Tes Kemampuan : Bagian Bima Satria

Tee
Karya Tee  Kategori Project
dipublikasikan 28 November 2017
Pendekar Bumi

Pendekar Bumi


Cerita gak jelas yang ada di otak saya. Apa bila menemukan kejadian, lokasi ataupun nama sama itu merupakan sedikit kesengajaan dan lebihnya ngarang sendiri tanpa mengambil ide orang lain secara keseluruhan. Mungkin akan ada pergantian judul disesuaikan dengan alur cerita.

Kategori Petualangan

208 Hak Cipta Terlindungi
Tes Kemampuan : Bagian Bima Satria

" Kita lihat kemampuan si mulut besar itu." Bisik Rudy pada dirinya sendiri. Nama Bima telah di panggil setelah pertandingan Arya selesai. Kini hanya tinggal dirinya seorang yang belum melakukan tes kemampuan.

Bima begitu percaya diri saat berhadapan dengan senior yang menjadi lawannya. Saat Zulfikar memberikan aba aba untuk mulai dengan semangat Bima maju dan langsung menerjang lawan dengan pukulan membabi buta. Dia memukul dari segala arah dan juga menendang dengan tidak beraturan. Lawannya sedikit kewalahan menerima serangan dari Bima memilih loncat kebelakang membuat jarak diantara keduanya.

" Woo brutal sekali." komentar Sofyan dari meja tim pelatih. 

" Persis seperti preman pasar." Tambah Zulfikar 

" Heh apa kau takut melawanku?" Tanya Bima mengejek lawannya yang menghindar ke belakang. Senior yang tampak kesal itu mengubah kuda kudanya menjadi menyamping dengan bertumpu pada kaki kirinya. Tangan kirinya diluruskan ke arah bima sedangkan tangan kakannya berada di depan dada. Ia mengisyaratkan Bima untuk maju dengan tangan kirinya. Merasa ditantang tanpa pikir panjang Bima maju berniat menyerang. 

" Dasar bodoh." Komentar semua orang yang melihat pertandingan itu. 

Saat Bima telah mencapai jangkauan nya senior itu memutar tubuh bagian atasnya kebelakang seperti memunggungi Bima dan mengayunkan kaki kananya kebelakang dengan gerakan cepat. Tendangan belakang menggunakan tumit tepat mengenai dada Bima membuatnya mundur beberapa langkah. Tanpa membuang waktu senior tadi melakukan tendangan menggunakan tumit dan telapak kaki bagian luar mengenai dagu Bima. Pertahanannya yang tidak seimbang membuatnya jatuh dan itu merupakan peluang untuk seniornya mengunci pergerakannya. "Tch." decit Bima tak bisa melepaskan kuncian senior di atasnya. 

" Baiklah cukup." Intruksi Zulfikar. 

" Bima Satria kau memang memiliki kekuatan lebih tapi jika kau menyerang tanpa berfikir itu sama saja bunuh diri. Kau pernah dengar gajah mati karena gadingnya?" Ucap Zulfikar. 

" Kau masih belum punya teknik dasar beladiri." Lanjutnya. 

" Sepertinya aku tau siapa yang cocok menjadi pelatihmu. Bagaimana Zaki, bukankah kau sudah berpengalaman melatih yang seperti ini? " Ucap Sofyan menggoda Zaki agar mau menerima Bima sebagai muridnha. Sebelumnya ke tiga pelatih sudah mendengar bisik bisik mengenai Bima yang mengolok-olok kemapuan Zaki. Mereka bertiga ingin melihat seberapa besar kemampuan yang dimiliki Bima. Namun sepertinya mereka kecewa karena nyatanya kemampuan Bima tidak lebih besar dari ucapanya sendiri. 

" Boleh saja. " Jawab Zaki sambil menopang dagunya melirik Bima yang berdiri di depan ketiga tim pelatih. Terlepas dari semua yang ia dengar tentang Bima, ia memang berniat menerima Bima menjadi murid nya. Dia penasaran reaksi apa yang akan ia dapat dari anak yang meragukan kemampuan nya itu. 

" Baiklah karena yang bersedia menerima mu hanya Zaki jadi silahkan berkumpul dengan teman mu yang lainnya." Ucap Zulfikar meminta Bima untuk bergabung dengan Putra dan Arya yang telah dulu menjadi murid Zaki. 

" Tidak bisa." Teriak Bima menolak. Membuat semua orang terkejut minus Zaki yang masih setia memincingkan matanya tajam ke arah Bima. 

" Orang yang tidak punya kemampuan mana bisa melatih orang lain? Bahkan aku yakin dia tidak lebih hebat dari senior yang menjadi lawanku tadi." Lanjtnya sambil menunjuk Zaki dari tempatnya berdiri. 

" Jaga sikap mu nak." Sofyan memperingati. Dia benar-benar tidak suka dengan orang yang tidak memiliki sopan santun. 

" Jadi kau benar-benar meragukan kemampuan ku ya? "  Tanya Zaki sambil melipat kedua tangannya di dada. 

" Kalau begitu bagaimana jika kita bertanding? Jadi kau bisa lihat sendiri seperti apa kemapuan ku. Jika aku kalah, aku akan berhenti menjadi pelatih Bumi saat ini juga tapi jika kau yang kalah bersiaplah jadi Bumi untuk di injak." Zaki menantang Bima. 

" Jangan main main Zak. " Zulfikar memperingati temannya untuk tidak bertingkah semuanya sendiri. Menantang calon murid itu bukanlah tindakan profesional untuk di lakukan oleh seorang pelatih. 

" Aku tidak pernah main main, Zul."  Zaki tidak memperdulikan ucapan Zulfikar, ia berdiri dan melangkah mendekati Bima. 

" Baiklah." Bima tampak percaya diri menerima tantangan Zaki. 

Zaki trlah berada di hadapan Bima, ia mengisyaratkan Bima untuk menyerangnya. Tanpa kuda kuda Zaki tampak tenang dengan memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana pencaknya yang berwarna hitam. Bima menyerang dengan pukulan yang dapat dengan mudah di hindari Zaki tanpa ada perlawanan balik. Merasa dipermainkan Bima melakukan tendangan sambing dengan kaki kananya yang lagi lagi dapat di tangkis Zaki hanya dengan tangan kanan dan membuangnya. Tampak bosan Zaki maju selangkah dan dengan gerakan cepat ia menendang perut Bima. Membuatnya membukuk merasakan sakit di perutnya. Tanpa menunggu Zaki melayangkan tendangannya lagi menggunakan lutut ke arah Bima yang membuat tubuhnya terpaksa mengadah ke atas. Lalu Zaki melakukan tendangan serkel atas menggunakan tumitnya mengenai punggung Bima. Bima jatuh tengkurap karena tak mampu bertahan dengan tendangan Zaki yang berturut turut. Tubuhnya lemas di bawah kaki Zaki tak punya cukup kekuatan bahkan hanya untuk bangkit. 

" Ah...aku merasa bosan. Ku kira kau bisa sedikit menghiburku."  Ucap Zaki sambil menginjak punggung Bima dengan kaki kananya. 

" Seperti yang ku bilang bersiaplah jadi bagian dari Bumi untuk di injak." 

" Oi kalian berdua bantu bawa dia kalau perlu seret saja." Printahnya kepada Putra dan Arya untuk membawa Bima ke pinggir lapangan tempat mereka berkumpul setelah resmi menjadi murid dari pelatih Zaki. 

Tanpa menunggu perintah selanjutnya mereka membantu membopong tubuh Bima yang lemas dengan mengalungkan lengan Bima ke bahu mereka. 

" H'um baiklah kita lanjutkan saja tesnya. Yang tersisa tinggal satu orang saja. Rudy Setiawan silahkan maju." Ujar Zulfikar. 

" Bukannya kau sedikit berlebihan tadi?" Tanya Zul pada Zaki yang sudah duduk di kursinya. 

" Ku rasa tidak." Jawabnya acuh. 

Sepertinya tahun ini aku tidak akan bisa bersantai-santai lagi. Yang tersisa hanya tinggal satu orang lagi. Aku tau dia punya kemampuan karena dia adalah temannya Ryan sudah dipastikan kalau dia akan bergabung dengan Zul. Ku rasa tiga orang saja sudah cukup merepotkan.

  • view 17