Dont Love Me_Satu

Nadia Amalia
Karya Nadia Amalia Kategori Project
dipublikasikan 26 Desember 2016
Dont Love Me

Dont Love Me


Semenjak pertemuan di kala hujan dengan seorang cowok bernama Edo. Lira penasaran dengannya. Tapi ternyata cowok itu punya rahasia...

Kategori Fiksi Remaja

349 Hak Cipta Terlindungi
Dont Love Me_Satu

SATU

 

Sembilan tahun lalu..

            Hujan turun dengan derasnya. Samar-samar terdengar olehku suara dentingan alat makan. Hidungku mencium aroma kue dan kopi. Di sekelilingku, orang-orang asyik bercakap-cakap satu sama lain. Tampak para pramusaji sibuk melayani pelanggan cafe. Mereka berjalan kesana-kemari sambil membawa nampan berisi makanan ataupun minuman.

Cafe ini cukup luas. Temboknya berwarna putih. Dindingnya digantung lampu hias bergaya klasik pada sudut-sudutnya. Lantainya bermotif ornamen yang unik. Di setiap jendela tergantung tirai-tirai berwarna merah. Secara keseluruhan cafe ini bernuansa jaman victoria dan cukup nyaman.

Aku menatap ke luar jendela. Hujan masih turun. Kendaraan berlalu-lalang dengan sibuk. Para pejalan kaki berjalan di trotoar dengan payung atau jas hujan mereka. Langit begitu gelap. Kilat menyambar sebelum disusul suara gemuruh petir. Cuaca benar-benar sedang tidak bersahabat.

Aku mengalihkan pandangan ke jam tangan rolex hitam yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul sembilan malam. Aku menghela napas. Roni terlambat lagi. Dua jam lamanya aku telah menunggunya. Roni, dimana kau?

“Kopinya mau ditambah kak?” Seorang pramusaji bertanya kepadaku. Aku tersenyum kecut padanya. Tiga cangkir kopi telah kuhabiskan. Perutku mulai terasa tidak enak. Roni, ini gara-gara kau!

Aku menolak tawaran pramusaji itu dengan sopan. Dia tersenyum padaku sebelum pergi untuk melayani pelanggan lain.

Satu jam telah berlalu. Tanganku mengepal. Gigiku bergemeretak. Kesabaranku telah habis. Aku melambaikan tangan kepada seorang pramusaji. Pramusaji itu segera datang kepadaku. Aku meminta bon-ku padanya.

“Lira!”

Suara yang memanggil namaku itu terdengar familiar. Aku menoleh. Roni tampak berdiri di pintu masuk cafe. Tubuhnya sedikit basah. Kakinya mulai melangkah menuju tempatku duduk. Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa rasa bersalah. Aku semakin merasa kesal.

“Maaf sayang... aku terlambat... ada meeting anggota OSIS di luar jam sekolah tadi...” Roni duduk di hadapanku. Tangannya terulur untuk menggenggam tanganku.

Kutarik tanganku dari genggamannya. Roni sering membuatku kecewa akhir-akhir ini. Dia tidak hanya sering terlambat tapi juga acap kali membatalkan acara kami. Pertengkaran kerap terjadi di antara kami  dalam seminggu terakhir. Hubungan kami mulai retak. Pertemuan ini nyatanya untuk membahas masalah-masalah yang kami hadapi antara satu sama lain.

“Aku nunggu tiga jam tau nggak?!”

Roni kembali berusaha menggenggam tanganku. Kutepis tangannya dengan kasar. Dia berhenti mencoba. Tangannya merogoh kantung celananya. Sebatang rokok dinyalakannya.

“Ayolah... aku kan sudah minta maaf”

Aku menghela napas. Roni tak pernah benar-benar menyesali perbutannya. Percuma saja berdebat dengannya.

“Aku tau kamu kesal, aku akan bawa kamu ke suatu tempat” Roni menyeringai kepadaku. Rokok itu dihirupnya perlahan sebelum diletakkannya ke dalam asbak di atas meja restoran. Ia berdiri. Bon-ku diambilnya sebelum kakinya melangkah ke arah kasir.

Aku termenung sendiri. Pasti dia hanya membawaku ke mall seperti biasa saat ia menghiburku. Aku menghela napas. Roni terlalu mudah ditebak. Aku mulai bosan dengan perlakuannya padahal hubungan kami masih berjalan dua bulan. Aku merasa hubungan ini semakin hambar.

Hujan belum juga reda. Jalanan penuh genangan air. Aku dan Roni berlari menuju tempat parkir mobil. Roni bahkan tak repot-repot memayungiku dengan jaket yang dikenakannya. Aku merasa sedikit kecewa dengan sikapnya. Roni selalu bersikap acuh padaku.

Kami melenggang di jalan raya. Aku menoleh sesekali ke arah Roni. Raut wajahnya tampak bahagia. Senyum tersungging di bibirnya. Aku penasaran apa yang dipikirkannya tapi terlalu gengsi untuk bertanya.

Mobil berhenti di depan sebuah hotel. Roni melepas sabuk pengamannya. Dia menoleh ke arahku. Senyum semakin lebar tersungging di bibirnya. Perlahan di bukanya sabuk pengamanku.

“Sudah sampai”

Aku menatap keluar jendela mobil. Hotel itu besar sekali. Lantainya mungkin berjumlah lebih dari lima. Mobil-mobil bermerk terkenal di parkir di depannya.

Aku kembali menoleh ke arah Roni. “Mengapa kau mengajakku ke sini?”

“Temanku merayakan pesta kecil-kecilan di hotel ini” Roni menyalakan rokoknya dengan pematik. Asap rokok di hembuskannya melalui mulut. Pematik itu dimasukkan kembali ke dalam kantong celananya. Kunci mobil diambilnya lalu dibukanya pintu di sampingnya. Ia berjalan memutari mobil untuk membukakan pintuku. Punggungnya membungkuk dan tangannya terbuka mempersilahkan aku keluar.

Kakiku melangkah keluar mobil. Aku berlari ke tempat yang teduh untuk menghindari hujan. Mataku melihat ke sekeliling. Hotel itu benar-benar besar. Atapnya tinggi. Temboknya berwarna putih dan emas. Lampu-lampu gantung berwarna keemasan menempel pada dindingnya. Karpet merah diletakkan pada tangga menuju pintu masuk. Daun pintunya lebar dan berwarna coklat keemasan. Hotel ini tampak begitu mewah.

Aku menunggu di lobi hotel sementara Roni meminta ijin ke bagian resepsionis. Ruangan dalam hotel tak kalah bagus. Lampu besar indah tergantung pada langit-langitnya. Hiasan batu-batu berwarna-warni dengan elok menghiasi dinding bagian dalam. Lantainya bercorak ornamen bergaya romawi. Air terjun buatan terdapat pada salah satu dindingnya yang terbuat dari kaca. Aku mulai merasa nyaman dengan hotel ini.

Roni mengajakku ke sebuah koridor hotel yang panjang. Kami sampai di samping sebuah kamar hotel. Kunci yang diberikan petugas resepsionis digunakannya untuk membuka kamar itu. Ia menyuruhku masuk. Aku menurutinya tanpa banyak bertanya.

“Tunggulah di sini dulu, sebentar lagi temenku datang buat merias kamu... aku ke bawah dulu... pestanya di restoran hotel” 

Roni menutup pintu kamar itu.

Aku berjalan ke sebuah spring bed berwarna merah marun yang terletak di pojok ruangan. Kuhempaskan pantatku di atasnya. Rasanya empuk sekali.

Kamar ini cukup luas. Dindingnya berwarna putih dan sebagian dihiasi wallpaper bermotif bunga berwarna biru. Jendela besar bergaya gregorian terdapat pada salah satu dindingnya yang menghadap ke luar. Lantainya beralaskan karpet model persia yang terlihat tebal dan lembut. Lemari bergaya minimalis tampak di salah satu pojok ruangannya.

Aku menunggu kurang lebih selama lima belas menit sampai seseorang membuka pintu kamar. Roni muncul dengan seulas senyum. Di tutupnya pintu kamar perlahan. Tangannya menggenggam sebuah benda berwarna hitam. Dia berjalan menyeberangi ruangan menuju tempatku duduk.

“Mana temenmu?” Aku bertanya dengan nada heran kepada Roni. Aku ingat ia sebelumnya telah berkata bahwa salah seorang temannya akan datang untuk meriasku. Orang itu tak tampak muncul bersamanya.

Roni tidak menjawab pertanyaanku. Ia tetap berjalan ke arahku sampai jarak kami dekat sekali. Punggungnya membungkuk dan wajahnya tepat di depan wajahku. Seulas seringai tampak muncul di wajahnya.

“Pakai ini”

Keningku berkerut heran. Di depanku, tangan Roni mengangkat benda berwarna hitam yang dibawanya sejak awal masuk kamar. Perlahan tanganku mengambil benda itu dari tangannya. Kubuka lipatannya.

Sebuah pakaian dalam berwarna hitam

Kurasakan wajahku mulai memanas. Aku mulai tau apa yang sedang diinginkan Roni saat ini. Kuhempaskan benda itu ke lantai.

“Kau membohongiku!”

Roni menegakkan tubuhnya. Ia berjalan mundur. Mulutnya tertawa. Kedua tangannya terbuka lebar.

“Ayolah sayang.... kau tak menginginkannya?”

Aku berdiri. Kakiku melangkah menuju pintu. Tanganku berusaha membuka pintu itu.

Terkunci.

Aku menoleh ke belakang. Roni telah berada tepat di belakangku. Tangannya bergerak merangkul pinggangku. Kulepaskan tangannya dengan kasar.

“Kita baru pacaran dua bulan!”

Dan sepertinya perasaanku padamu mulai hilang. Kau sering mengecewakanku. Lalu sekarang kau mau berhubungan intim padaku? Yang benar saja! Bagaimana dengan pertengkaran kita selama ini?! Kau mau melupakannya begitu saja?!

Hatiku terbakar amarah.

Roni mendekatkan wajahnya ke leherku. Tubuhku dikuncinya. Selangkaku perlahan di gigitnya. Aku berteriak agar ia berhenti melakukan hal itu. Tubuhku meronta untuk melepaskan diri. Akhirnya ia berhenti melakukannya.

“Kau tidak mencintaiku?!”

Roni berteriak kepadaku. Wajahnya memerah syarat akan kemarahan.

“Tidak lagi!”

Aku membalas teriakannya. Tubuhku bergetar. Aku menyadari sesuatu. Roni hanya mencintai tubuhku. Kutarik napas dalam-dalam.

“Kita putus!”

Roni seperti kesetanan berusaha membuka kancing bagian atas bajuku. Aku berteriak minta tolong seraya melawannya sebelum telapak tangannya menutup mulut dan hidungku. Kemudian ia menyeretku menuju kasur. Dijembabkannya aku diatasnya. Kedua tangannya bergerak untuk menahanku. Aku kembali berteriak minta tolong sambil berusaha melepaskan diri. Tangannya kembali menutup mulut dan hidungku. Mulutku tak lagi bisa mengeluarkan suara. Hidungku tak lagi bisa bernapas. Kesadaranku mulai hilang. Samar-samar kulihat Roni yang tertawa. Sampai...

“Hei!”

Roni melepaskan telapak tangannya. Aku terbatuk seraya berusaha menghirup kembali udara segar. Kudengar Roni mengumpat. Dia segera turun dari kasur. Aku berusaha bangkit walau masih terasa pening. Seorang laki-laki kulihat sedang berdiri di depan pintu. Pandanganku mulai jelas. Laki-laki itu mengenakan seragam bell boy. Hotel ini pasti memperkerjakannya. Aku segera berpikir cepat. Aku turun dari kasur dan berlari ke arah pintu.

“Dia hendak memperkosaku!”

Laki-laki itu tampak sedikit terkejut setelah mendengar perkataanku. Tapi wajahnya dengan cepat kembali normal. Kakinya perlahan maju. Ia melewatiku sampai tepat beberapa langkah di depan Roni.

“Anda dengar pengakuan gadis ini? Anda melakukan hal yang tak pantas kepadanya”

Wajah Roni tampak sedikit terkejut dengan kelugasan laki-laki itu. Namun dengan cepat ia kembali menguasai diri.

“Kami sepasang kekasih” Roni tersenyum padaku. Kakinya melangkah mendekatiku. Aku berusaha mundur sebelum ia menangkap bahuku.

“Dia cewekku”

Laki-laki bell boy itu melipat tangannya. “Benarkah itu Nona?”

Aku mengangguk. Aku tak bisa menyangkal kenyataan itu.

Laki-laki bell boy itu terlihat tak puas. “Mengapa saya mendengar suara teriakan minta tolong seorang wanita dari dalam kamar ini? Itu Anda kan Nona?”

Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. “Tapi dia berusaha memaksa saya berhubungan intim dengannya sedangkan saya...”

Kedua pria itu menunggu perkataanku selanjutnya.

“... tidak cinta lagi padanya!”

Mataku menangkap tawa tertahan dari wajah laki-laki bell boy itu. Astaga, apa aku terlihat seperti gadis bodoh?

            “Baiklah... saya pegawai di sini sehingga ikut bertanggung jawab atas kejadian yang terjadi di hotel ini... mengenai masalah ini.. walaupun Anda berdua pasangan kekasih tapi Nona ini jelas keberatan dengan perlakuan yang telah diterimanya....”

            Laki-laki bell boy itu menghadap ke arahku. “Nona bisa menuntut kekasih Anda ke pengadilan”

            “Hei.. yang benar saja...” Tawa keluar dari mulut Roni. “Ini hanya percekcokan kecil...”

            Laki-laki bell boy itu menghadap ke Roni. Dengan masih melipat tangannya ia maju ke depan. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Setelah sampai cukup dekat dengan tempat Roni berdiri, ia berkata. “Anda dapat dijerat hukuman pidana  yang berbunyi barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia...”

Aku tak bisa menyembunyikan senyumku. Roni berdiri tak berkutik di sampingku. Laki-laki bell boy itu mendekatkan mulutnya ke telinga Roni. “... dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun...”

Mulut Roni terbuka. Mukanya memerah.

“Kau...!”

Roni melayangkan tinjunya ke depan. Laki-laki bell boy itu dengan sigap menahan serangannya. Tangannya bergerak untuk menangkap kepalan tangan Roni sebelum memutarnya. Roni berteriak kesakitan sampai ia jatuh tersungkur dengan lutut di lantai.

 Laki-laki bell boy itu melepaskan tangannya pada Roni. Dia menoleh ke arahku.

“Mari ikut saya... saya akan memanggilkan taksi untuk Anda jika Anda sedang tidak membawa kendaraan... atau Anda ingin menelepon seseorang untuk menjemput Anda?”

Aku melongo menatap Roni yang kesakitan di lantai. Kemudian wajahku kembali menatap laki-laki bell boy itu. Senyumku mengembang.

“Taksi...! ya... tolong antarkan saya memanggil taksi...!”

  • view 105