkan diri sendiri. Tapi mau memberi dan berkorban bagi orang lain. Memperhatikan keadaan dan kebutuhan orang-orang disekitar. Tapi kalau masih tetap memperdebatkan hari valentine, mungkin valentine itu sendiri akan berpesan, "Jangan pangil Aku Valentine!"

Sumber Gambar : http://www.hdwallpapers.im/valentines_wallpapers.html

  • view 411