Tes Kemampuan : Bagian Putra Sanjaya

Tee
Karya Tee  Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2017
Pendekar Bumi

Pendekar Bumi


Cerita gak jelas yang ada di otak saya. Apa bila menemukan kejadian, lokasi ataupun nama sama itu merupakan sedikit kesengajaan dan lebihnya ngarang sendiri tanpa mengambil ide orang lain secara keseluruhan. Mungkin akan ada pergantian judul disesuaikan dengan alur cerita.

Kategori Petualangan

152 Hak Cipta Terlindungi
Tes Kemampuan : Bagian Putra Sanjaya

Peserta bernama Putra maju ketangah lapangan untuk menunjukan kemampuannya. Yang menjadi lawannya adalah senior tingkat kedua dari tim Zulfikar. Mereka telah siap berhadapan satu sama lain dan Zulfikar memerintahkan agar pertandingan segara di mulai.

Putra dapat menghindari serangan lawan dan melakukan serangan balik namun dapat dengan mudah ditangkis oleh lawannya. Putra menurunkan sedikit kuda kudanya dan melakukan pukulan dari bawah mengincar ulu hati lawan, belum sempat pukulannya mengenai target lawannya mengambil langkah kebelakang dan dengan gerakan cepat melakukan tendangan berputar tepat mengenai kepala Putra. Membuat Putra terhuyung ke samping namun ia masih bisa mempertahankan tubuhnya agar tidak terjatuh berkat kuda kudanya yang rendah. Serangannya belum ada yang mengenai lawan namun tampaknya lawanya juga mengalami kesulitan menghindari serangan Putra yang datang bertubi tubi. Senior yang menjadi lawan Putra membuat jarak untuk menghindari pukulan Putra. Kesempatan ini dimanfaatkan Putra untuk melakukan tendangan samping sayangnya tendangan Putra dapat di tangkis dengan mudah oleh lawan seolah olah dia telah menantikan saat saat seperti ini. Kaki kanan Putra di tanggis dan dengan gerakan cepat senior itu menendang kaki kiri Putra dari belakang dengan tumitnya. Putra kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan kaki kanan masih ditangan lawannya. Senior itu berhasil mengunci pergerakan Putra. 

" Ternyata dia hebat juga meski serangannya tidak ada yang mengenai lawan." Rudy berkomentar dari barisan peserta. Tampak peserta lainnya juga setuju dengan ucapan Rudy. 

" Aku rasa dia punya kemapuan. Dia sudah menguasai teknik dasarnya." Dari meja tim pelatih Zulfikar pun ikut mengomentari pertandingan Putra. 

" Kau benar. " Sofyan mengangguk setuju. Sedangkan Zaki hanya merespon dengan suara 'hm' yang keluar dari mulutnya membuat Zulfikar geram. 

" Ingat Ki, tahun ini kau harus punya murid." Zul memperingati. 

" Aku sudah memilih, Zul. Kalau mereka tidak memilihku itu kerugian buat mereka tidak denganku." Jawab Zaki. 

" Iya aku tau tapi kau baru memilih satu hari ini." Zul mengingatkan kebenaran itu. Bagaimana ada yang mau memilih nya jika dia sendiri tidak memilih calon siswanya sendiri. Benar-benar menyebalkan. Pikir Zulfikar. 

" Aku tidak mau tau dia punya kemampuan dan kau juga harus memilihnya. Siapa tau dia juga memilihmu." Lanjutnya. 

" Baiklah baiklah." Jawab Zaki malas berdebat dengan temannya. Lagipula dalam benak Zaki tidak mungkin anak itu mau menerima tawaran untuk menjadi pelatihnya. 

" Sudah cukup. " Intruksi Zulfikar mengakhiri pertandingan ketika senior itu telah berhasil mengunci pergerakan Putra. 

Senior itu membantu Putra untuk bangun dan langsung pamit meninggalkan lapangan. Putra mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat tendangan berputar senior tadi dengan punggung tangan sebelum berdiri tegak menghadap tim pelatih. 

" Kau tidak apa apa?" Tanya Sofyan yang melihat darah di wajah Putra. 

" Saya baik baik saja." Jawab Putra tenang. 

" Seperti senior tadi sedikit berlebihan." Zulfikar menimpali. 

" Baiklah sepertinya kau harus menentukan pilihanmu sekarang." Ucap Sofyan mewakili teman teman nya yang mengangkat tangan. 

" Saya ingin bergabung dengan tim mas Zaki." Jawab Putra cepat dengan yakni tanpa terlihat berfikir terlebih dahulu. Jawabannya membuat semua orang terkejut tak menyangka. 

' hm... Menarik.' Ucap Zaki dalam hati. 

" Kenapa orang yang memiliki kemampuan seperti dia malah memilih Zaki menjadi pelatih?" Tanya Bima heran. 

' Kenapa dia memilih mas Zaki?' pertanyaan yang sama muncul dalam benak Ryan. Bukan karena ia meragukan kemapuan kakanya menjadi pelatih tapi lebih tepatnya tak menyangka ada yang mau memilih kakaknya sebagai pelatih terlebih lagi orang yang memiliki kemampuan seperti Putra. Dengan beredarnya gosip yang meragukan kemampuan kakanya ternyata masih ada orang yang memilihnya sebagai pelatih membuat hatinya sedikit lega. Sebenarnya ia juga ingin bergabung dengan tim Zaki namun harga dirinya terlalu tinggi dari pada pengakuan akan kemampuan kakaknya. Terlebih lagi Ryan tidak ingin hanya menjadi bayang bayang kakaknya karena itu ia memutuskan untuk mencari kekuatan nya sendiri tanpa bergantung pada sang kakak dan ia memilih Zulfikar teman sekaligus rival kakaknya. 

" Terimakasih untuk ini, Zul. Kau salah menyarankanku." Ucap Zaki dengan nada mengejek pada Zulfikar yang tampak kesal. 

  • view 27