Memilih Nurdin Abdullah Demi Komitmen Mewujudkan Pemerintahan Baik dan Bersih?

The Professor
Karya The Professor Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Desember 2017
Memilih Nurdin Abdullah Demi Komitmen Mewujudkan Pemerintahan Baik dan Bersih?

Nurdin Abdullah akhirnya maju sebagai calon gubernur di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebagaimana saat ia maju di Bantaeng, alasannya dia maju di Sulsel adalah untuk sebuah pengabdian. Dia – tepatnya mendapat dukungan dari masyarakat - maju untuk memperluas pengabdiannya. Masyarakat menilai Nurdin Abdullah adalah sosok yang berhasil di Bantaeng. Dan untuk itu, sang profesor harus melanjutkan jejak keberhasilan di tingkat provinsi.

Dalam orasinya Nurdin Abdullah mengatakan: “Kami adalah pasangan yang akan saling melengkapi, banyak terobosan pembangunan teman-teman birokrat di Bantaeng yang kita akan bagi bersama daerah-daerah di Sulsel, pengalaman Andi Sudirman sebagai profesional bisa diamalkan untuk pembangunan di Sulsel” (detikcom).

Pernyataan ini mengafirmasi bahwa – melalui dukungan masyarakat – dia melakukan hal yang punya nilai guna, sebuah wujud nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Dia telah memoles Bantaeng dengan begitu baik: dari sebuah daerah yang tertinggal menjadi daerah yang kini dikagumi oleh banyak orang. Dari sebuah daerah yang lamban menangani masyarakatnya menjadi cepat dan sigap dalam melayani kesehatan masyarakatnya.

Kepercayaan diri ini menegaskan bahwa apabila seorang pemimpin mampu berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat dan mampu memperoleh dukungan dari rakyat, hambatan atau kesulitan apapun dalam kepemimpinannya akan teratasi. Tapi tentu saja, bagi penulis, kejeniusan seorang pemimpin menjadi faktor penting di sini.

Inovatif dan Bersih

Dua kata kunci untuk menggambarkan pemerintahan Nurdin Abdullah: inovatif dan bersih. Diantara keberhasilan yang membuat decak kagum masyarakat dan menarik beberapa lembaga dan ilmuan untuk melakukan riset atas Bantaeng adalah soal komitmen Nurdin Abdullah untuk mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih (clean and good governance).

Di masa-masa awal kepemimpinannya di Bantaeng, demi mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih, Nurdin melakukan pembenahan penting. Dia menerapkan pola assesment. Dalam hal ini, Universitas Indonesia, sebuah perguruan tinggi negeri paling top  di Indonesia, dilibatkan dalam kepentingan assesment ini. Selain itu, ia juga melibatkan Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jatinangor, Jawa Barat. Semata-mata ini dilakukan demi meningkatkan kapasitas pemerintahan.

Nurdin Abdullah tidak sembarang menempatkan orang-orang di dalam pemerintahannya. Dia menginginkan orang-orang yang benar-benar memiliki kapasitas yang mengisi kursi pemerintahannya. Maka dibuatlah sistem pendaftaran terbuka (open recruitment) sejak 2009. Selain itu, dengan keberanian dan ketegasannya (sekali lagi ini demi mewujudkan pemerintah yang baik dan bersih), Nurdin melakukan rotasi kepala dinas secara berkala setiap 3-6 bulan sekali. Mengapa ini dilakukan? Nurdin beralasan ini dilakukan demi menghindari zona nyaman korupsi.

Sampai di sini, kita dapat mengerti bahwa tidak cukup seorang pemimpin adalah seorang moralis, seorang yang teguh memegang nilai-nilai moral. Itu saja tidak cukup. Seorang pemimpin harus memiliki keberanian mewujudkan nilai-nilai moralnya dalam wujud nyata. Melakukan rotasi demi menghindari zona nyaman korupsi adalah salah satunya dan hal itu bukanlah perkara yang mudah. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Nurdin Abdullah. Sebab dia meyakini apabila itu tidak dilakukan maka potensi kecurangan dan hambatan dari menjadi pemerintahan yang bersih akan terjadi.

Dalam prosesnya Nurdin berani mengganti pejabat yang bekerja tidak benar atau terbukti korup. Masing-masing Kepala Badan Kepegawaian Daerah sudah berganti empat kali, wakil bupati pada periode kepemimpinan kedua ini sudah beberapa kali ikut lelang jabatan di periode pertama Nurdin menjabat Bupati, dan kalau ada pejabat yang bersalah dan dilaporkan warga akan langsung dicopot (newsrakyatku.com).

Wujud nyata yang lain yang ditunjukkan oleh Nurdin Abdullah dalam ikhtiarnya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi adalah menutup sebaik-baiknya kemungkinan kebocoran anggaran. Dalam hal ini, berkas APBD sesudah disahkan segera diserahkan ke kejaksaan dan kepolisian untuk dianalisa dan dilakukan pengawasan. Inspektorat juga diperkuat sebelum pelaksaana anggaran, begitu juga rapat-rapat koordinasi dengan aparat kejaksaan dan kepolisian.

Nurdin Abdullah juga tida menutup diri dari keterlibatan warga, aktifis, LSM dan pers. Mereka semua menjadi elemen penting yang turut mengawasi proses pemerintahan Nurdin Abdullah. Tidak ada perasaan takut dengan kehadiran mereka sebagai agen kontrol. Justru bagi Nurdin, keberadaan mereka adalah wujud kontrol yang memungkinkan pemerintahan berjalan dengan baik dan bersih. Kehadiran mereka dapat menghindari dari perilaku korupsi.

Dengan ini semua, wajar bila Nurdin Abdullah memperoleh banyak penghargaan. Misalnya, dia memperoleh penghargaan dari perkumpulan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA). Perkumpulan ini menilai Nurdin Abdullah adalah pemimpin yang menjadi inspirator bagi terbangunnya upaya pemberantasan korupsi di lingkungannya (kompas).

Yang terbaru, Nurdin Abdullah menerima penghargaan dua sekaligus pada Senin, 18 Desember 2017: yakni Inovation Government Award 2017 dan Leadership Award 2017. Menteri Dalam Negeri RI, Tjahjo Kumolo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, memberikan pujian kepada profesor NA terutama pada berbagai inovasi yang dilakukannya. Selama memmimpin Bantaeng. Inovasi dalam pelayanan kesehatan yang terutama sehingga bisa meningkatkan pelayanan bagi masyarakat di Bantaeng. Mendagri juga mengatakan bahwa NA juga membantu daerah-daerah di Indonesia untuk mendapatkan bantuan hibah berupa mobil Ambulans maupun Damkar dari pemerintah Jepang (tribunnews). 

  • view 121