Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 16 November 2017   13:06 WIB
Tes Kemampuan : Bagian Arya Lesmana

Saat ini tim Sofyan telah memiliki 25 siswa baru, tim Zulfikar ada 16 siswa sedangkan tim Zaki baru memiliki 1 siswa yaitu Putra Sanjaya. Sisa peserta hanya tinggal 3 orang lagi. Zulfikar memanggil satu nama untuk maju ke depan.

" Arya Lesmana."

" Saya." Peserta yang berbadan kurus maju.

" Mulai." Aba aba dari Zulfikar mengawali pertandingan Arya dengan salah satu senior dari tim Sofyan.

Arya masih diam di sana menunggu lawannya bergerak atau mungkin dia tidak tau harus memulainya bagaimana. Tak ingin menunggu lama sang senior memilih maju terlebih dahulu. Arya menganggat kedua tangannya kedepan membuat tameng saat lawannya menyerang dengan pukulan. Kuda kuda yang lemah membuat tubuhnya mundur sedikt demi sedikit. Melihat Arya semakin tersudut senior yang menjadi lawannya berhenti menyerang dan melangkah mundur tetap dengan sikap siaganya. Sepertinya dia ingin memancing agar Arya menyerang bakil. Perlahan Arya maju dan melakukan penyerangan dengan pukulan bawah seperti yang dilakukan Putra di pertandingan sebelumnya. Seolah membuka peluang untuk Arya senior itu tidak menghindar ataupun menangkisnya. Pukulan Arta mengenai perut sang senior namun tidak menimbulkan efek yang berarti. Seharusnya jika ada yang menerima serangan seperti itu paling tidak lawan akan menunduk kesakitan.

" Tidak ada isinya." Komentar Zulfikar di bangku tim pelatih.

Arya masih belum menyerah, ia menarik kaki kanannya kebelakang dan mengayunkannya kesamping. Gerakannya sama seperti tendangan samping Putra namun lebih cepat sehingga tidak bisa dihindari ataupun di tangkis lawan. Meski begitu tendangan nya lagi lagi tidak menimbulkan efek yang berarti. Lawan melangkah mundur dengan gerakan cepat secepat gerakan Arya menarik kaki kanan yang ia gunakan untuk tendangan samping tadi. Namun Arya tidak menarik kaki kanannya ke belakang melainkan kesamping kiri untuk loncatan berputar dan melakukan tendangan berputar denagan kaki kiri sebagai tumpuan. Kaki kanannya tepat berada di samping kepala sang senior di tahan dengan tangan kirinya.

" Dia malah terlihat seperti sedang menari." Komentar Bima kepada Rudy yang berdiri di sampingnya. Setelah Arya hanya tinggal mereka berdua yang belum menunjukkan kemampuan di depan tim pelatih. 

" Ya tarian yang indah." Jawab Rudy. 

Melakukan tendangan berputar dengan situasi seperti itu dia hebat juga. Tendangan berputar seperti itu biasanya dilakukan setelah gerakan tipuan dengan mengatakan salah satu kaki yang ditekuk sejajar dengan paha sebelum dijatuhkan untuk tumpuan berputar. Gerakan ini hampir mirip seperti sedang melakukan tendangan samping namun berbeda karena kaki yang diangkat  tertekuk. Dan dia bisa melakukan tendangan samping sungguhan sebelum melakukan tendangan berputar dengan gerakan cepat. Benar-benar tarian yang indah, sayangnya dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk menjatuhkan lawan dengan tendangan itu. Batin Rudy ikut mengomentari perdandingan Arya. 

" Tekniknya bagus gerakannya juga cepat tapi tidak ada kekuatannya." Sofyan memberi komentarnya. 

" Kau benar. Aku tidak punya cukup waktu hanya untuk fokus meningkatkan kekuatannya." Timpal Zulfikar. 

" Aku juga. Dua puluh lima ku rasa sudah cukup. Aku tidak akan tambah lagi." Ucap Sofyan sambil membolak balikan kertas daftar siswa yang ia terima. 

" Sayang sekali padahal tes fisik dan kesehatannya tidak bermasalah." Ucap Zaki sambil membolak balikan kertas hasil tes milik Arya. 

" Bagaimana kalau kau terima saja lagi pula muridmu kan baru satu orang. Dia lumayan loh hanya tinggal meningkatkan kekuatan fisiknya saja. "  Ucap Sofyan kepada Zaki yang diam tak menjawab. 

" Arrgggh." Teriak Arya saat tangannya berhasil dikunci di belakang tubuhnya oleh senior. 

" Cukup." Intruksi Zulfikar agar senior itu melepaskan kuncinya. 

Arya menghadap ketiga pelatih sambil memegang lengan kanannya. 

" Arya Lesmana maaf tapi sepertinya kau harus coba lagi tahun depan." Ucap Zulfikar melihat tidak ada tim pelatih yang mengatakan tangan begitupun Zaki. 

" Ta.. Tapi kenapa?" 

" Untuk masuk dan bergabung dengan Bumi kami memiliki kreteria dan syarat yang harus di penuhi semua calon siswanya. Dan dengan berat hati kami harus mengatakan bahwa kemampuan mu belum memenuhi kreteria. Latih lah kekuatan fisikmu dan coba lagi tahun depan. " Jelas Sofyan. 

" Ini tidak masuk akal. Bukankah padepokan ini merupakan tempat belajar di mana yang belum tau menjadi tau yang belum bisa menjadi bisa lalu kenapa kalian menuntut ku untuk bisa melakukan hal yang ingin aku pelajari di sini bahkan sebelum aku bergabung dengan Bumi?" Ucap Arya merasa keberatan dengan sistem tes kemampuan yang menentukan diterima tidaknya menjadi siswa di padepokan Bumi ini. Mendengar ucapan Arya membuat semuanya diam. Mereka tak menyangka akan ada orang yang berani mengatakan hal itu di depan tim pelatih. 

" Kalau aku punya kemampuan yang kalian maksud, aku tidak akan repot-repot mendaftarkan diri untuk bergabung dengan Bumi. " Lanjutnya. 

" Jadi maksudmu jika kau punya sedikit kemampuan untuk melawan satu orang kau tidak membutuhkan kami untuk melatih mu begitu? " Zulfikar tampak marah mendengar kalimat terakhir yang dikatakan Arya tadi. 

" Bu...bukan begitu. " Gagap Arya mencoba menjelaskan. 

" Kami bahkan tidak menuntut kalian untuk menang melawan senior untuk bisa bergabung dengan Bumi. Apa kalian meragukan penilaian kami pada kemampuan kalian semua?" Kali ini Sofyan angkat bicara, sepertinya ia juga kesal dengan ucapan Arya yang seolah tidak membutuhkan pelatihan dari padepokan Bumi. 

" Ti...tidak." Ucap Arya sambil menunduk benar-benar menyesal dengan apa yang dia ucapkan tadi. 

" Jika kau keberatan dengan sistem penilaian dari kami pergi dari sini dan pulanglah kau tidak pantas di sini." Ucap Zulfikar lagi. 

" Aaaa.... Kenapa kalian tidak terima saja aku lalu tentukan apakah aku pantas atau tidak berada di sini?" Teriak Arya putus asa. Zulfikar tampak hendak menjawab dengan geram namun di tahan oleh Zaki. 

" Hoi bocah kau terlalu banyak bicara." Ucap Zaki penuh tekanan membuat Arya menelan ludahnya sendiri sulit. Dia menyesali lagi kenapa ia berteriak dengan tidak sopannya kepada tim pelatih. Arya berfikir bahwa mulutnya benar benar harus dikunci. 

" Jika kau ingin bergabung dengan Bumi kau boleh masuk ke tim ku, tapi jika dalam waktu 3 bulan kau tidak menunjukkan kemampuan mu maka pergi dari sini dan tidak akan ada lagi kesempatan untukmu. Bagaimana kau setuju? " Zaki memberikan penawaran pada Arya. 

Arya tampak sedikit berfikir. Jika ia gagal dalam tiga bulan itu berarti tidak ada kesempatan lagi tahun depan untuk mencoba. Ini berarti kesempatan terakhirnya agar bisa bergabung dengan Bumi, tapi jika ia gagal di sini pun ia juga tidak yakin akan bisa mencobanya tahun depan. Untuk itu sudah ia putuskan untuk menerima tawaran Zaki dan berusaha keras untuk melatih kemampuannya. 

" Baiklah akan ku tunjukan kemampuan ku yang sebenarnya setelah tiga bulan nanti." Ucap Arya yakin bahwa ia bisa membuktikan ucapan nya kali ini. 

" Bagus. Sekarang tutup mulutmu dan pergi ke tempatmu." Zaki mengisyaratkan agar Arya bergabung dengan Putra yang berada di belakangnya. 

" Te...terima kasih." Aya menunduk sekilas sebelum berjalan ke tempat Putra berada. 

" Zaki, jika kau berniat menerima nya kenapa tidak dari awal? " Tanya Zul geram. Pasalnya Arya telah berhasil memancing emoasinya karena beranggapan tidak ada yang menerimanya. 

" Aku tidak suka dengan anak itu." Kali ini Sofyan menimpali. Jelas dia sangat tidak suka dengan orang yang tidak memiliki sopan santun dan lagi lagi Arya berhasil menunjukkan hal itu di depan Sofyan. 

Karya : Tee