Nara ( Naya )

Tee
Karya Tee  Kategori Project
dipublikasikan 11 Agustus 2017
Nara ( Naya )

Kolam renang adalah satu satunya fasilitas sekolah yang tidak pernah aku gunakan. Karena memang selama ini tidak pernah ada mata pelajaran renang untuk kelas satu. Tapi hari ini kelas ku akan mengadakan tes renang untuk mencari kadidat yang akan mewakili sekolah kami di lomba renang antar sekolah yang memang di adakan setahun sekali. Semua terlihat sudah siap dengan seragam renangnya masing-masing. Dan aku dengan gugup memberanikan diri untuk berbicara dengan guru olahragaku yang kami panggil dengan sebutan coach.

" Semuanya kumpul dan membentuk kelompok laki-laki dan perempuan. Saya akan panggil menurut absen."  Intruksi coach yang langsung otomatis kami laksanakan. Coach Indra memang salah satu guru yang tingkat kedisiplinannya tinggi dan kami cukup tau diri agar tidak dihukum keliling lapangan 20 kali atau jangan-jangan malah di suruh menguras kolam renang ini dengan gayung.

" Permisi coach, ada yang ingin saya bicarakan." Setelah semua membubarkaan diri untuk melakukan pemanasan sendiri aku memberanikan diri untuk bicara pada coach Indra.

" Silahkan. " Jawabnya dengan suara rendahnya yang penuh dengan ketegasan.

" Bolehkah saya tidak melakukan tes renang ini ? Karena hmm saya tidak bisa berenang. " Ucapku sedikit malu mengakui kalau aku memang tidak bisa renang.

" Kedalaman kolam ini hanya 1,5 meter di sini saya tidak hanya melakukan tes tapi juga mengajar." Jawaban coach Indra membuatku tidak bisa membantahnya lagi karena itu sudah menegaskan bahwa aku tetap harus tetap mengikuti kelas ini dan menerima pengajaran renang darinya. Tapi apa yang harus aku lakukan rasanya tidak mungkin aku bisa mengikuti kelas renang ini.

" Ada apa kau terlihat pucat ? " Tanyanya tiba-tiba setelah aku tidak menjawab ucapannya tadi.

" Coach saya mohon ijinkan saya untuk tidak mengikuti kelas renang ini. Saya benar-benar tidak bisa melakukannya. " Sungguh aku memang tidak bisa melakukannya.

Mengingat kejadian lima tahun lalu ketika sekolahku mengadakan wisata alam tahunan ke air terjun. Semua teman ku asik bermain air di sungai berbatu sedangkan para orang tua duduk di saung yang di sediakan di tepi sungai. Karena rasa penasaranku aku mencoba mendekati air terjun melewati kolam yang terbentuk dekat air terjun. Kedalaman kolam itu sebatas dada anak umur 10 tahun, cukup membuatku kesulitan untuk mendekati air terjun. Setelah dekat dengan air terjun kaki ku tergelincir membuatku jatuh ke dalam kolam dan derasnya air terjun membuat tubuhku seperti tergulung. Rasanya sangat sesak aku mencoba mencari pijakan agar dapat berdiri tetapi lagi lagi arus dari air terjun ini membuat kakiku kesulitan menapak pada dasar kolam. Aku kira saat itu aku akan mati sebelum salah satu ayah temanku menolongku dan membawaku menjauh dari air terjun itu. Sejak saat itu aku merasa ketakutan yang sama saat mencoba berenang. 

" Baiklah lagi pula kelas renang bukanlah kelas wajib. Kau bisa bergabung dengan temanmu yang berhalangan di sana." Ucap coach Indra sambil menunjuk beberapa temanku di kursi tunggu. Aku menatapnya tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari mulutnya. Tidak diragukan lagi coach Indra adalah guru yang paling ketat pada kelasnya dan sekarang dia mengijinkan ku utuk tidak mengikuti kelasnya. 

" Coach serius ? " Tanyaku memastikan.

" Saya tidak ingin kamu sampai pingsan karena saya paksa ikut kelas renang." Sepertinya coach mengerti akan kondisiku yang bisa di bilang trauma ini.

" Terimakasih coach." Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Ah rasanya lega sekali.

Aku bergegas menuju bangku yang memang sudah di sediakan di pinggiran kolam renang. Ada empat teman perempuan ku yang duduk di sana termaksud Naya. Sepertinya mereka tidak bisa mengikuti kelas renang hari ini karena sedang datang bulan. Aku mengambil duduk di pinggir bangku panjang itu, tidak berniat untuk bergabung dalam obrolan mereka.

" Ah tamu sialan kenapa harus datang hari ini sih. Aku kan juga ingin renang." Aku masih bisa mendengar umpatan Naya yang kesal karena tidak bisa ikut kelas renang hari ini.

" Iya padahal aku ingin sekali menunjukan bakatku di depan Arka." Kali ini Riska yang menggrutu dan di ikuti tawa mereka kemudian.

" Haha dasar kau tidak sadar diri ya ? mana mau Arka denganmu." Terdengar suara tawa mereka lagi sepertinya mereka sedang membuat gurauan menggunakan Arka sebagai bahan pembicaraannya. Aku tidak begitu mempedulikan mereka dan memilih melihat teman laki-laki ku yang sedang bersiap di tepi kolam. Coach Indra berada di sisi kolam lainnya dengan membawa stopwatch di tangannya. Sampai pada urutan absen terakhir yang tidak lain adalah Arka murid pindahan dua bulan lalu aku mendengar Naya membicarakan sesuatu yang aku yakin di tujukan untuku.

" Lagipula jangan terlalu berharap Arka kan sudah milik teman kita." Di tersenyum mengejek padaku.

" Hee bukan kah Arka itu hanya sekedar kasihan padanya karena tidak ada yang mau berteman dengan dia ?" Riska memincingkan matanya saat melirik ke arahku.

" Benarkah ? tapi kurasa ada benarnya juga ucapanmu." Lalu mereka tertawa lagi.

" Tapi bisa jadi gadis itu merayunya apa kalian tidak lihat bagaimana dia merayu coach Indra agar di ijinkan tidak mengikuti kelasnya. Padahal kalian tau sendiri kan coach Indra itu seperti apa." Ucap Riska menambahkan.

" Dengar dengar kakak laki-lakinya juga membenci dia. Ya tidak heran sih kalau kelakuan adiknya seperti itu."

" Kalau aku jadi kakak nya sudah aku kurung dia di rumah dari pada bikin malu. Kelihatan nya saja gadis baik-baik ternyata sifat pendiamnya digunakan untuk minta di kasihani. Menyedihkan." Mereka tertawa lebih kencang, dua teman ku yang lain nya ikut tertawa aku ragu kalau mereka tidak tau siapa yang di bicarakan oleh Naya dan Riska.

Aku hanya bisa diam karena memang aku tidak peduli dengan omongan mereka. Aku melihat Arka sampai pada sisi kolam dengan urutan ke tiga dari lima peserta. Ternyata dia tidak begitu jago dalam olahraga renang tidak seperti saat main basket minggu lalu. Kelompok Arka adalah kelompok terakhir dan coach Indra menyuruh kami untuk kembali ke kelas. Aku berjalan pelan mengikuti yang lain dari belakang saat tiba-tiba Arka datang dan mengalungkan lengan nya pada bahuku.

" Aku hebat kan ?" Tanyanya dengan cengiran lebar. Aku melepaskan lengannya dari bahuku.

" Yang aku lihat kau urutan ke tiga." Jawabku acuh. 

" Hahah aku tidak mau terpilih untuk ikut lomba jadi aku sengaja mengalah."

" Iya iya terserah apa katamu." Dia tertawa lagi. Sebenarnya sebesar apa kantong tertawanya sampai dia tidak pernah kehabisan bahan bakar untuk tertawa.

" Kau sendiri kenapa tidak ikut berenang tadi ? Aa sedang datang bulan ya ? " Aku merasa pipiku panas mendengar dia bertanya tentang hal itu dengan santainya. Astaga kenapa aku jadi malu sendiri.

" Tidak. Aku tidak bisa berenang." jawabku sambil memalingkan muka karena malu.

" Hahha kau kau tidak bisa berenang ? yang benar saja." Tawanya seakan akan mengejek ku. Sial.

" Jika masih tertawa akan ku pukul kau." Aku mengangakat tanganku siap untuk memukulnya.

" Hfft...maaf maaf aku akan berhenti." dia berusaha menghentikan tawanya yang menggelikan.

" Nara aku duluan yaa aku meninggalkan sesuatu di ruang ganti. Daa." Arka berlari meninggalkan ku. Kolam renang sudah terlihat sepi coach Indra pun sudah tidak ada, mungkin karena sebentar lagi jam istirahat jadi mereka bergegas ganti seragam untuk ke kantin.

Byuurr

Tiba tiba tubuh ku di dorong dari belakang sampai jatuh dalam kolam renang. Siapa ? siapa yang mendorongku ? Aku tidak bisa melihat, semuanya buram. Dadaku mulai sesak, aku mencoba mengerakan tubuh ku berharap bisa mencapai tepi kolam tapi hasilnya nihil. Aku ingat coach Indra bilang kedalaman kolam hanya 1,5 meter jika aku bisa menapakan kaki pada dasar kolam harusnya aku akan baik-baik saja, tapi entah kenapa kaki ku tidak bisa mencapai dasar kolam. Aku mulai panik tubuh bergerak tak karuhan, aku berusaha teriak minta tolong tapi itu hanya membuat dadaku semakin sesak. Aku takut siapa saja tolong aku, rasanya begitu sesak dan dingin sama persis dengan yang ku rasakan lima tahun lalu. Aku tak bisa melihat apa-apa semuanya terlihat begitu buram hanya terdengar suara tawa di atas sana.

****

" Hahah aku tau kau hanya pura-pura tidak bisa berenang kan Nara agar mendapatkan perhatian orang lain." Aku melihat tubuhnya terus meronta dalam kolam. Aku ingin tau seberapa lama dia akan berpura-pura.

" Sudah lah hentikan aktingmu itu tidak ada orang lain selain aku di sini. Kau bisa keluar sekarang." Aku mencoba menyakinkan diriku sendiri bahwa Nara bisa berenang. Aku mulai ragu saat melihat tubuhnya terus bergerkan tak karuhan. Sial. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin menolongnya kan dengan kondisi datang bulan seperti ini. Minta bantuan orang lain itu lebih tidak mungkin lagi aku tidak mau orang lain tau aku lah yang mendorong nya ke kolam.

Tubuhku tegang, aku melihat tidak ada pergerakan lagi pada tubuh Nara. Tanpa sadar air mataku mengalir begitu saja. Ku mohon Nara keluarlah dari sana. Aku benar-banar berharap kau bisa berenang dan menertawakanku karena menagisimu.

" Nara kau tidak sedang bercanda denganku kan jika iya ini sama sekali tidak lucu jadi keluar lah sekarang juga." Teriakku membuat air mataku semakin deras. Aku sangat takut sekarang, aku tidak berniat menyelakai orang lain. Apa yang harus aku lakukan.

Byuurr...

Aku melihat seseorang masuk ke dalam kolam renang. Aku tidak tau dia siapa tapi aku berharap dia bisa menyelamatkan Nara. Aku tidak bisa bergerak tubuhku terasa kaku, Nara ditarik ke tepi kolam oleh Arka. Ternyata orang tadi adalah Arka. Nara terbatuk di sana dan Arka membantunya mengeluarkan air dengan memukul pelan punggung Nara. Aku merasa lega dia masih hidup. Aku ingin mendekat tapi kakiku tak kunjung bergerak. Terlalu syok dengan apa yang baru saja aku lakukan. Aku hampir saja membunuh orang.

Masih tak bergeming, aku melihat Nara berjalan mendekatiku di bantu dengan Arka di sampingnya. Dia berdiri tepat di depan ku dan-

Plakk

menamparku dengan keras. Aku masih bergeming bahkan tak mampu memegang pipi kanan ku yang terasa panas sekarang. Aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa mengatakan sesuata bahkan untuk meminta maaf padanya. Aku melihat matanya mulai berair dan ia mulai menangis.

" Kau...kau boleh membenciku Naya tapi tidak dengan cara begini." Aku masih dia ku akui aku memang salah. Aku telah melakukan kesalahan yang besar.

" Kau boleh mencaciku, menghinaku, merusak semua barangku, tapi ku mohon ku mohon jangan pernah lakukan hal ini lagi tidak pada siapa pun." Dia menangis sambil mengambil kedua tanganku dan digenggamnya kuat.

" Jangan biarkan tangan mu ini untuk menyelakai orang lain. Tidak sepantasnya kau mengotori tanganmu sendiri hanya untuk orang sepertiku karena aku tau dirimu juah lebih berharga dari itu." Air matanya semakin deras, suaranya juga bergetar dan tersegal-segal. Sedetik kemudian dia jatuh pingsan dan langsung di tangkap oleh Arka yang sedari tadi diam di samping Nara. Dia menatap ku tajam.

" Kau masih mau diam di situ ? Bantu aku bawa Nara ke UKS." Aku membantu Arka membawa Nara ke UKS untungnya lorong kelas masih sepi karena bel istirahat belum berbunyi. Dan petugas UKS pun sepertinya sedang tidak ada di tempat, aku merasa lega karena tidak ada yang mengetahui kejadian ini. Kami membaringkan Nara di ranjang yang di sediakan kemudian menutup tirai yang mengelilinginya.

" Aku tidak tau kau sebodoh itu Nay. Apa yang ada dipikiranmu sampai kau- " Arka tidak melanjutkan kalimatnya suaranya penuh penekanan aku tau dia marah besar padaku. Dan aku masih tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

" Kau keringkan badan dan rambutnya aku akan ambil seragam gantinya. Jika kau berbuat macam-macam padanya aku tidak akan tinggal diam." Arka sempat mengancamku sebelum meninggalkan kami berdua dan berlari menuju kelas.

Aku mengambil handuk dalam lemari kaca sebelah ranjang yang Nara tempati lalu mengerikan rambutnya dan membuka seragam renangnya perlahan. Astaga aku menutup mulutku sendiri dengan tangan kaget melihat beberapa luka lebam di tubuh kurusnya. Lengan kirinya, dada sebelah kanan dekat pundak dan paha sebelah kanan berwarna biru keunguan seperti di pukul benda tumpul. Apa yang terjadi padamu Nara.  Rintihan kecil keluar dari mulut Nara yang masih terlelap saat aku tak sengaja menyentuh luka lebam itu. Tanpa ku sadari air mataku mengalir lagi menyadari kesalahan apa yang telah aku perbuat padanya selama ini. Atas dasar apa aku bisa melakukan hal itu pada Nara. Aku memang tidak menyukainya karena ku kira dia hanya gadis sombong dan menyebalkan tapi pada akhirnya semua alasanku untuk membencinya tidak lah berdasar. Aku hanya belum mengenal Nara lebih jauh.

Aku melepaskan semua pakaiannya dan meletakan di meja kecil samping ranjang saat ku dengar seseorang masuk ruang UKS. 

" Aku membawakan seragamnya." Ucap seseorang itu yang aku yakin adalah Arka.

" Jangan masuk berikan saja seragamnya." Aku tidak mengijinkannya membuka tirai. Tangan ku terulur keluar untuk menerima seragam Nara yang di bawanya. 

Setelah selesai menggati seragam Nara ku tarik selimut sampai menutupi bahunya dan membuka tirainya sedikit. Ku lihat Arka masih menunggu di sisi lain. Dia hanya diam lalu mendekat. Aku ingin bertanya apa Arka tau penyebab luka lebam di tubuh Nara. Tapi aku urungkan niatku untuk bertanya lebih jauh. Aku memutuskan untuk mengeringkan pakaian Nara dengan pengering tangan di toilet ujung lorong yang jarang di masuki siswa karena letaknya jauh.

" Aku akan mengeringakn pakaiannya dan memesan teh hangat." Ucapku melewati Arka yang berdiri dekat ranjang Nara.

" Apa kau menyesal ?" Tanyanya tiba-tiba membuat langkah ku terhenti. Aku diam tak menjawab pertanyaan nya.

" Seseorang yang meminta maaf atas kesalahan tidak membuatnya menjadi rendah sebaliknya itu akan mencerminkan kualitas dirinya." Aku melanjutkan langkahku setelah mendengar ucapan Arka. Ya aku memang harus meminta maaf pada Nara meski aku sendiri ragu dia mau memaafkan ku setelah apa yang kulakukan padanya.

  • view 13