Prof. Nurdin Abdullah dan Wujud Nyata Kemakmuran Petani Bantaeng

The Professor
Karya The Professor Kategori Politik
dipublikasikan 12 Januari 2018
Prof. Nurdin Abdullah dan Wujud Nyata Kemakmuran Petani Bantaeng

Tidak sia-sia sekitar tiga ribu orang Bantaeng – yang rata-rata masyarakat petani – meminang Prof. Nurdin Abdullah untuk terjun memimpin Bantaeng. Pasalnya, Nurdin Abdullah semula tidak tertarik kepada politik. Saat berkonsultasi dengan istrinya, ia pun tak memperoleh persetujuan sebab citra politisi buruk di mata mereka. Dunia kriminil, kasus suap atau korupsi dan sebagainya adalah citra yang semula melekat pada politisi – dalam pikiran istri Nurdin Abdullah.

Tapi tidak sia-sia para petani akhirnya mampu mengetuk hati istri Nurdin Abdullah dan memberinya izin. Juga dia yang kemudian memberi pengertian kepada anak-anaknya. Dalam cerita istri Nurdin Abdullah, terketuknya hatinya bermula saat dia dan suaminya, Nurdin Abdullah jalan-jalan ke Bantaeng dan dia mendapati masyarakat di sana yang terlihat dari mata mereka – mata masyarakat petani – betapa inginnya mereka dipimpin oleh Nurdin Abdullah. Sang istri juga menyaksikan sendiri keadaan daerah tertinggal itu.

“Saya terenyuh. Listrik minim, kota ini gelap, kumuh. Banyak yang miskin. Akhirnya saya relakan Bapak mencoba memimpin Bantaeng”. Inilah sepotong kalimat yang dituturkan sang istri kepada siapa yang bertanya alasan dia kemudian merestui niat baik sang suami terjun politik menjadi pemimpin Bantaeng.

Dan tidak sia-sia para petani hingga akhirnya salah seorang tokoh kiai yang datang sendiri dan meminta kepada mertua Nurdin Abdullah agar sang profesor mau terjun ke politik mewujudkan kemakmuran pertanian dan bidang-bidang lainnya di Bantaeng. Dan saat itulah, Nurdin Abdullah tak punya alasan lain. Dia – yang sebenarnya tanpa perlu terjun di dalam politik dan sudah menikmati kejayaan karirnya – akhirnya bersedia berbaur dengan dan berpihak pada kemajuan dan kemakmuran masyarakat Bantaeng.

***

Dalam memimpin Bantaeng, Prof. Dr. Ir. H.M. Nurdin Abdullah, M. Agr menunjukkan betul kecakapannya di bidang pertanian. Kapasitasnya sebagai seorang guru besar di bidang pertanian benar-benar dia pertaruhkan. Ia menamatkan Master of Agriculture dan Doctor of Agriculture dari Kyushu University Jepang. Ia juga sempat menjadi Guru Besar Kehutanan di Universitas Hasanuddin, Makassar. Dan pengalaman keilmuannya ini ia dedikasikan untuk kerja nyata mengembalikan kembali kejayaan Bantaeng di bidang pertanian.

Nurdin Abdullah mengetahui bahwa Bantaeng adalah daerah pertanian. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada aspek pertanian. Bahkan suatu hal yang lumrah di kalangan umum masyarakat Bantaeng – yang menurut sebagian daerah lain barangkali terdengar aneh – bahwa mereka tidak ingin menjadi pegawai negeri. Mereka merasa bidang pertanian lebih menguntungkan – jauh lebih menguntungkan daripada sekedar menjadi pegawai negeri. Sebagai perbandingan: menanam bawang yang harganya Rp 10 ribu per kilogram dan bila panen nanti 10 ton bisa sampai 100 juta (dalam waktu tiga bulan). Sementara jadi pegawai negeri dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan? Satu tahun hanya Rp 30 juta (republika).

Tapi Nurdin Abdullah juga menyadari beberapa persoalan di bidang pertanian disebabkan banyak faktor. Pertama, perihal bencana alam yang mengganggu keberhasilan bidang pertanian. Kedua, persoalan minimnya infrastruktur yang mendukung kelancaran pertanian. Seperti dikemukakannya sendiri bahwa persoalan infrastruktur jalan menjadi kendala tersendiri bagi masyarakat petani. Di berbagai desa yang dia kunjungi, jalanan banyak yang terlihat buruk. Tentu hal itu menghantui semangat bertani masyarakat Bantaeng. Demikian juga persoalan-persoalan lainnya: serangan hama, masalah air di musim kemarau, sekitar 700 hektare lahan sawah kena tungro (belum saatnya berbuah sudah merah) (republika).

Apa yang dilakukan Nurdin Abdullah di bidang pertanian itu? Pertama, menjaga gairah masyarakat di bidang pertanian. Tentu saja tidak mudah melakukan hal ini di tengah keadaan – yang mereka saksikan sendiri – terasa tidak memungkinkan. Tapi Nurdin Abdullah adalah seorang pemimpin yang dituntut memiliki daya persuasi yang tinggi untuk meyakinkan masyarakatnya. Selain itu, dia seorang ilmuan di bidang pertanian. Ini tentu saja perpaduan yang lengkap yang memungkinkan petani mau mendengarkannya.

Nurdin Abdullah membuktikan kepeduliannya di bidang pertanian. Lihat. Dia melakukan pembibitan benih sendiri. Ada bawang, kentang, jagung yang disediakan oleh pemerintah. Dia juga membantu agar air mengalir ke kebun-kebun. Bila dulu, petani menunggu hujan untuk kebutuhan air, sekarang – melalui rekaya cerdas Nurdin Abdullah, kebutuhan pada ketersediaan air bisa diatur sepanjang tahun. Nurdin Abdullah mampu merekayasa bencana, seperti curah hujan yang tinggi yang semula biasanya mengakibatkan banjir, sekarang justru mendatangkan anugerah.

Bagaimana Nurdin melakukannya. Dia mengumpulkan ahli dari Universitas Hasanuddin. Bersama mereka, dia melakukan kajian dan kemudian memutuskan membangun cek dam yang berguna mengontrol derasnya aliran air hujan dari bukit ke kota. Konsentrasi aliran air dipecah ke sungai-sungai sehingga tidak menuju kota. Terhitung sejak 2009, Bantaeng bebas banjir. Nurdin selalu mengatakan bahwa ini berkat petunjuk Allah SWT, suatu kerendahan hati dan pengakuan seorang profesor pemimpin Bantaeng.

Cerita lain dari keberhasilan pertanian: dulu, di dataran rendah, masyarakat Bantaeng menanam jagung jual jagun. Sekarang mereka jual benih. Dulu jagung dijual satu kilo hanya Rp. 2000, sekarang jual benih mencapai Rp 50 ribu. Dan banyak lagi terobosan-terobosan lain di bidang pertanian. Beberapa saya sebutkan diantaranya (republika) :

  • Nurdin Abdullah mencetuskan Bantaeng sebagai kabupaten benih berbasis teknologi melalui pengembangan kultur jaringan;
  • Nurdin Abdullah mengembangkan kawasan agrowisata di Uluere – kawasan yang dikelola oleh lintas sektoral dalam pengembangannya. Di sini, dia fokus pada pengembanan tanaman apel, stroberi, tanaman sayuran organik, tanaman hias dan pengembangan pembibitan melalui kultur jaringan;
  • Dia mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian;
  • Dia melakukan perbaikan kualitas ternak sapi melalui teknologi inseminasi buatan
  • Dia mengembangkan pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas sebagai energi alternatif di pedesaan.

Terobosan-terobosan di atas hanyalah sebagian saja dari bidang pertanian. Banyak lagi yang bisa didaftar sebagai terobosan yang berhasil dari tangan profesor pertanian ini. Tetapi satu hal yang bisa dicatat: dia membuktikan komitmen politiknya untuk memimpin dalam pengertian “melayani” dan “berpihak” kepada rakyat. Dia membuktikan bahwa seluruh aktifitas politiknya demi memajukan dan memakmuran masyarakat Bantaeng. Dia melakukannya dengan sepenuh hati. Dia membuktikan juga kapasitasnya sebagai seorang ilmuan di bidang pertanian. 

Apa yang kita saksikan dari kiprah Nurdin Abdullah: perpaduan sempurna dari seorang pemimpin yang memiliki kecakapan politik dan kapasitas intelektual yang mantap.

  • view 71