Pria Klasik

Pria Klasik

Tee
Karya Tee  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
Pria Klasik

Dia berbeda dari kebanyakan pria yang pernah ku temui. Dia berbeda tidak seperti pria klasik lainnya. Dia bebeda, dulu aku benci sekali pria klasik yang selalu ingin melindungiku apa pun yang terjadi tapi dia berbeda tidak seperti pria lainnya dia melakukan hal yang klasik dengan cara yang berbeda. Sudah ku bilang dia itu berbeda. Dan aku suka.

Dulu saat aku tak bersamanya aku selalu di perlakukan bak seorang putri negri dongeng. Mereka yang dulu pernah dekat denganku selalu memberikan perhatian lebih. Saat aku sakit mereka memperlakukanku seperti gadis manja. Tidak pernah membiarkanku pergi sendiri, dan selalu memberikan apa yang aku butuhkan.

Seperti saat aku kehujanan mereka rela berlari menerobos hujan hanya untuk memberiku payung. Saat aku kedinginan mereka rela melepas jaketnya untuk ku kenakan sedangkan mereka harus menahan cuaca yg dingin hanya dengan selembar kaos di badannya. Ada lagi saat aku makan bersamanya tak sengaja ada saos yang menempel di ujung bibirku mayoritas mereka akan melakukan hal yang sama membersihkannya untukku. Bahkan ada yang memaksa ku untuk di suapinnya. Sungguh jika kalian berfikir bahwa itu manis ku rasa aku akan muntah sekarang. Menurutku itu semua tidak lain adalah hal konyol yang menjijikan.

Tapi dia berbeda seperti saat ini. Saat di mana kampusku mengadakan kemah di lereng gunung yang kalian tau dinginnya seperti apa saat malam tiba. Dan sialnya aku lupa membawa jaket dan sialnya lagi sekarang aku juga tidak pnya seorang pria klasik yang rela memberikan jaketnya agar aku tetap hangat. Oh...sungguh sial untuk apa aku memikirkan pria klasik toh aku tidak butuh mereka, aku masih bisa menghangatkan tubuhku sendiri jika tetap berada di dalam tenda.

" Ayo semuanya kumpul.!!" Teriak sesorang dari luar, sial itu seniorku pasti ada acara entah apalah di luar sana. Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan begini. Bisa di tertawakan sebagai orang bodoh yang tidak membawa jaket ke acara seperti ini jika aku nekat bisa-bisa aku mati kedinginan. Aku juga tidak bisa tetap di dalam tenda sedangkan seniorku sudah berteriak-teriak seperti itu. Mati lah aku..

"Ini.." Tiba-tiba saja dari luar ada yang melemparku jaket benda yang aku butuhkan, saat ku mendongak aku melihat dia.

" Pakai saja." Ucapnya singkat.

" Tapi..kau bagaimana.?" Tanyaku. Tapi sejak kapan aku bertanya keadaan seorang pria klasik seperti dia. Tapi menurutku dia berbeda dari pria klasik lainnya.

" Aku bukan tipe orang bodoh yang rela memberikan jaketku padamu di cuaca yang dingin seperti ini ini." Sudah ku duga di berbeda.

" Ta..tapi ini." Ucapku sedikit binggung lalu ini jaket siapa yang dia berikan padaku.

" Aku membawa dua kalau kalau ada orang bodoh sepertimu yang membutuhkan." Sial harusnya aku sakit hati saat dia bilang seperti itu tapi entah kenapa aku malah bahagia mendengarnya.

" Cepat pakai dan keluar." Ucapnya dingin dan berlalu begitu saja.

***?

Sejak kejadian di lereng gunung itu aku selalu memperhatikannya. Ternyata dia adalah salah satu seniorku yang menjadi panitia acara kemah kemarin. Namanya Arya dan seperti dugaanku dia memang berbeda dari pria klasik lainnya, dia melakukan hal klasik dengan caranya sendiri. Dia selalu memperlihatkan tingkat kecuekannya yang tinggi tapi sebenarnya dia amat peduli.?

Dia berbeda. Itu yang aku tau.

" Kau itu bodoh atau apa.?" Tanyanya padaku.

" Eh.." Aku bingung kenapa dia tiba-tiba bicara seperti itu.

" Kau mau hujan-hujanan.?" Tanyanya lagi. Dan aku mulai mengerti, kami memang baru saja turun dari bus yang sama di halte yang sama. Dan memang saat ini sedang hujan deras sialnya aku juga lupa bawa payung, tapi tidak apa toh rumahku tinggal dekat dari sini di gang sebrang halte ini.

" Ah...rumahku tidak jauh dari sini kok." ucapku menanggapinya.

" Tunggu sampai hujannya reda."?

" Tapi rumahku tidak ja.."

" Kau mau orang lain melihat pakaian dalammu saat bajumu basah lihat dirimu kau bahkan tidak pakai jaket." Ucapnya memotong pembicaraanku.

" -uh." Aku hanya bisa melajutkan ucapanku yang tinggal satu suku kata karna memang sudah di ujung lidah. Aku tidak habis pikir pakaian dalam...pakaian dalam bukan alasan yang sering ku dengar yaa seperti nanti kau sakit atau apalah tapi pakaian dalam. Oh...dia memang berbeda.

Akhirnya aku duduk di halte menunggu hujan reda untuk pulang ke rumah yang hanya tinggal beberapa meter lagi. Di sampingku ada dia yang katanya menunggu bus yang lain karna memang harus translite di halte ini untuk pulang ke rumahnya. Hanya kami berdua yang ada di sini, aku menunggu hujan reda sedangkan dia menunggu bus menjemputnya. Kami hanya diam menikmati tirai hujan yang membasahi aspal. Tidak ada yang berniat memecahkan kesunyian ini kecuali germicik hujan yang semakin deras. Aku ragu hujan ini akan segera reda.

Bus yang di tunggunya telah sampai di depan kami. Dia berdiri lalu mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.

" Pakai saja dan cepat pulang sudah semakin gelap." Ucapnya sambil memberikan payung lipat padaku.

" Aku lupa katanya orang bodoh tidak bisa demam karna hujan, apa kau mau membuktikannya.?" Ucapnya lulu hilang bersama bus. Aku tak bisa berkata apa-apa serasa suaraku berhenti di tenggorokan mendengar apa yang di ucapkanny. Sungguh dia berbeda

" kau yang bodoh." Teriakku saat suaraku berhasil keluar. Kalau sia tidak bodoh kenapa tidak dari tadi saja meminjamkan payungnya toh dia juga tidak memerlukannya. kenapa harus membicarakan tetang pakaian dalamku. Bodoh.

Sejak kejadian di halte, aku belajar banyak memang karna selama ini aku punya pria klasik yang selalu melindungi dan memberikan apa yang aku butuhkan membuatku lupa cara mengurus diri sendiri. Dan kali ini tidak lagi, aku tidak membutuhkan pria klasik manapun. Aku pasti bisa.

***

Hari ini aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah memakai jaket karna memang pagi ini dingin sekali dan aku juga sudah bawa payung lipat dalam tas, bawa air di botol dan sapu tangan bahkan aku juga bawa P3K kecil dalam tasku. Ku rasa sudah lengkap semuanya aku yakin hari ini dan seterusnya aku tidak butuh pria klasik lagi.

Setelah selesai kuliah aku berniat mengembalikan jaket dan payung yang sempat ku pinjam pada arya. Aku mencarinya di kantin tidak ada, di lapangan basket tidak ada, kampus terlihat sepi karna memang sudah hampir jam 6 sore hanya tinggal beberapa orang saja yang terlihat mungkin mereka sama sepertiku dapat jam kuliah tambahan. Itu dia Arya ada di taman bersama teman-temannya, haruskah aku ke sana atau menunggu teman-temannya pergi, tapi sudah sore,ahh sekarang saja toh hanya mengembalikan ini bilang terima kasih dan selesai.

" Permisi kak saya mau mengembalikan jaket dan payungnya." Ucapku memberanikan diri

" Cie..cie Arya." Goda kak Ray pada Arya sambil menyenggol bahunya.

" Arya ternyata ada kemajuan sekarang,,kamu Sara mahasiswi baru itu kan.?" Tanya seniorku lagi Kak Windy.

" I..iya kak." Jawabku. Ku lihat Arya masih saja diam bahkan dia tidak memerima paper bag yang berikan.

" Bawa saja, ku yakin orang bodoh sepertimu lebih membutuhkan." Ucapnya ceuk. Ingin sekali aku melempar paper bag ini ke mukanya.

" Hahahahaha kau kejam sekali Ar." Ku dengar gelak tawa dari kak Ray dan kak Windy, sungguh aku merasa seperti lelucon.

" Tidak...aku tidak membutuhkannya aku sudah bawa sendiri." Ucap ku tegas sambil meletakkan paper bag di atas bangku taman dan aku pergi. Masih ku dengar tawa kak Ray dan kak Windy semakin keras. Sial aku di tertawakan.

***

Hari ini tidak hujan hanya mendung sama seperti hati ku saat ini mendung tapi tak bisa hujan. Sial aku sudah menyiapkan semuanya tapi malah tidak di gunakan. Tambah lagi perlakuannya padaku di depan teman-temannya. Memangnya dia siapa dasar orang bodoh. Aku menyusuri gang yang biasa aku lewati menendang kaleng yang entah kemana arahnya. Gang ini sedikit gelap, benar saja ini sudah hampir jam 8 malam dan lagi lampu jalan yang sudah lama mati tidak kunjung di ganti membuat gang ini hanya di sinari lampu rumah warga yang kebetulan sampai gi gang ini.

" Oh...ternyata gadis cantik yang menendang kaleng ini. Tendanganmu cukup hebat cantik." tiba-tiba ada tiga orang yang muncul dari kegelapan. Mereka berjalan ke arahku dengan langkah gontai. Sepertinya mereka sedang mabuk, Apa yang mereka inginkan.

" Maaf...maafkan aku." Aku mencoba meminta maaf baik-baik.

" Tidak semudah itu gadis manis kau harus membayarnya dengan tubuhmu." Satu di antara mereka mendekapku dari belakang. Oh tuhan adakah yang lebih buruk dari ini.

Bough

Aku menyikut perutnya keras membuatnya melepaskan dekapannya padaku. Satu lagi ingin menangkapku, aku menghindar dan memukul punggungnya dengan tasku. Saat yang satunya lagi hendak mendekat aku langsung menendang perutnya. Aku benar-benar takut sekarang mereka mengepungku, mereka semakin dekat.

Bough bough

Aku melempari apa saja yang ada di dekatku. Tapi mereka tetap mendekat. Boleh kah..boleh kah aku berharap ada pria klasik yang menolongku. Ku mohon tolong aku.

Bough...bough...bough..

Saat merka mendekat aku menendang selakangannya sekuat tenaga, aku ambil balok kayu yang ada di dekatku dan menghantam dua lainnya. Seketika mereka pingsan, mungkin karna mabuk berat. Entahlah aku tidak bisa berfikir sekarang. Aku benar-benar takut. Kaki ku lemas tidak bisa di gerakkan, aku harus kabur tapi kenapa kakiku tak bisa bergerak. Siapa aja tolong aku, aku tak bisa bergerak hanya duduk bersimpuh di sini. Aku menutup wajahku dengan telapak tangan, ku rasa tubuh ku bergetar hebat.

Bough...

Aku menengok ke belakang, aku melihat dia. Dia memegang balok kayu yang tadi ku pakai dan ku lihat satu dari pereman tadi tergeletak di dekatku.
" Kau tidak apa-apa.?" Tanyanya padaku dengan wajah yang sama datarnya seperti biasa.

" Tidak..Tidak.." Jawabku entah kenapa jadi serak begini.

Dia mendekat dan merangkulku saat itu juga ku benamkan wajahku di dadanya. Aku sangat takut.
" Sudah tidak apa-apa." Ucapnya.

" Hikz..ke napa kenapa baru datang.? aku takut sekali." Aku semakin memeluknya erat
" Karna ku lihat kau belum butuh bantuanku." Jawabnya sambil membelai rambutku.

" Kau melihatnya.?" Tanyaku tak habis fikir. Dia melihatnya tapi tidak menolongku.

" Yaa..." jawabnya singkat.

" Bodoh kenapa kau tidak menolongku.?" tanyaku sambil memukul dadanya.

" Kau terlihat hebat tadi." Jawab seenaknya.

Bodoh orang ini benar-benar bodoh. Tidak tau kah dia aku sangat ketakutan, dasar manusia bodoh.

" Ayo ku antar pulang." Ajaknya sambil menuntunku berdiri.

Aku benar dia memang berbeda dari pria klasik lainnya dan dia juga bodoh. Dia selalu memanggilku bodoh padahal dia sendirilah yang bodoh. Dia Arya pria klasik yang berbeda, pria bodoh sedunia, dan dia adalah pria klasik milikku. Untuk saat ini dan seterusnya dia akan jadi pria milik Sara. ^^