KurinduITD - Dari Slogan Menuju Aksi

Thurneysen Simanjuntak
Karya Thurneysen Simanjuntak Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 November 2016
KurinduITD - Dari Slogan Menuju Aksi

 

Bangsa kita baru saja merayakan peringatan hari Sumpah Pemuda. Kita berharap spiritnya tetap dirasakan kaum muda atau yang berjiwa muda, bukan hanya dikenang. Jika hanya untuk dikenang saja, tidak ada bedanya Sumpah Pemuda itu seperti keindahan pantai dalam bingkai photo di dinding. Kita hanya bisa memandangi dan mengamati keindahannya, tapi tidak bisa merasakan semilir angin, mendengar kicauan burung, dan desiran ombak di sekitar pantai.

Untuk itu sebagai kaum muda atau yang berjiwa muda, harus benar-benar mampu merekonstruksi peristiwa yang terjadi 88 tahun yang silam. Bagaimana semangat anak muda yang berkobar dan berapi-api, komitmennya yang kuat dan rasa haus akan persatuan dan kesatuan yang dinyatakan dalam sebuah sumpah (janji) untuk satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Walau ada perbedaan, tapi mampu melihat persamaan yaitu mewujudkan Indonesia merdeka. Itu yang harus kita hidupkan kembali masa sekarang ini.

Bukan perkara mudah untuk menyatukan pandangan atas perbedaan pada waktu itu. Buktinya kongres pemuda pertama pun pernah gagal karena masih sulit menanggalkan primordialisme. Tetapi kemudian para pemuda pun mampu menanggalkan ke-aku-annya. Sehingga kongres pemuda kedua pun berhasil mengikrarkan Sumpah Pemuda.

Bagi kaum muda saat ini, wujud dari Sumpah Pemuda bisa kita lihat dari cara pandang dan tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita berada ditengah-tengah perbedaan, masihkah kita bisa melihat persamaan disana? Masihkah kita menghormati ras, etnis, agama, budaya yang berbeda dengan kita? Masihkah kita bisa duduk bersama hidup berdampingan dan bekerjasama dengan yang berbeda dengan kita?

Jika jawabannya kita "ya" artinya spirit sumpah pemuda tersebut berarti ada dalam diri kita. Tapi jika "tidak", maka kita perlu merenungkan kembali dan berjuang menghadirkan spirit sumpah pemuda tersebut dengan tindakan-tindakan nyata dan mungkin tindakan sederhana, tapi bisa dirasakan orang yang berbeda dengan kita.

Sebagai masyarakat yang beragam, mutlak kita harus mengembangkan semangat keragaman, menghormati perbedaan dan menularkan komitmen toleransi. Mengingat perbedaan di Indonesia itu cukup besar. Mulai dari perbedaan ras, etnis, agama, budaya, dan golongan. Jika tidak persatuan dan kesatuan bangsa akan memudar.

Kita harus belajar dari sejarah, bahwa kerajaan Majapahit itu besar tidak terlepas dari pengakuan atas perbedaan. Kita kembali bisa membaca bahwa dalam Kitab Sutasoma ada kisah yang menceritakan tentang pengakuan akan keragaman melalui semboyan, Bhinneka Tunggal Ika. Dan semboyan itu yang tetap kita akui hingga sekarang sebagai perekat perbedaan.

Memang semakin besar perbedaan dalam sebuah bangsa, maka ujiannya semakin besar pula. Berkali-kali kita mendengar tindakan intoleran terjadi. Tindakan-tindakan yang demikian bukan hanya merugikan harta benda, tapi hingga menimbulkan korban jiwa.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda. Bukan hanya kerugian materi yang dialami, tapi anak kecil dua tahunan pun menjadi korban kebiadaban pelakunya. Intan Marbun pun harus meregang nyawa dan termasuk teman-temannya yang masih dirawat hingga saat ini. Ini adalah dampak dari kegagalan anak-anak bangsa (oknum) dalam menyikapi perbedaan. Ini adalah salah satu dari begitu banyak tindakan intoleran di negeri ini.

Untuk itu, butuh anak-anak bangsa dan kaum muda untuk menghidupkan dan menggerakkan kembali semangat perbedaan, sesuai kapasitas, potensi dan peran masing-masing.

Apa yang dilakukan Danny JA bisa jadi sebagai inspirasi bagi kaum muda saat ini. Keprihatinannya dalam melihat kondisi kekerasan dan diskriminasi yang secara umum memprihatinkan di tanah air, maka Denny JA menyadari bahwa perlu melakukan sesuatu. Tak puas hanya mencatatkan kepeloporan dan kiprahnya di dunia politik, Denny JA pun tergerak untuk ikut dalam kerja membangun Indonesia baru tanpa diskriminasi. Bahkan beliau menggagasi gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi (ITD)

Kegelisahan hati dan harapan akan Indonesia yang lebih baik itu kemudian dituangkannya ke dalam berbagai buku, puisi, video, film pendek, lagu, lukisan digital, teaterisasi puisi, dan lain sebagainya.

Memang tidak semua anak bangsa harus seperti Denny JA. Tapi seperti yang saya singgung sebelumnya, mari kita bertindak sesuai dengan kapasitas, potensi atau peran kita masing-masing.

Sebagai seorang pelajar, mari kita berteman dan membuka diri dengan pelajar yang berbeda dengan kita. Sebagai seorang pekerja, hindari tindakan-tindakan eksklusif yang dapat merusak semangat kerja serta kecurigaan dengan tim kerja.

Sebagai anggota masyarakat kita harus mempertahankan dan mewariskan semangat kerukunan. Baik itu melalui saling sapa dan mengucapkan selamat untuk hari-hari besar umat beragama, menghormati dan tidak menghina budaya suku lain. Serta menghidupkan kembali tradisi maupun kearifan lokal masyarakat seperti gotong royong dan musyawarah. Sebab dengan gotong royong dan musyawarah akan lahir dan berkembang sikap-sikap menghargai, mewujudkan hidup berdampingan, dan rasa persaudaraan akan tetap lestari.

Sebagai guru pun, saya tidak akan melupakan peran. Saya harus menjadi teladan untuk siswa-siswi saya, menularkan semangat perbedaan dan toleransi. Mengajak siswa untuk belajar dari sejarah perjuangan bangsa. Bahwa kerukunan, persaudaraan dan mementingkan kepentingan bersama merupakan kunci sukses dalam merebut cita-cita kemerdekaan dari penjajah. Bahkan di era kemerdekaan ini, sikap-sikap itu amat penting untuk mencapai cita-cita bangsa selanjutnya, yakni untuk mewujudkan masyarakat yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kembali mengenang peristiwa Samarinda, saya begitu terharu dengan sikap remaja masjid yang ikut berpartisipasi dalam membenahi kembali sekitar Gereja Oikumene pasca pelemparan bom molotov. Ini bukan hanya bicara pembenahan fisik, tapi bicara tentang empati, pemulihan luka, menghentikan prasangka buruk, serta merekatkan kembali kerukunan yang ternoda oleh ulah oknum.

Semoga hal-hal yang demikian menjadi inpirasi bagi seluruh anak bangsa dalam merajut kembali kerukunan. Besar harapan kira bersama, bahwa damai Indonesia menjadi identitas. Damai Indonesia menjadi komitmen bersama. Damai Indonesia menjadi pendukung pembangunan.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah lirik lagu yang ditulis Denny JA,

Dari Aceh sampai Papua, Indonesia beragam.

Ayo hidup dalam  harmoni. Indonesia untuk semua.

Apapun agamanya, Ia Indonesia. Apapun Etnisnya, Ia Indonesia.

Berbangsa satu, Bangsa tanpa diskriminasi.

Berbahasa satu, bahasa tanpa diskriminasi.

Bertanah air satu, tanah air tanpa diskriminasi. 

Kita Ikrarkan, Indonesia tanpa diskriminasi.

Demikian cuplikan lirik lagu tersebut sebagai ajakan untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Mari kita jadikan ajakan tersebut sebagai komitmen dan perekat persatuan, persaudaraan dalam keberagaman. Kita jaga Indonesia secara bersama. Sebab bangsa ini adalah warisan bagi anak cucu kita. Serta kita jadikan Bhinneka Tunggal Ika bukan sebagai slogan saja, tapi harus masuk pada tataran aksi nyata.

  • view 320