Nurdin Abdullah dan Politik Kerja Nyata

The Professor
Karya The Professor Kategori Politik
dipublikasikan 03 Januari 2018
Nurdin Abdullah dan Politik Kerja Nyata

Suatu kali, Nurdin Abdullah mengatakan: pemerintah terasa ada apabila rakyat merasa ada pemimpinnya. Rakyat merasa ada pemimpinnya memperhatikan rakyatnya. Maka bila ditarik tegas dari ungkapan ini: politik menjadi penting maknanya sejauh itu diorientasikan untuk memperbesar kemakmuran sebesar-besarnya untuk rakyat. Eksistensi politik terletak pada kemampuannya menjadi instrumen untuk kesejahteraan rakyat.

Bagi Nurdin Abdullah, ungkapan itu bukan sekedar retorika seorang politisi. Dia yang memang tidak terlahir dari seorang politisi melainkan seorang profesional memang lebih mengenal ‘kerja nyata’ daripada ‘retorika’. Dalam memimpin Bantaeng sehingga daerah tersebut maju hingga kini, sangat mustahil terwujudkan dengan baik apabila Nurdin Abdullah hanya pandai beretorika. Bantaeng menginginkan kerja nyata dari seorang pemimpin yang memiliki kemampuan membuat terobosan, keberanian melawan praktik-praktik oligarki kepeminan, dan keberpihakan pada kemakmuran rakyatnya.

Oleh sebab itu, kata-kata politik bagi Nurdin Abdullah berbeda daripada politisi lainnya. Baginya, yang tergambar di dalam kosa kata politik adalah kerja nyata yang merakyat, kerja nyata yang berpihak bagi kepentingan rakyat. Jika kosa kata politik tidak mengandung pengertian sebagai ‘melayani’ rakyat, tentu saja Nurdin Abdullah tidak mungkin terjun ke politik. Tetapi buktinya, keberhasilan di Bantaeng membawanya untuk kembali maju di tingkat Propinsi: mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Selatan.

***

Tetapi Nurdin Abdullah juga mengingatkan bahwa politik hendaknya merupakan sebuah kompetisi yang sehat. Makna yang terkandung di dalam pernyataan ini selain sangat mulia sebagai sebuah pendidikan politik. Pengertian ‘sehat’ adalah kompetisi politik hendaknya mengedepankan persaingan yang wajar: bersosialisasi dengan baik kepada masyarakat, merebut hati rakyat dengan mengedepankan gagasan politik yang nyata (tidak sekedar mengawang) dan selebihnya biarkan masyarakat memberikan penilaian dan mengambil keputusan.

Rakyat yang memiliki kesadaran politik tentu saja mampu memiliki penilaian tersendiri yang baik. Mereka bisa memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak politiknya – hasil-hasil kerja nyata yang telah ditunjukkan oleh sang pemimpin. Maka sebenarnya, janji-janji politik saja tidak cukup di hadapan rakyat yang memiliki kesadaran politik. Bukti atau kerja nyata dari kepemimpinannya jelas jauh lebih bisa diterima oleh rakyat ketimbang sekedar Janji. Nurdin Abdullah sependapat dengan pandangan ini. Dan dia sendiri mengatakan agar rakyat melihatnya bukan dari

Dalam suatu kesempatan ketika Nurdin Abdullah berkunjung ke Malili, dia mengatakan: “Saya datang ke Malili ini bukan membawa janji. Saya sudah melakukan. Bukan akan, tapi saya sudah membuktikan” (makassar.tribunnews).

Janji-janji politik memang penting. Tapi bukti-bukti dari sebuah kerja nyata pemimpin jauh lebih penting. Dan masyarakat tentu saja sudah muak dengan sekedar janji-janji politik belaka.

***

Dalam politik yang sehat juga terkandung pengertian bahwa hendaknya persaingan politik tidak menyebabkan retaknya hubungan persaudaraan. Nurdin Abdullah mengharapkan agar politik di tahun 2018 (atau ia menyebutnya sebagai Tahun Politik) terutama di Sulawesi Selatan dan Bantaeng menjadi contoh yang baik secara nasional. Persaingan politik di Pilkada tidak menghancurkan keharmonisan di dalam masyarakat. Sosok berjuluk profesor itu bahkan mengingatkan dengan menggunakan tiga filosofi yang saling berkait yang berakar dari nilai luhur keseharian masyarakat Bugis: “Kita junjung budaya ‘sipakatau’, ‘sipakalebbi’ dan ‘sipakainge’ (makassar.tribunnews).

Secara ringkas, masing-masing merujuk pada kesediaan hati untuk (i) memanusiakan manusia secara seutuhnya dalam kondisi apapun; (ii) sifat saling mengingatkan demi keseimbangan hidup; dan (iii) kesediaan hati untuk memberi apresiasi kepada orang lain sebab manusia pada dasarnya ingin dihargai. Dengan menjunjung ketiga wujud budi pekerti masyarakat Bugis, persaingan politik tidak akan meretakkan persaudaraan (beritamks).

Mengapa Nurdin Abdullah mengingatkan hal yang demikian? Sebab persaingan politik membuka kemungkinan keretakan. Dengan terus-menerus mengingatkan tentang betapa pentingnya kontestasi yang sehat, Nurdin Abdullah – dan tentu kita semua tentu saja – berharap agar politik benar-benar menjadi instrumen yang benar-benar demokratis bagi kelahiran pemimpin dengan tanpa meretakkan ikatan-ikatan persaudaraan.

Kepada para pendukungnya, Nurdin Abdullah juga mengingatkan agar mereka berpolitik dengan baik dengan mengedepankan prestasi-prestasi dari sebuah kerja nyata, kampanye politik yang mendidik, sarat gagasan yang bisa diterima oleh akal sehat publik politik. Kampanye yang sehat dan mendidik akan membuahkan kebudayaan politik yang kian tinggi dan tingkat kesadaran yang makin mantap.

Bagi Nurdin Abdullah, jika masyarakat memilihnya, itu berarti masyarakat memilih karena bukti nyata dan prestasinya.

  • view 211