Dont Love Me_Prolog

Nadia Amalia
Karya Nadia Amalia Kategori Project
dipublikasikan 26 Desember 2016
Dont Love Me

Dont Love Me


Semenjak pertemuan di kala hujan dengan seorang cowok bernama Edo. Lira penasaran dengannya. Tapi ternyata cowok itu punya rahasia...

Kategori Fiksi Remaja

455 Hak Cipta Terlindungi
Dont Love Me_Prolog

PROLOG

 

Air laut menyapu pelan jemari kakiku. Suara burung camar mengisi udara sore hari di pantai. Tawa anak-anak menari di telingaku bagai suara lonceng yang merdu. Kuambil sebongkah batu pipih lalu kulemparkan ke laut. Batu itu melompat-lompat sekiranya hendak mengajakku berlomba.

Kuhirup napas dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan.

Segar.

Ini bukan kali pertama aku ke laut. Entahlah, aku sering merindukan laut akhir-akhir ini. Laut mengingatkanku akan memori yang ingin selalu kukenang. Memori yang membahagiakan sekaligus menyakitkan. Memori yang akan bertahan di benakku selamanya. Tersimpan rapi dalam sudut terdalam ingatanku. Keluar setiap waktu, mengiringiku siang dan malam. Semacam kutukan namun tetap saja kurindukan. Kupegang begitu erat memori itu. Jika terlepas sedikit saja, kembali kutambatkan dengan tali paling kuat. Semakin kuat tali itu mengikat semakin menyakitkan namun kunikmati dalam setiap tarikkan napasku. Memori itu membelaiku sebelum tidur dan yang pertama kuingat saat membuka mata.

Senja masih mengintip malu-malu. Bagai perawan yang menanti di balik tirai kamarnya. Menunggu sang pelamar pulang. Menunggu saat malam ketika ia bermimpi bertemu pujaan hati. Senja di pantai ini memang terkenal indah. Di sekelilingku banyak orang mengabadikan momen ini dengan kameranya atau sekedar menikmati dengan mata telanjang. Selama ini kurasakan senja di pantai ini selalu terlihat dan terasa berbeda. Kali ini juga. Rasa kecewa menggelayutiku. Aku ingin senja kembali seperti dulu. Ketika memori itu mulai menyusun batu pertamanya.

Suara deburan ombak semakin menderu. Malam mulai memanjangkan lengannya. Kutelusuri kembali tepi pantai. Kurasakan pasir pantai perlahan terasa dingin di telapak kakiku. Lampu-lampu kios di sepanjang pantai mulai menyala. Dari jauh, kulihat perahu-perahu mulai dilepas tambatnya oleh para nelayan. Hidungku mulai mencium wangi ikan bakar. Orang-orang mulai bermunculan dari losmen atau hotel mereka. Kehidupan malam mulai mengembuskan napas dinginnya.

Kulirik arlojiku. Pukul enam lebih sepuluh. Kepalaku menoleh ke kanan kiri mencari tempat yang ingin kutuju. Akhirnya aku menemukan mushola. Kukayuh kakiku semakin cepat. Orang-orang mulai datang berbondong-bondong untuk mengambil wudhu. Kuikuti mereka.

Setelah salat, aku merasa lebih segar. Kuputuskan untuk kembali ke hotel. Aku tak terlalu suka berjalan-jalan di malam hari. Aku sempat bingung menemukan jalan menuju hotel. Arah bukan keahlianku. Setelah melewati beberapa kios dan jalan, aku mulai yakin telah berjalan ke arah yang benar. Mungkin tinggal beberapa ratus meter lagi.

“Lira!”

Langkahku terhenti. Aku menoleh. Seseorang menyebut namaku.

“Sinta?”Senyumku mengembang. Tak kusangka aku bertemu Sinta di pantai ini. Memori itu bangkit kembali. Sinta masih seperti dulu. Badannya langsing. Rambutnya panjang. Matanya yang lebar selalu mengingatkanku dengan artis korea yang kusenangi.

Kami melepas rindu setelah enam tahun tak bertemu. Kuajak dia ke hotel tempatku menginap. Ia menyetujuinya. Kami merangkul lengan satu sama lain sambil tertawa-tawa mengenang masa-masa SMA. Tak kami hiraukan tatapan heran satu dua orang yang melihat kami. Ini pantai. Kurasa banyak orang yang bertingkah seperti kami.

Setelah tiba di kamar hotel aku dan Sinta bergantian membersihkan diri terlebih dahulu. Tepat saat kami sudah selesai, makan malamku datang. Aku memesan satu porsi lagi untuk Sinta. Ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Kamarku cukup besar. Temboknya berwarna merah tua. Dindingnya digantung lampu hias pada sudut-sudutnya. Lantainya bermotif kayu. Perabotnya juga cukup lengkap. Dua spring bed, satu lemari dan sebuah meja antik kecil. Di salah satu sisi dinding terdapat wastafel. Secara keseluruhan bernuansa sedikit primitif namun cukup nyaman. Aku dan Sinta duduk di atas kasur melepas penat.

“Aku nggak percaya ketemu kamu disini!”Sinta meremas tanganku. Senyum manisnya mengembang. Aku mendesah pelan. Sinta tetap cantik seperti dulu. Seakan waktu tak mampu menggoreskan sedikitpun ketajamannya ke wajah elok itu. Matanya yang bening. Alisnya yang tebal. Hidung mancung dan dagunya yang terbelah. Seakan Tuhan sendiri yang memahatnya.

“iya, sudah berapa lama? Enam tahun?”

Sinta mengangguk kecil. “Kamu masih mengenangnya ya?”

Aku terdiam. Sinta salah satu orang yang tau memori yang berusaha kusimpan. Kelegaan kurasakan mengetahui seseorang mengetahui posisiku. Setidaknya ada orang yang memahamiku. Pada waktu yang tepat, orang itu akan menarikku kembali ke dunia nyata.

“Kau sangat merindukannya?”Mata bulat Sinta melebar.

Aku mendesah pelan. Kubaringkan tubuhku. Sinta mengelus kepalaku perlahan. Diantara sahabat-sahabatku, Sinta yang paling berjiwa keibuan. Satu-satunya yang paling kami ingat darinya adalah ia akan mengelus kepala kami ketika kami sedang sedih. Tangan Sinta yang lembut seakan meredakan sakit yang kami rasakan.

“Apa kesibukanmu akhir-akhir ini?”

Sinta tertawa. “Aku mengajar di TK sekarang”

Aku menyembunyikan senyum. Sudah kuduga. Dengan sifat keibuannya, Sinta memang cocok menjadi guru. Sinta pernah berkata padaku ia ingin punya yayasan yatim piatu sendiri. Ia masih menginginkannya. Bahkan ia dan suaminya mulai merencanakannya. Ia bercerita kepadaku bahwa usia pernikahannya baru menginjak dua tahun. Ia dan suaminya belum dikaruniai anak. Ia mengikuti liburan kantor suaminya ke pantai ini.

            Sinta turun dari kasur dan menelusuri kamar. Langkah ringannya berhenti di depan meja. Dipandangnya sebuah pigura kecil ukuran lima belas kali sepuluh yang selalu kubawa. Digenggamnya pigura itu lalu ia tersenyum

            “Kalian terlihat serasi di foto ini”

            Aku menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca. Kupalingkan mukaku. Aku tak mau terlihat rapuh saat ini. Aku berdiri dan berjalan mendekati Sinta. Kuelus perlahan pigura di tangannya. Tanpa terasa air mataku menetes.

            “Maaf, seharusnya aku...”

            “Tak apa Sinta...” aku tersenyum menahan sakit di dada. Rasanya sesak sekali. “Ceritakan padaku... masa lalunya.. masa lalu kakakmu”

Sinta menatapku iba. Dielusnya kepalaku. Dibenamkannya aku ke dadanya. “Ssh... menangislah kalau kau memang ingin menangis”

“Aku.. aku...”

“Ssh.. baiklah... akan kuceritakan...”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 158