Dont Love Me_Dua

Nadia Amalia
Karya Nadia Amalia Kategori Project
dipublikasikan 31 Desember 2016
Dont Love Me

Dont Love Me


Semenjak pertemuan di kala hujan dengan seorang cowok bernama Edo. Lira penasaran dengannya. Tapi ternyata cowok itu punya rahasia...

Kategori Fiksi Remaja

345 Hak Cipta Terlindungi
Dont Love Me_Dua

DUA

 

“Taksi...! Ya... tolong antarkan saya memanggil taksi...!”

            Disampingku, Roni perlahan mulai berdiri. Aku berpikir cepat. Tangan bell boy itu kutarik sampai kami keluar dari kamar. Pintu kamar kututup dari luar.

            “Cepat kunci!”

            Bell boy itu terperangah menatapku. Sedetik kemudian ia bergerak untuk mengunci pintu kamar. Roni berteriak memanggil namaku sambil menggedor-gedor pintu. Aku mengusap kedua tanganku dengan puas.

            Bell boy itu menyeringai ke arahku. Kemudian,  punggungnya membungkuk sambil sebelah tangannya terbuka.

            “Mari ikut saya Nona..”

            Kami berjalan di koridor ruang hotel. Aku melirik bell boy itu. Tubuhnya tinggi, tinggi sekali. Mungkin sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Wajahnya tampan. Kulitnya putih. Ia tampak berkelas walau hanya seorang bell boy. Aku mulai merasa penasaran dengannya.

            “Terimakasih sudah menolongku.”

            “Tak perlu Nona. Ini sudah menjadi kewajiban saya” nada datar keluar dari mulutnya. Aku tertawa tertahan. Mengapa sikapnya sangat kaku? Apakah semua bell boy memang begitu?

            “Kau tampaknya paham dengan hukum di negara ini,” aku tersenyum. “Lancar sekali kau mengucapkan hukum tentang pemerkosaan tadi.”

            “Saya sedang kuliah semester empat di falkutas hukum Nona.”

            Aku sedikit terkejut. Ternyata dia seorang mahasiswa semester empat. Wajahnya terlihat muda. Kukira ia baru saja lulus SMA dan bekerja sebagai bell boy.

            “Kau bekerja paruh waktu?”

            “Iya Nona.”

            Kami sampai di depan hotel. Hujan telah reda. Bell boy itu berusaha menyetop taksi. Sebuah taksi berhenti. Bell boy itu membukakan pintu taksi untukku. Aku tersenyum kepadanya sambil mengucapkan terima kasih.

            Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Kubuka pintu taksi yang telah tertutup.

            “Siapa namamu?”

            Bell boy itu tersenyum. “Edo Nona...”

 

“Edo Nona...”

Kugeleng-gelengkan kepalaku. Pertemuan dengan bell boy bernama Edo itu masih menyisakan kenangan. Aku masih terbayang-bayang akan sosoknya. Kepeduliannya. Kelugasannya. Kecerdasannya. Ketangguhannya. Dia benar-benar membuatku penasaran.

Aku bangkit dari kasur dan berjalan ke arah meja belajar. Laci meja belajar kubuka. Foto-fotoku dengan Roni masih berada disana. Tanganku bergerak mengambil foto-foto itu lalu kusobek satu persatu dengan perasaan benci. Roni, kau telah mengecewakanku.., aku tak lagi punya perasaan kepadamu!

            Aku kembali melangkah menuju kasur. Tubuhku kubaringkan di atasnya. Bantal di sampingku kupeluk.

            Kak Edo..., apakah aku bisa bertemu denganmu lagi?

            Aku tersenyum sendiri. Aku mengingat kelugasannya saat mengatakan hukum tentang pemerkosaan kepada Roni. Dia terlihat begitu tenang dan percaya diri. Aku mulai merasakan kalau dia bukan cowok biasa. Ada sesuatu yang menarik tentangnya.

 

Mataku terbuka. Sinar matahari masuk melalui jendelaku. Mulutku menguap. Pukul berapa ini? Tanganku mencari-cari handphone di atas meja rias. Pukul tujuh pagi. Astaga.

“Liraa....!!”

Suara mama terdengar menggelegar di balik pintu. Aku segera bangkit dari kasur dan melesat ke arah pintu.

“Kamu itu ya...! Mama panggil dari tadi nggak dijawab-jawab! Mau berangkat jam berapa hah?? Cepat mandi! Kamu udah telat!”

Aku kembali menguap.

“Iya Ma” jawabku dengan nada mengantuk.

“Ayo!”

“Eh..., siap Ma!”

Aku segera mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Kejadian kemarin malam teringat kembali. Roni yang membohongiku. Roni yang mencoba memperkosaku. Bell boy bernama Edo yang datang menolongku. Semuanya terlintas dipikiranku bagai flasback dalam film. Baru kali ini aku mengalami kejadian cukup menghebohkan dalam enam belas tahun hidupku. Senyum melintas di wajahku. Hidupku asyik juga.

Papa mengantarku ke sekolah pagi itu. Biasanya aku diantar dengan Pak Deni, supirku. Papa ingin mengantarku kali ini. Aku merasa senang. Papa jarang sekali mengantarku ke sekolah.

“Anak Papa kok kelihatan gembira sekali? Ada apa dengan Roni?”

“Nggak ada apa-apa kok Pa... em... kita putus”

Kening papa terlihat berkerut. “Trus kok kelihatan bahagia? Seharusnya sedih dong?”

“Roni bukan pilihan terbaik buatku Pa” aku menarik napas dalam-dalam. “Dia mengecewakanku”

“Ada masalah apa anak Papa yang cantik?”

Aku tak mau membicarakan masalah ini. “Pa.., kuliah hukum itu sulit nggak sih?”

Senyum menghiasi wajah papa. “Wah ada apa ini? Anak Papa sudah mulai memikirkan jurusan kuliah nanti?”

“Hehe.. iya Pa” kujawab sekenanya.

“Entahlah... Papa sendiri dulunya jurusan ekonomi jadi kurang tau...yang Papa tau kuliah hukum itu cukup lama bisa lebih dari empat tahun”

“Oh...”

“Pa...”

“Hmmm?”

“Papa dulu ketemu sama Mama dimana?”

“Di tempat kuliah...” Seringai muncul di wajah papa. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

“Nggak apa-apa”

Aku juga merasa heran sendiri kenapa aku bertanya seperti itu. Aku hanya memikirkan Kak Edo dan pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari mulutku.

Akhirnya kami sampai di depan gerbang sekolahku. Aku mencium tangan papa dan turun dari mobil. Senyum tak bisa kucegah muncul dari wajahku.

Apa aku telah jatuh cinta?

Kepalaku menggeleng kuat-kuat. Yang benar saja. Kepada siapa aku jatuh cinta? Kak Edo? Kami baru bertemu sekali, itu pun aku terlihat memalukan di depannya. Aku penasaran apa yang ia pikirkan tentang aku. Mungkinkah sekarang ia telah melupakanku?

Aku berjalan gontai ke arah kelas. Kak Edo mungkin telah melupakanku. Aku merasa sedih dengan kemungkinan itu. Aku ingin setidaknya ia mengingat kejadian kemarin bersamaku.

Setelah diberi hukuman menyanyi di depan kelas karena terlambat, aku tidak bisa berkonsentrasi selama mengikuti pelajaran. Bukan karena malu karena telah dihukum tapi aku merasa sedih jika saja Kak Edo lupa denganku. Teman sebangkuku, Sisil, sepertinya menyadari kesedihanku.

“Eh Lira, kamu kok kelihatan murung? Ada apa?”

Kejadian kemarin  malam kuceritakan padanya.

“OMG..., sooo sweet ih... aku ngiri ke kamu! Dia ganteng nggak?”

Aku mencoba mengingat ingat. Rambutnya yang ikal. Alisnya yang tebal. Hidungnya yang mancung. Dagunya yang terbelah. Senyumnya yang menawan.

Aku mengangguk.

“Ahh... keren banget! Beruntung banget kamu!” Sisil mengerutkan keningnya. “Tapi kamu nggak diapa-apain sama Si Roni kan? Nggak nyangka si Roni orangnya gitu”

Aku terdiam. Sisil, aku juga tidak menyangka Roni berbuat senekat itu. Apa itu sifat aslinya? Mungkin saja.

“Terus gimana dong kamu sama Roni?”

Aku mengangkat bahu. “Putus lah... bagaimana lagi..”

“Untung dia nggak satu sekolah sama kamu ya...” Sisil memelankan suaranya. “Kalau nggak.... ceritanya bisa menyebar...”

Aku kembali mengangkat bahu. Mungkin saja.

Pelajaran kedua dimulai. Bu Desi masuk kelas. Seorang cewek berambut panjang masuk bersama beliau. Aku menatap cewek itu. Rasanya wajahnya kok familiar ya?

 “Selamat pagi anak-anak”

“Pagi bu...”

“Hari ini kita kedatangan siswi baru..., Nak.. perkenalkan dirimu”

Cewek itu mengangguk seraya tersenyum.

Senyum itu!

Senyum itu!

Senyum Kak Edo!

 

            “Assalamualaikum...perkenalkan nama saya Sinta... saya...”

            Cewek itu memperkenalkan dirinya di depan kelas. Aku menatapnya dengan seksama. Alisnya yang tebal. Hidungnya yang mancung. Dagunya yang terbelah. Senyumannya yang berhiaskan lesung pipit. Parasnya mirip sekali dengan Kak Edo.

            Cewek itu selesai memperkenalkan diri. Bu Desi menyuruhnya duduk di sebelah Reni. Cewek itu mengangguk sambil tersenyum lalu melangkah ringan menuju tempat duduknya. Pelajaran dimulai.

            Aku melirik cewek baru bernama Sinta itu. Dia sedang fokus memperhatikan penjelasan Bu Desi di depan kelas. Saat ia pertama kali masuk kelas, aku merasakan aura familiar akan dirinya. Wajahnya entah kenapa mengingatkanku kepada Kak Edo. Aku merasa penasaran dengannya.

            Apakah aku harus bertanya padanya?

            Kemarin aku hampir diperkosa oleh mantan pacarku lalu seorang bell boy bernama Edo yang mirip denganmu akhirnya menolongku, begitu?

            Yang benar saja.

            Aku merasakan seseorang menyenggol sikutku. Kepalaku menoleh. Sisil tampak komat-kamit sambil menggerak-gerakkan bola matanya ke samping. Aku menoleh ke arah yang dimaksudnya. Bu Desi terlihat berkacak pinggang sambil melotot ke arahku.

            “Lira...! Saya panggil dari tadi tidak menjawab! Ngelamun kamu ya?”

            Derai tawa segera mengisi ruangan kelas. Aku tersipu malu di tempat dudukku. Ya Ampun, sudah terlambat, ketahuan melamun pula. Aku mencoba tersenyum.

            “Maaf bu...”

            Bu Desi menggelengkan kepalanya. “Coba kamu kerjakan soal di depan ini!”

            Deg! Matilah aku. Aku belum belajar kemarin malam.

            “Ayo maju!”

            Aku bangkit perlahan dari tempat duduk lalu mulai berjalan ke depan kelas. Jantungku berdegup kencang. Bagaimana ini?

            Kurang lebih selama sepuluh menit, aku bengong sambil menatap soal matematika di papan tulis. Bu Desi berdecak. Kedua tangannya diletakkannya di pinggang.

            “Kamu saya hukum mengerjakan soal ini di rumah! Sekarang duduk!”

            Aku kembali ke tempat duduk sambil menunduk malu. Suara tawa tertahan terdengar dari segala penjuru kelas. Saat tiba di tempat dudukku, tampak Sisil tersenyum padaku memberi semangat.

            Hah..., hari ini benar-benar hari yang buruk.

 

            Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid bersorak-sorai. Pak Joko menutup pelajaran hari ini. Aku segera merapikan alat-alat tulis dan bukuku lalu memasukkannya ke dalam tas.

            “Lira, terimakasih untuk buku catatannya...” Suara bening yang familiar terdengar di telingaku. Sinta tersenyum sambil menyerahkan buku catatan padaku.

            “Oh, iya..., sama-sama”

            Ia beranjak pergi. Saat ia akan keluar dari pintu kelas, aku memanggilnya.

            “Sinta!”

            Sinta menoleh. Dia berjalan mendekat ke arahku. “Iya?”

            Aku mencoba berpikir. Apa yang harus aku katakan padanya?

            “Ajarin aku matematika dong... kayaknya kamu tadi paham dengan penjelasan Bu Desi di depan.” Akhirnya aku menemukan kalimat yang tepat untuk diajukan kepadanya.

            Sinta tersenyum. Lesung pipitnya muncul. “Boleh... kapan Lira?”

            “Sekarang saja... aku ikut ke rumahmu... boleh kan?”

            Sinta mengangguk. “Ayo...”

            Aku tak tahu apa yang mendorongku pergi ke rumah Sinta. Aku harap aku menemukan sesuatu yang dapat memuaskan rasa penasaranku.

 

            Sinta sangat sederhana. Ia pulang dengan angkutan umum. Aku tak terbiasa naik angkutan umum tapi demi ke rumah Sinta... okelah.

            Setelah melaju beberapa lama, mobil angkutan melewati jalanan yang lumayan sepi. Aku menoleh ke luar lewat jendela. Rumah-rumah penduduk mulai berkurang. Kami melewati daerah pinggir kota. Akhirnya Sinta berkata berhenti kepada supir angkutan. Kami turun dari mobil angkutan tersebut.

            “Kita belum sampai..., rumahku masih agak jauh dari sini... tak apa-apa kan?”

            Aku mengangguk. Bagaimana lagi?

            Kami berjalan memasuki sebuah gang. Gang-gang selanjutnya yang kami lewati semakin sempit. Banyak anak-anak mondar-mandir. Ayam dan kambing juga tampak berseliweran. Aku menutup hidungku saat melewati kandang ayam dan kambing. Rumah Sinta kok di pelosok banget ya?

             “Kita sudah sampai... ini rumahku...”

            Aku menoleh ke samping. Sebuah rumah sederhana terlihat olehku. Atapnya tak terlalu tinggi. Dindingnya berwarna hijau muda. Taman kecil tampak di depan rumah. Sebuah pohon mangga besar terdapat di tengah-tengah taman. Ayunan menggantung di dahannya. Aku tersenyum. Rumah ini tampak asri dan nyaman walau sederhana.

            Sinta mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Suasana di dalam rumah tak kalah nyaman. Ruang tamunya rapi dan bernuansa alam. Foto-foto keluarga tampak digantung di dindingnya. Salah satu foto menyita perhatianku.

            Foto itu menampakkan seorang cowok berumur sekitar belasan tahun sedang tertawa gembira. Sebelah tangan cowok itu memegang seekor ikan yang sepertinya merupakan hasil tangkapan memancing. Mataku melihat lebih seksama. Tanganku menelusuri alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya. Cowok itu mirip Kak Edo!

            “Itu kakakku” Sinta muncul sambil membawa sebuah nampan berisi minuman. Aku menoleh. Berbagai pertanyaan muncul di benakku.

            “Kakak suka sekali memancing” Sinta tersenyum. “Aku sering di ajaknya ke laut”

            Mataku terbelalak. Aku masih kaget dengan kebetulan ini. “Jadi, cowok di foto ini kakakmu?”

            Sinta mengangguk. “Iya...”

            Aku duduk perlahan di atas sofa. Kejadian kemarin malam teringat kembali olehku. Astaga, aku sedang berada di rumah penolongku!

            “Kak Edo.. maksudku kakakmu ada di rumah?”

            Sinta menoleh kepadaku. Mata besarnya mengerjap-ngerjap heran. “Kamu tau nama kakakku? Kalian pernah bertemu sebelumnya?”

            Mataku menutup. Napas berat keluar dari hidungku. Aku mulai menceritakan kejadian kemarin malam kepada Sinta. Dia tampak serius mendengarkan ceritaku. Mulutnya sesekali mengucapkan istighfar. Senyumnya juga sesekali tampak. Sinta punya wajah yang ekspresif.

            “Jadi itu sebabnya...” Sinta bergumam.

            Sebelah alisku terangkat. “Kenapa Sinta?”

            Sinta terlihat gelisah antara mengatakan atau tidak apa yang dimaksudkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya.

            “Wajah kakakku terlihat lebam saat pulang tadi malam” Sinta memiringkan kepalanya. “Waktu aku tanya, ia hanya menjawab ada cowok yang cari gara-gara dengannya”

            Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan.

Roni!

            Roni dan Kak Edo berkelahi akibat ulahku??

            “Maaf...” aku menunduk lalu kutatap lagi wajah Sinta. “Aku mengakibatkan kakakmu begitu”

            Sinta menggerak-gerakkan sebelah tangannya.

“Oh, bukan luka yang parah! Kakakku tangguh!” Ia tersenyum. “Aku malah khawatir dengan keadaan mantan pacarmu”

Kami berdua tertawa. Benar juga. Roni terlihat kepayahan melawan Kak Edo kemarin malam.

“Assalamualaikum!”

Suara salam terdengar dari pintu depan. Aku dan Sinta menoleh. Senyum mengembang di wajahku.

“Kamu...??”

Aku bangkit dari sofa. Kakiku melangkah ke arah pintu. Kuulurkan tanganku.

“Perkenalkan nama saya Lira” aku tersenyum. “Saya teman sekelasnya Sinta”

 

  • view 114