Tak Ada yang Kekal

Nadia Amalia
Karya Nadia Amalia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Desember 2016
Tak Ada yang Kekal

Tak Ada yang Kekal

 

Namanya Adam. Dia orang paling gila yang pernah kutemui. Dia bisa lebih gila lagi kau tau. Tapi dia temanku. Dan aku menghormatinya. Dia tau cara mengatasi masalah. Dia hebat.

            Adam dan aku lahir beda ibu dan ayah, tapi aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Itu karena ibuku mengadopsinya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Sedangkan ibunya lebih memikirkan suami barunya daripada anaknya.

            Kami telah tinggal bersama selama tiga tahun. Sangat menyenangkan tinggal satu atap dengan sahabatmu. Kami biasa pergi memancing berdua. Ibuku sangat menyukai Adam. Dia semacam pembawa keceriaan dalam rumah. Ayahku meninggal karena sakit jantung. Sejak itu ibuku tak pernah sekalipun berhenti memikirkannya. Tapi sejak Adam datang, wajah ibuku kembali dihiasi senyum.

            Adam tau cara menghadapi orang. Dia sangat tau tentang hal itu. Dia jarang gagal. Kadang aku berpikir apa dia sempat berusaha. Dia bagus dalam bidang apapun kecuali pelajaran. Yah,dia bukan pelajar yang baik. Tapi dia jago olahraga dan bermain billiar. Aku mengaguminya terkadang. Dia sering menang bermain billiar. Itu sangat membantu keuangan kami. Disamping itu semua, ibu tak terlalu mempermasalahkan nilainya. Ibu berpikir setiap orang punya kelebihan di bidang tertentu.

            Adam punya kecenderungan berbuat kriminal. Tapi tidak berbahaya jika kau tau maksudku. Dia bahkan berteman dengan anak punk. Ibu tidak mempermasalahkannya. Dia sangat menyayangi Adam. Kadang aku berpikir apa rasa sayangnya melebihi rasa sayangnya padaku. Tapi aku tak mau terlalu sensitif. Adam bagaimanapun juga berhak mendapatkan perhatian. Dia hanya seorang remaja sepertiku.

            Saat Adam masih kecil dia pernah berkata padaku alasan orangtuanya cerai karena ibunya dekat dengan lelaki lain. Setelahnya beberapa tahun kemudian ayahnya meninggal. Ibunya melupakannya dan ibuku terketuk hatinya untuk mengadopsinya pada umur tiga belas tahun. Hukum memperbolehkannya karena bisa dikatakan sang ibu melalaikan anaknya. Aku kasihan padanya, Adam. Dia berhak mendapat yang lebih baik dari ini. Tapi tak bisa kupingkiri aku juga senang punya saudara.

            Adam tidak suka jika aku berbohong. Tapi kadang aku berpikir apakah dia mengingkari janjinya. Setelah beberapa lama kami menganggap apa yang dikatakan masing-masing adalah benar.

Kami senang menculik teman kita Pepi. Aku menggunakan kata menculik karena Pepi tinggal di asrama. Ibunya ingin dia sekolah di luar kota sehingga dia sekolah di sekolah swasta yang menyediakan asrama. Aku dan Adam mengenal Pepi sejak lama. Kami teman satu TK. Aku tak percaya kami bisa akrab sampai SMA. Tapi Pepi cewek yang menyenangkan. Dia membuat kami tertawa. Dia hebat.

            Pepi ingin membeli coklat untuk pacarnya. Aku dan Adam menemaninya agar dia tidak diculik. Dia senang berkeliaran. Pacarnya juga pernah berpesan pada kami untuk menjaganya saat ia tidak di sekitar. Sulit mengatakannya. Tapi aku menyukai Pepi. Dia malaikatku. Dia selalu tau cara membuatku tersenyum. Kalau saja bukan Soni yang memacarinya dulu. Aku tebak Adam tau yang aku rasakan. Dia sahabatku. Kadang aku berpikir apa aku benar-benar tau Adam. Dia selalu menyembunyikan perasaannya. Bahkan saat aku berusaha untuk mengoreknya dia menutup mulutnya rapat-rapat. Dia hebat soal menyimpan rahasia.

            Ibu berpesan pada kami untuk tidak mencuri. Beliau tidak mau kami berubah menjadi anak punk seperti teman-teman Adam. Berteman boleh tapi tidak mencontoh. Ibuku memang hebat dalam memberi peraturan pada kami. Pernah beliau menghukum kami karena bolos sekolah dengan menyuruh kami mengecat tembok rumah menjadi pink. Dua minggu kami diejek teman-teman sebelum mengembalikannya menjadi warna hijau. Ibu santai saja. Itulah ibuku. Dia akan menanggung malu bersama anak-anaknya. Memberi pelajaran kepada kami secara tersirat dengan caranya yang tidak biasa.

            Tapi ini lain. Pepi membeli coklat membuatku ingin mencurinya saja. Dia benar-benar sesuatu. Apa uang sakunya masih tersisa?

            “lain kali kau berbuat seperti ini, aku minta uang ke kau saja”Adam berkata kepada Pepi.

            Pepi tersenyum, Dia tau Adam sangat menyukai uang. “cuci dulu mobil ayahku baru aku mau memberimu uang!”

            “huu.., peritungan!”Adam bergumam. Pepi mencubitnya. Pipiku memerah.

            Pepi punya senyum yang menawan. Dia melakukannya tanpa berusaha. Soni cowok yang beruntung.

            Aku pernah diculik waktu kecil. Pelakunya meninggalkanku di gudang yang sulit kuingat hingga sekarang. Itu adalah waktu ketika ayahku masih kaya. Seseorang menyelamatkanku. Aku pikir itu ayah. Tapi aku hampir menangis saat mengetahui Adam muncul dalam tubuh kecilnya. Lututnya berdarah. Aku sulit mengingat apa yang terjadi selanjutnya. Aku hanya ingat senyum Pepi yang mencoba menenangkanku di taman sebelum kami pulang jalan bersama.

            Banyak sekali kenanganku dengan mereka berdua. Kadang aku berpikir tak pernah berpisah dengan mereka. Pikiran yang egois tapi benar-benar ingin kuwujudkan. Aku tak mau kehilangan salah satu pun dari mereka kapan pun juga.

            “Edo, gimana hubunganmu dengan Chika?”Pepi berkata dengan mata indahnya terbuka lebar.

            Aku diam saja. Chika dan aku hanya teman. Aku suka kau Pepi.

            “wooo, sahabatku malu rupanya”Adam merangkul pundakku.

            “dia cuma teman, oke?”aku berbicara ketus.

            Adam dan Pepi membuat suara yang membuatku membenci mereka selamanya.

            Aku menghela napas. Chika adik kelasku yang dijodoh-jodohin denganku saat MOS. Aku menganggapnya sebagai adik yang lucu. Itu saja. Yang aku pikirkan hanya Pepi.

            “sampai jumpa lagi!”Pepi memberiku senyuman dan melambai. Aku dan Adam menatapnya sampai ia menghilang di balik gedung asrama.

            “ayo jenguk ibu!”Adam berlari sambil menarikku.

            Sudah satu minggu ibu di opname di rumah sakit. Ibu menderita tumor. Adam dan aku berjuang mencari uang untuk membiayai pengobatan. Kadang aku berpikir Adam berusaha terlalu keras. Dia jatuh sakit tiga hari yang lalu karena bekerja semalaman sebagai pengantar barang. Kadang aku berpikir dia sangat menyayangi ibuku melebihi rasa sayangku pada ibuku sendiri. Adam benar-benar sahabat yang baik.

            Ibu tidak kunjung membaik. Kami butuh obat lebih mahal. Aku tak tau lagi darimana mendapatkan uang. Kami telah mencoba segalanya semampu kami.

“kita harus mencuri!”Adam berbicara padaku. “kau tahu seperti robin hood, kita butuh uang itu.”

            Aku terdiam cukup lama. Apa Adam sudah gila?

            “tidak kawan, kita bisa masuk penjara”

            “aku tidak peduli! Asal ibu sembuh!”dia berkata diantara giginya. Adam berbalik dan meninggalkanku di saat hujan mulai turun.

            Malamnya Adam pulang larut. Aku bertanya padanya.

            “gimana? Katakan padaku”aku menyeringai. “kau tidak mencuri kan?”

            “tidak, kau benar”dia menunjukkan gigi putihnya. “aku tak bisa melakukannya”

            “bagaimana dengan Soni? Kita bisa pinjam uangnya, dia kaya”

            “kau lupa kita punya satu teman yang juga kaya”

            Pepi.

            “dia akan menyuruhmu mencuci mobilnya seribu kali baru memberimu uang”kami tertawa bersama.

            Pepi mau meminjamkan uang kepada kami. Tapi kami butuh lebih banyak. Lalu saat kembali mengunjungi ibu di rumah sakit kami bertemu Soni.

            “Apa yang kamu lakukan disini?”

            “oh, menemani tanteku, dia cek ke dokter kecantikan”

            Soni tinggal bersama tantenya. Dia yatim piatu. Orang tuanya meninggalkan banyak warisan untuknya.

            Berat pinjam kepada Soni. Aku dan adam tak terlalu dekat dengannya. Tapi kami harus melakukannya. Sekarang semua orang tau kami butuh uang. Tak apalah.

            “tak ada temanku yang kesulitan uang” Soni memang baik sekali. Tak heran Pepi mau pacaran dengannya.

            “aku harus kembali sekarang sampai jumpa nanti!”

            Kami mengangguk dan tersenyum.

            “sudah kubilang dia bakalan minjemin kita uang”aku berkata kepada Adam dengan raut kemenangan.

            “Soni baik sekali, kita harus membalas budinya suatu hari nanti”Adam merenung.

            “ah, jangan terlalu dipikirkan, dia senang kok membantu kita”

            Setelah pulang dari rumah sakit kami mengunjungi Pepi di asramanya.

            “Jadi pacarku minjemin kalian uang ya?”Pepi mengelus dagunya. Dia tersenyum. “Soni-ku baik kan?”

            Aku tak suka caranya berbicara. Tapi kuakui Soni memang baik. Aku sedikit cemburu.

            “Apa yang biasa kau lakukan di hari libur?”

            “aku harus pergi ke bank, ada yang mau kuurus, kau bisa ke rumahku setelahnya”Pepi tersenyum pada kami.

            “ide bagus, aku tunggu kau pukul sepuluh di rumahmu”jawab Adam sambil naik ke atas sepedanya. Aku mengikutinya.

            Sisanya merupakan waktu yang panjang bagiku. Pepi tak kunjung datang. Hampir pukul setengah dua belas dia akhirnya datang.

            “dua puluh bayi lahir di kompleks ini sementara kamu pergi”Adam mendengus kesal. Dia tak suka menunggu.

            Setelahnya kami kembali menghabiskan waktu bersama.

            Hampir jam enam pagi dan Adam belum pulang. Dia sering pulang larut akhir-akhir ini. Aku khawatir dia melakukan sesuatu yang gila. Seperti dia biasanya.

            Apa dia kerja?. Mungkin dia kerja. Sejak keadaan ibu membaik dia rajin sekali memberi uang. Bukan narkoba kan? Aku akan membunuhnya jika dia terlibat perdagangan narkoba.

            Tapi Adam semakin lain. Dia semakin kurus dan pucat. Dia tak fokus lagi jika kuajak berbicara. Sesuatu terjadi padanya.

            “kau pernah mengunjungi ibumu?”

            Adam tersentak saat aku menyebutkan ibunya. Dia tak seperti biasanya. Biasanya dia hanya sedikit marah saat aku mengungkitnya.

            “Jangan bicara tentangnya lagi!”dia mulai lagi. Adam yang malang. Tidak seharusnya ia membenci ibunya. Tapi wanita itu telah mematahkan hatinya.

            “jangan katakan pada ibu oke?”

            Aku langsung waspada. Apa yang coba Adam katakan?

            “dia berniat meminjamiku uang, tapi aku lebih baik mati dari pada menerima uang dari wanita itu”

            Jadi beliau masih peduli pada Adam. Aku membayangkan beliau secara rahasia mengawasi Adam.

            “anak-anak punk itu membantuku mencari uang, jangan salahkan aku jika aku ikut cara hidup mereka”

            “Adam! Kau tidak mencoba mengatakan...!”

            Adam memandangku dengan mata coklat besarnya. “aku tak ingin ini terjadi, tapi beginilah... aku sudah pake sabu”

            Dia terlihat tenang dan pasrah.

“mereka temanku”

            “aku temanmu!”aku merasakan darahku mendidih.”aku saudaramu! Kalau terjadi sesuatu padamu aku tak bisa memaafkan diriku sendiri!”

            “maaf”hanya itu yang dikatakan Adam.

 

            Sudah dua minggu aku tidak melihat Adam. Dia jarang terlihat sebelumnya. Ibu menangis terus mengetahui nasib Adam. Tapi tak ada yang bisa kami lakukan.

            Akhirnya aku lulus dari SMA dan mendapat beasiswa. Seseorang mengirimiku surat mengatakan akan memberiku tunjangan hidup yang cukup. Aku senang sekali. Akhirnya aku bisa membanggakan ibu.

            Aku rindu Adam. Teman kecilku. Saudaraku. Tapi dia sudah punya jalannya sendiri. Kadang aku menyalahkan takdir. Seharusnya Adam tidak pergi seperti keinginanku dulu. Aku tak mau berpisah dengan sahabat-sahabatku.

            Seharusnya tidak terjadi. Adam punya masa depan yang lebih baik. Untuk apa ibu mengadopsinya?. Lalu aku menyadari Adam tak sama dengan diriku. Dia membiarkan hidupnya berlalu seperti angin yang bertiup.

            Aku masih menerima uang tunjangan dalam amplop putih setiap awal bulan. Diantar oleh seorang anak laki-laki kecil dimana seseorang telah membungkam mulutnya agar tak mengungkapkannya padaku. Aku penasaran sekali siapa yang mengirimnya. Apakah Pepi? Tapi tak ada alasan mengapa ia mengirimnya. Mungkin  ibunya? karena ibu Pepi sahabat SMA ibuku. Kemungkinan itu kurasa cukup besar. Apa Soni? Kami bersahabat erat semenjak beberapa tahun ini. Sekarang aku sudah semester dua. Aku berandai jika saja Adam mendapat keberuntungan sepertiku. Aku masih merasa bersalah. Seharusnya aku menjaganya sebagai seorang saudara.

            Mungkin memang benar Soni? Dia sering menatapku dengan pandangan iba dan mengatakan hal-hal seperti ‘manfaatkan baik-baik kesempatan itu’ atau ‘kamu termasuk yang beruntung’. Soni benar benar baik. Aku harus sering-sering mengajaknya minum kopi.

            Pasti orang yang dekat. Ia mengawasiku. Ya,pastilah Soni!

            Malam itu Soni menonton bola di rumahku. Aku bertanya secara tersirat padanya tanpa menimbulkan kecurigaan.

            “apa kamu melakukan hal yang baik akhir-akhir ini?”

            Soni berhenti melihat TV dan menatapku dengan setengah alis naik. “kenapa tiba-tiba kamu...”

            “tak apa” mungkin berterus terang sekarang kalau aku tahu bahwa ia yang melakukannya bukan waktu yang tepat. Kuurungkan niatku.

            Tengah malamnya aku berpikir tentang Adam. Kami biasa nonton bola juga. Apa dia baik-baik saja?

 Entah datang dari mana tiba-tiba aku memikirkan Chika, adik kelasku di SMA dulu. Dia satu kampus denganku. Jurusan psikologi. Senyumnya tambah manis akhir-akhir ini.

            Hari selanjutnya aku menemui Chika dan mengajaknya kencan. Aku benar benar menyukainya. Sepertinya sudah saatnya aku melupakan Pepi.  

            Chika tau selama ini kami hanya teman, tapi dia menerima ajakan kencanku. Kami pergi bersepeda motor. Soni yang meminjamkannya padaku. Aku dan Chika pergi ke gunung. Memang bukan tempat lazim untuk kencan tapi Chika yang memintanya. Aku menurut saja dengan permintaan Chika.

            Saat itu hari yang cerah. Burung-burung berkicauan. Mengingatkanku akan memori masa kecilku dengan Adam dan Pepi. Kami tak pernah berkumpul di gunung seperti itu lagi. Kadang aku berpikir kebiasaan itu tak akan terulang kembali. Adam selalu mendapat buah paling banyak. Pepi sering terisak karena jatuh. Adam harus membawa Pepi di punggungnya agar kami tak dimarahi ibu Pepi.

            Mata air itu masih disana. Tempat yang tepat bagiku dan Adam untuk berenang. Pepi biasa menonton kami. Dia takut basah. Pepi tetap menjaga keanggunannya dimanapun ia berada. Entah mengapa tiba tiba aku merasa sendiri walau Chika disampingku.

            Kami pulang dan tidak ada yang terjadi. Aku bersikap kasar dengan mengacuhkan Chika sepanjang kencan. Aku bertanya-tanya apakah aku benar-benar menyukai Chika atau hanya kesepian. Lalu kuputuskan untuk menertawakan diriku sendiri. Aku bersikap tak masuk akal akhir-akhir ini.

            Aku harus menemui Pepi. Aku rindu padanya. Aku bersikap tak adil pada Chika dan merasa mengkhianati Soni tapi apa salahnya hanya bertemu? Malam itu aku menemui Pepi di rumahnya. Dia telah memakai gaun tidur.

            “Hei yang benar saja Edo, ini jam sebelas malam”Pepi menguap. Mata mengantuknya terlihat sayu.

            “aku tahu”seketika aku lupa apa tujuanku menemuinya.

            “ada apa?”

            Aku merindukanmu. Tentu aku tak bisa mengatakannya. Dia mungkin hanya akan berkata ‘kau gila ya?’

            “Sampai nanti”aku bergegas ke motor dan meninggalkan Pepi. Pepi berteriak memanggilku tapi aku serasa perlahan kehilangan kemampuan mendengar. Suara – suara di pikirankulah yang menguasaiku.

            Aku berkeliling kompleks. Memikirkan betapa bodohnya tindakanku tadi. Aku melalang buana tak karuan sampai pukul satu. Lalu saat mulai merasa mengantuk, aku berbalik pulang. Di rumah, aku jatuh tertidur dengan perasaan tak nyaman di dada.

            Awal bulan ini aku tak menerima amplop putih itu seperti biasanya. Tapi amplop berwarna biru. Aku bingung tapi juga penasaran. Kubuka amplop itu. Ada secarik surat  didalamnya.

            Temui aku di taman kota pukul 12.30. Kau akan segera mengenaliku.

            Aku mengayuh kakiku ke taman kota. Aku melihat Soni menungguku. Dia terlihat pucat dan gelisah.

            “ada seseorang yang ingin aku pertemukan denganmu”

            Aku kembali bingung. Aku tahu Soni yang mengirimkan semua surat itu tapi mengapa dia tak menelepon atau menemuiku langsung saja?

            “orang itu tak mau ibumu tau”

            Soni memang aneh. Kenapa tidak dia katakan saja siapa orang yang ingin ia pertemukan denganku itu.

            “kau akan terkejut”

            Aku bungkam. Kami berkendara dengan motor sampai keluar kota. Tak terlalu jauh karena jarak taman dengan perbatasan cukup dekat.

            “Edo, kau kah itu?” aku mendengar nada terkejut dari suara seseorang yang sangat kukenal.

            Adam terlihat kurus. Dia tersenyum dengan tulang pipinya yang menonjol.

            “apa yang terjadi padamu??”aku duduk di sofanya. Rumah itu kotor dan seperti tidak terawat.

            “sebaiknya kau tak perlu tau aku... nanti juga.. kau..”

            Soni, diluar dugaanku bertambah gelisah. “dia menderita AIDS”

            Aku terkejut. Soni tidak bercanda kan?

            “itu bohong kan?”

            Adam menunduk. Jari-jari tangannya gemetar.

            “akan aku katakan semuanya!”Soni berdiri dan berkata dengan nada putus asa bercampur geram. “apa kamu buta Edo? Adam yang selama ini bekerja keras membiayai kuliahmu!”

            Mulutku menganga. Seharusnya tak begini. Tidak. Soni yang melakukannya!

            “jangan bercanda”aku berkata diantara gigiku. Tapi aku tahu aku membohongi diriku sendiri.

            “aku saksinya! Anak kecil itu! Semuanya! jangan paksa aku untuk merahasiakannya lagi Adam! ini membahayakan hidupmu”suara Soni menggantung dengan aneh. “walau kau pun akan mati juga”

            Soni kini terlihat benar-benar kesal. Aku menunduk. Aku tak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin. Adam tidak bekerja keras membiayaiku. Adam tidak duduk disana dan tersenyum lemah padaku. Orang kurus disana bukan Adam. Tidak. Ini tak masuk akal.

            Aku berjalan menyeberangi ruangan sempit itu. Aku duduk tepat disamping Adam.

            “rasanya sakitkah?”

            Adam hanya membisu.

            “mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Bodoh sekali kau”

            Kurasakan tanganku gemetar.

            “teman akan selamanya teman...” dia menjawab lirih. “lagipula toh aku akan mati juga, aku hanya ingin menebus dosaku selama ini”

            Dia tertawa sumbang.

            Aku mencerna semua ini. Adam melakukan semua hal untukku bahkan di saat-saat terakhir hidupnya. Aku tak tahu perbuatan apa yang pantas aku lakukan untuk menebusnya.

            “aku melakukannya untukmu... juga ibu...aku ikhlas kok”

            “Adam..., kau memang gila”

            Pandanganku mengabur.

            Narkoba terkutuk itu menjadikan Adam terkena virus HIV. Entah jarum mana yang menularinya. Aku berteriak ke udara saat mengetahui Adam meninggal satu bulan setelahnya. Aku berjalan kaki ke gunung. Berlari sampai kakiku melepuh. Berteriak sekencang-kencangnya. Disinilah aku berada. Gunung tempat aku dan Adam menghabiskan masa kecil kami. Aku baru saja patah hati karena Pepi dan kini harus kehilangan sahabatku sekaligus saudaraku untuk selamanya. Aku berteriak dan menyalahkan tuhan. Tapi akhirnya aku menyadari bumi ini bulat segala sesuatunya berputar menurut kehendak-Nya. Jika Dia ingin mengambil Adam maka diambilnya Adam.

            Adam adalah salah satu korban narkoba. Aku tak percaya nasib buruk seperti ini menimpa orang terdekatku. Banyak orang disana kenapa harus Adam? Aku berpikir egois. Dia menyelamatkan hidupku saat aku diculik dulu. Mengorbankan dirinya untuk membiayai kuliahku. Tapi kenapa dia harus mati?

            Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku berbalik dan mengusap lututku. Kucuci mukaku saat tiba di rumah. Semuanya harus terjadi. Semuanya harus diungkapkan oleh sosok yang sangat menyayangi Adam dan menunggu kepulangannya.

            Kukepalkan tanganku erat-erat. Kubuka pintu ruangan itu.

            “ibu... kurasa ada yang ingin kuceritakan pada ibu...”

 

           

  • view 192