Sebuah Cara Pandang Tentang Cinta

Trf Tasnim
Karya Trf Tasnim Kategori Agama
dipublikasikan 19 Februari 2016
Sebuah Cara Pandang Tentang Cinta

?Sebuah Cara Pandang Tentang Cinta?

By: Tasnim Rahman Fitra

Bismillah?

Hai akhi/Ukhti, apa kabar? Baik ya, baik kan, baik donk? Alhamdulillah ala kulli haal?

Kali ini ana punya sebuah tulisan untuk menemani antum, terkhusus buat jomblowan/wati, bukan bermaksud memanas2i atau mau bikin meleduk tp setidaknya lebih baik n bermanfaat jika wktu antum disisihkan dikit ajha untuk baca tulisan ini daripada stalking2 facebooknya mantan atau buat status2 patah hati yang bikin baper, huft gak jaman bro/sist, Negara api sudah mulai menyerang lho, masa antum msh sibuk ngurusin yang gituan? ya elaah..

Oke, langsung ke inti pembicaraan. Dari judulnya mungkin sudah bisa ditebak arahnya kemana, ada kata cinta di sana, nah.. tulisan ini hanya ngebahas dari satu sudutnya ajha.. lha, ini kan msh belum inti pembicaraan, he he maaf yaa..

Bagi kita yang ingin menjalankan kehidupan ini dengan baik tentu akan menjadikan aturan yang sudah di buat oleh Allah ta`ala sebagai landasan dalam berpijak. Nah, begitu juga dengan masalah ?cinta?, seseorang yang paham akan menyikapinya sebagaimana mestinya, yaitu manut ama aturan yang udah dibuat-Nya, sehingga gak ada tuch yang namanya pacaran, TTM-an de el-el, pokoke hal2 yang bisa membuka celah kea rah maksiat dan dilarang oleh-Nya. Ada yang mengistilahkannya dengan ?cinta positif?. Lanjut?

Lanjuut?

Bagi ikhwan n akhwat yang udah punya pemahaman seperti ini jangan keburu senang dulu bro/sist, masih banyak rintangan yang bisa bikin elo baper gak karuan alias galau, wuidiii serraaam. Masalahnya muncul karena ?cinta? itu adalah karunia yang indah dari Allah ta`ala lho, jadi datangnya gak bisa ditolak tp harus disyukuri sebagai sebuah nikmat untuk kita. Ketika hati mulai berbunga-bunga, fikiran selalu tertuju sama si Doi, waktu terasa berjalan sangat lambat dan indikasi2 lainnya sudah hadir, maka sadarlah wahai agan-agan sekalian, ketika itulah kalian bakalan baper gak karuan alias galau, bukan maksud mengancam, cuman nakut2in dikit ajha, he he peace?!!!

Trus gimana donk? Ini kan sesuatu buanget, secara gitu?

Jangan lebay bro/sist..

Kita belajar dari ungkapan Ali bin Abi Thalib yang memberikan solusi untuk kita terkait dengan masalah ini, berikut ungkapan beliau:

?Cinta itu tak pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan, ia adalah keberanian atau pengorbanan?

Tegas sekali kan.. hmm berat?

Kalau dah siap n yakin ama si Dia ya ambil kesempatan itu, datangi orang tuanya, sampaikan jalanin proses, khitbah, nikah, walimah, hidup bersama, punya anak, tua, meninggal dan Tamat, waduh afwan, salah satu pengaruh telenofela jadul ya begini, jadi ngelantur, huft. Ingat, ini khusus ikhwan, kalau akhwat? Sama wae, tapi beda cara eksekusinya. Masih ingat kan dengan kisah bunda Khadijah, itu lho ketika beliau menawarkan dirinya kepada Rasulullah SAW melalui sahabatnya Nafisah, ini bisa jadi salah satu referensi terbaik bagi akhwat.

Agak mengiris-iris memang ketika kenyataannya kita sendiri yang belum siap (gua banget nich), dalam kondisi ini kita dituntut harus berbesar hati, sadari itu temand. Gak jarang juga ada yg bikin kesepakatan untuk saling menunggu, mengikat satu sama lain. Kita hargai keseriusan dan maksud mereka untuk menjaga kesetiaan itu. Namun kita juga mesti melihat bahwa bisa jadi ini bentuk keegoisan yang terselubung.? Kita sama sekali gak tau apa yang akan terjadi di masa depan, bisa jadi apa yang menurut kita baik sebenarnya sama sekali tidak baik, cuma Allah yang tau pasti apa yang terbaik untuk kita, ya nggak? Dengan adanya ikatan dan kesepakatan untuk saling menunggu hanya akan bikin masing2 pihak kecewa dan tersakiti ketika kenyataan sama sekali tidak sesuai dengan keinginan. Trus selama masa menunggu itu siapa yang bisa menjamin elo2 pada bisa menjaga diri dari celah-celah maksiat yang tersaji bak gula di hadapan sesemutan (istilah utk semut-semut pencari berkah). Buya Hamka punya sebuah kisah menakjubkan lewat ?Tenggelaamnya Kapal Van Der Wijck?, kita tau donk kisah antara Zainuddin dan Hayati dalam novel itu. Ceritanya memaang menyudutkan Hayati karena tidak menepati janji dan seolah tidak setia, tapi adilkah saat kita cuman menyalahkan Hayati? Helloooow, mereka bikin kesepakatan berdua lho, mengikat, saling menunggu.. ya salah berdua lah.. akhirnya gimana? Kecewa, tersakiti, merasa disia2kan dan lain2.

Selain itu kalau satu pihak sudah siap n pihak yang lain belum siap gmn? Apa bukan egois namanya kalau msh tetap disuruh nunggu, apalagi bagi seorang akhwat yang udah cukup umur alias jomblo semester akhir dan tentunya keinginan itu ?memuncak di usia segini, dia harus menyempurnakan agamanya dan yang terpenting dia ingin menjaga kehormatan dirinya dengan cara menikah. Hmm, Liat sisi kemanusiaannya juga bro, kamu tentu pernah dengar hadis ini:

?Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan puteri kalian). Sebab jika kalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah dan muncul kerusakan di muka bumi. (HR. at-Tirmidzi)

Tu kan, gak ada perintah untuk nungguin lhoe,..

Perih? Ya gitu dech, perihnya dah tingkat internasional. Inilah yang dalam konteks tersebut ?menurut Ali bin Abi Thalib disebut dengan pengorbanan. Memang sakit sekali rasanya, pengalaman pribadi ne, Ups keceplosan, Ssst jangan bilang siap2 ya! cukup kita bersama yang tau, tuingg?.

Dalam menghadapi hal ini tentu kita butuh mindset yang benar, meminjam istilah yang digunakan oleh ustd Salim A. Fillah dalam ?Jalan Cinta Para Pejuang?, kata beliau ?Jadikan cinta itu sebagai kata kerja, bukan sebagai kata benda?, inilah intinya. Umar bin Khattab RA mencontohkan untuk kita ketika beliau ditanya oleh Rasulullah tentang siapa yang paling beliau cintai, ketika itu beliau spontan menjawab ayah dan ibunya, namun Rasul mengingatkan bahwa seharusnya bagi seorang muslim untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya, langsung ketika itu juga Umar berkata ?kalau begitu saya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Begitu mudahkan bagi Umar mengubah cintanya? Bukan mudah, tapi ketika itu Umar menjadikan cinta sebagai kata kerja, yaitu sebagai pekerjaan mencintai dalam rangka menta?ati Allah dan Rasulnya.

Tugas kita tentu meneladani sebisa mungkin bagaimana Umar menjadikan cinta bukan lagi sebagai kata benda tapi lebih sebagai kata kerja, mudah2an kita bisa, aamiin.

Kita hanya perlu bersabar (Ungkapan di gambar bisa jadi referensi tu) kemudian meyakini bahwa apa yang ditentukan Allah ta`ala adalah yang terbaik untuk kita, Allah unya kejutan yang gak diduga lhoo. tidak bersepakat untuk menanti juga bukan berarti stop dan peluang berakhir, bisa saja kita tetap dipertemukan Allah dengan si Dia, atau kita bernasib seperti Abdullah Khairul Azzam dalam ?KCB? atau seperti kisah Umar bin Khattab yang menawarkan anak beliau Hafsah kepada Abu Bakar RA dan Ustman bin Affan RA, keduanya menolak, ketika di sampaikan kepada Rasulullah SAW, Rasul malah mendo`akan bahwa kelak Hafsah akan mendapatkan yang lebih baik dari Ustman, dan Ustman akan mendapatkan yang lebih baik dari Hafsah, kita sama2 membaca sejarah bahwa memang betul, Hafsah kemudian menikah dengan Rasulullah dan Ustman sendiri kemudian menikah dengan Ummu Kultsum binti Rasulullah. Mau pilih yang mana hayooo?

Begitulah teman-teman, tidak bermaksud menggurui, tulisan ini pertama kali ana khususkan untuk diri pribadi, tp gak salah donk kalau berbagi dengan antum sekalian, kan kalau ada kebaikan yang bisa diambil pahalanya bisa mengalir? Aamiin..

#catatan at-Tarukiy

18 Februari 2016

?

  • view 167