Kembalikan Tawa Nara ( Yang telah berubah )

Tee
Karya Tee  Kategori Project
dipublikasikan 3 bulan lalu
Kembalikan Tawa Nara

Kembalikan Tawa Nara


Cerita tentang Nara. Kisahnya di masa lalu dan hidupnya sekarang hanya untuk menemukan senyuman nya yang telah hilang.

Kategori Cerita Pendek

722 Hak Cipta Terlindungi
Kembalikan Tawa Nara ( Yang telah berubah )

Semua orang bisa berubah, bisa saja orang yang dulu kau anggap baik suatu saat akan menjadi musuhmu. Mungkin aku adalah salah seorang yang memahami betul tentang teori ini. Tidak banyak orang yang aku kenal, tapi mereka sudah cukup memberiku contoh dan alasan untuk percaya bahwa setiap orang bisa berubah entah itu dalam arti baik atau sebaliknya. Mulai dari Ayah yang dulu begitu peduli dengan keluarganya sekarang mengacuhkan nya, entahlah dia tidak benar-benar mengacuhkan kami tapi sinar mata dan kehangatannya tidak seperti dulu. Mungkin yang ada di fikiran Ayah hanya memenuhi kewajibanya sebagai kepala keluarga. Itu pun jika kewajiban kepala keluarga hanya sebatas uang untuk makan, memberi perlindungan kebahagiaan kehangatan dan didikan untuk anaknya tidak termaksud kedalamnya. Ayahku sudah berubah begitupun dengan kakak ku. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kalinya kami tertawa bersama. Ayahku sudah berubah begitupun kakak ku dan aku benci itu. Mungkin aku sendiri juga sudah berubah. Entahlah.

Aku jadi terlalu takut pada orang yang baik padaku, takut jika meraka juga akan berubah membenciku. Sulit bagi ku untuk mempercayai semua kebaikan yang datang padaku, aku selalu berfikir mereka yang baik padaku hanya akan menyayat luka lamaku. Semuanya terlihat sama saja seperti Ayah dan kakak ku. Sampai pada akhirnya semua menyerah terhadapku tidak lagi peduli bahkan ada yang membenci. Dan itu hanya menambah alasan ku untuk tidak percaya pada siapa pun. Jika mereka benar-benar tulus baik padaku mereka tidak akan menyebrang jalan untuk membenciku hanya karena aku mengacuhkan kebaikan mereka. Aku memang orang bodoh yang egois terserah semuanya menyebutku apa, yang aku tau kebaikan yang tulus adalah kebaikan yang tidak pernah berubah sekalipun tidak ada yang mau menerima kebaikan itu sendiri.

Dan selama ini aku hidup dalam duniaku sendiri, sampai ada seseorang yang berusaha masuk dalam dunia yang aku buat. Dia yang telah berubah setelah merubahku. Aku menyebutnya Matahari, karena dia adalah orang yang ceria dan memiliki senyum yang sehangat matahari. Seseorang yang tiba-tiba datang dan merubah semua kehidupanku. Kami bertemu tujuh tahun lalu ketika aku masih kelas dua SMA tepat di hari pertama masuk sekolah setelah libur semester satu.

****

Seperti biasa kelas di pagi hari memang selalu bising, aku merindukan suasana dua puluh menit yang lalu dimana hanya ada aku di kelas. Biasanya lima menit sebelum pelajaran di mulai guru sudah ada di dalam kelas tetapi hari ini sudah hampir lewat sepuluh menit dari bel masuk guru pelajaran pertama belum datang. Aku harus bersabar mendengarkan kebisingan kelas lebih lama dari biasanya. 

" Selamat pagi semua." Dalam sekajap suasana kelas menjadi tenang saat Ibu Hery masuk ke dalam kelas. Murid-murid secara otomatis duduk ke tempat nya masing-masing.

" Pagi bu." Semuanya menjawab dengan suara lantang minus aku yang hanya menjawab dengan berbisik.

" Maaf ibu telat." Ucap Ibu Hery yang lagi langsung di jawab 'tidak apa-apa bu'  bahkan ada yang menjawab 'kurang lama bu'. Ya bagi mereka jam kosong adalah hal yang menyenagkan.

" Hari ini kita kedatangan teman baru, ibu harap semuanya bisa berteman." Aku tau Bu Hery menatapku penuh harap saat mengatakan kata berteman , beliau sudah jadi wali kelasku sejak kelas satu beliau adalah guru yang paling peduli terhadapku beliau tau aku tidak pernah memiliki teman selama ini. Andai beliau tau aku juga tidak membutuhkan itu.

Setelah di persilahkan, masuk lah anak laik-laki dengan cengiran lebar sampai memperlihatkan giginya, yang pertama kali terlintas dalam fikiranku saat itu adalah 'anak ini sedikit gila atau dia memang model iklan pasta gigi' .

" Salam semuanya, perkanalkan nama ku Arka Sanjaya panggil saja Arka. Cita-cita ku menjadi presiden direktur di perusahaan ternama seperti Sun Jaya Group.Yang aku suka adalah Pap Mie dan bermain game. Yang aku benci adalah menunggu tiga menit saat membuat Pap Mie dan di ganggu saat bermain game." Dia mengakhiri perkenalan nya dengan cengirannya lagi. Tanpa ku sadari sudut bibirku ikut naik, dia lucu.

" Baiklah Arka silahkan duduk di belakang." Bu Hery mempersilahkan dia untuk duduk di bangku belakang tepat di samping ku. Dengan canggung ku alihkan pandanganku pada buku yang sempat aku baca tadi. Aku merasa seisi kelas sedang menatapku sekarang, huh aku selalu merasa risih saat orang-orang melihat ke arahku. Tanpa ku sadari dia sudah mendudukan dirinya di sampingku, ku tengokan kepalaku padanya karena rasanya tidak sopan jika aku mengabaikan nya. Dan sudah ku duga lagi lagi dia nyengir sambil mengulurkan tangannya mengajaku bersalaman.

" Arka, salam kenal." Ucapnya girang.

" Nara." Jawabku singkat tanpa berniat menyambut tangan nya, dia terlihat sedikit kikuk lalu menurunkan tangan nya. Sepertinya dia ingin  mengajakku bicara  tapi Bu Hery sudah mengintruksi agar pelajaran segera di mulai. Aku bersyukur dengan begini aku tidak perlu berinteraksi dengan nya.

" Psst...ssst...stt Nara." Aku tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan penjelasan yang di terangkan Bu Hery karena orang di samping ku terus berbisik memanggil ku. Sudah ku abaikan tapi kenapa dia tetap saja mengganggu.

" Psst...Nara bisakah aku melihat bukumu juga, aku baru pindah dan belum sempat membeli buku paket. Ku mohon...aku tidak terlalu paham jika tidak melihat rumusnya langsung. Jika nilaiku jelek sudah pasti semua game ku akan di sita dan aku tidak mau itu terja..." Ucapan nya terputus saat aku menggeser buku paket ku ke tengah agar dia juga bisa melihat. Aku yakin jika aku tidak melakukan ini dia tidak akan berhenti bicara, itu sama saja aku tidak akan bisa kosentrasi pada pelajaran. Dia benar-benar si berisik yang menyebalkan.

" Terima kasih." Ucapnya lalu menatap buku paket ku yang sekarang ada di tengah meja. Seketika suasana jadi tenang, selain berisik siapa sangga ternyata dia juga bisa serius juga saat belajar. Syukurlah.

Setelah mata pelajaran kedua bel istirahat berbunyi. Semua sibuk dengan urusan nya masih-masing, ada yang ingin segera ke kantin atau sekedar berkumpul di toilet untuk menyembunyikan kepulan asap rokok dari guru atau staf yang lain. Dan aku seperti biasa mengeluarkan bekal yang sudah ku buat sendiri tadi pagi. Ku lihat ada beberapa teman sekelasku yang mengajak Arka untuk ke kantin tapi ia sedikit bingung mungkin merasa tidak enak padaku.

" Ayo ke kantin." Ucapnya mengajak ku. Aku rasa tebakan ku benar dia merasa tidak enak karena tidak ada yang mau mengajak ku.

" Tidak, aku bawa bekal." Jawabku singkat.

" Oow...baiklah." Setelah mengucapkan itu dia berbalik dan mengikuti yang lainnya. Sekarang aku bisa sendirian di kelas. Tapi sepuluh menit sebelum bel istirahat berakhir Arka sudah kembali ke kelas, ia sendirian. Aku fikir dia tipe orang yang makan nya cepat atau ia lupa membawa uangnya enatah lah aku tidak peduli.

" Ini untkmu." Ucapnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak ada kutu di sana. Dia memberikan ku sebotol orange jus, aku menatapnya heran.

" Ah...ini untuk ucapan terima kasih karena sudah mau berbagi buku denganku dan sebuah sogokan untuk berbagi buku lagi nanti. Aku tidak tau apa yang kau suka jadi aku putuskan untuk membelikanmu yang sering aku minum menurutku rasanya enak kok tapi kalo kau tidak suka aku akan membelika..."

" Tidak usah, terima kasih." Aku putuskan untuk memotong ucapan nya. Aku tidak bisa membiarkan nya terus berbicara tanpa henti bisa-bisa ini tidak akan berakhir samapai jam pulang nanti. Aku mengambil sebotol orange jus yang dia letakan di atas meja, tidak perlu dijelaskan aku juga tau kalau jus ini rasanya enak memangnya dia fikir aku tidak pernah minum ini apa. Sedikit kesal aku meminum jus yang dia berikan, rasa manis dan sedikit masam bisa mengobati rasa tidak enak di lidahku karena nasi goreng yang aku buat tadi terlalu asin. Ku lihat Arka sudah duduk di kursinya, ia menggoyang goyangkan kursinya kebelakang membuat kusri yang ia duduki terangkat dan hanya bertumpu pada dua kaki belakang.

" Kau makan sendiri mana teman mu apa dia ada di kelas yang berbeda ?" Tanyanya masih dengan menggoyang-goyangkan kursi. Huh dia pikir itu kursi goyang apa.

" Aku tidak butuh teman." Jawabku sambil menutup kotak makan siangku yang tidak bisa ku habiskan karena rasanya yang mengerikan.

" Hohoho...kau sombong juga ya. Biasanya orang lain akan bilang aku tidak punya teman atau tidak ada yang mau berteman denganku atau aku sulit mencari teman tapi kau sombong sekali bilang tidak butuh teman." Dia itu bodoh atau apa sih, apa bedanya semua jawaban itu pada intinya sama orang sepertiku memang tidak membutuhkan teman.

" Aku memang tidak butuh teman. Dan bisakah kau berhenti melakukan itu." Aku tidak bisa diam saja melihatnya masih menggoyang-goyangkan kursi seperti itu. Berbahaya.

" Baiklah...baiklah tidak perlu berteriak." Dia memposisikan kursinya dengan posisi yang seharusnya dan dia mengejeku dengan memasukan jaki kelingkingnya ke telinga memang nya aku berteriak sekeras itu.

Kali ini aku benar-benar tidak mempedulikan nya dia terus saja berbicara hal yang tidak penting. Aku tidak mau mendengarkan nya ku putuskan untuk melanjutkan novel yang ku baca kemarin. Karena aku terus mengabaikan ocehannya akhirnya dia berhenti bicara dan ku lihat dia sibuk berkutat dengan smartphone nya. Kami sibuk dengan urusan masing-masing sampai tidak sadar bel masuk telah berbunyi dan kelas sudah tidak sepi lagi. Aku menghabiskan sisa jam pelajaran dengan berbagi buku dengan nya, ku harap besok dia sudah beli semua buku paket agar aku tidak perlu berbagi seperti ini lagi. Aku baru bertemu dengan nya hari ini dan dia berhasil membuatku bicara lebih banyak dari biasanya. Setelah bel pulang berbunyi aku memutuskan untuk segera pulang tidak mau berlama-lama berurusan dengannya. Semua teman sekelas ku menatap ku heran yang berjalan ke luar kelas tepat setelah guru pergi. Biasanya aku menjadi orang yang datang pertama kali dan pulang terakhir setelah semuanya keluar tapi hari ini aku tidak mau berlama-lama di sekolah. Sampai di kolidor akhir aku melihat beberapa teman sekelas ku berdiri menyandar ke dinding. Aku kenal dia, dia Naya dan Genk nya. Naya, salah seorang yang pernah mencoba berteman dengan ku tapi pada akhirnya dia hanya mengabaikan ku. Aku tidak peduli selagi itu tidak merugikan ku.

" Hei Nara." Sapanya saan melihatku dari jauh. Aku mendekat karena ini jalan untuk menjuju gerbang sekolah.

" Hohohoho kau sudah menjadi wanita penggoda rupanya ya ?" Ucapan nya menghentikan langkah ku. Wanita pengoda katanya. Aku sudah sering mendengar kata-kata itu dari kakak laki-laki ku. Hati ku tiba-tiba seperti tertikam tubuhku kaku dan tanpa sadar mengepalkan kedua tangan ku. Atas dasar apa dia berbicara seperti itu padaku.

" Apa maksudmu ?" Aku berbalik dan menatapnya tajam.

" Hohohoho kau menakutkan dengan tatap seperti itu, Nara. Nanti laki-laki incaran mu bisa lari loh." Mereka semua tertawa mendengar ucapan Naya padaku.

" Sekali lagi ku tanya apa maksudmu berkata seperti itu ?" Ku langkahkan kaki mendekati nya, dia tidak beranjak sedikitpun seolah menantangku.

" Bukan kah sudah jelas. Kau sudah bosan sendirian karena tidak ada yang mau berteman denganmu dan kau memanfaatkan Arka yang tidak tau sifat aslimu seperti apa untuk menjadikannya teman mu dengan cara merayunya. Kau tau caramu itu menjijikan." Ucapnya memandangku rendah.

" Satu-satunya yang menjijikan itu adalah otakmu Naya. Aku tidak habis fikir dengan alasanmu berkata seperti itu. Apa kau lupa dulu kau juga mencoba mendekati ku kan tapi apa yang kau lihat, aku tidak membutuhkan mu dan aku juga tidak membutuhkan Arka menjadi temanku. Kau tidak perlu khawatir dan lihat saja hasilnya akan sama seperti sebelum nya. Kau tidak perlu memikirkan ku dan aku yakin cepat atau lambat Arka juga akan mengabaikan ku sama sepertimu."

Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka dan hubungan ku dengan Naya semakin buruk. Dulu dia hanya menjauhiku dan mengabikan ku sekarang dia benar-benar membenciku seolah ingin melenyapkan ku. Berkali-kali dia mengerjaiku, merusak buku ku, membuang sepatu ku dan hal menjijikan lain nya. Dia berusaha agar aku tidak betah sekolah dan memutuskan untuk pindah. Aku ingin, tapi itu akan memakan biaya cukup banyak dan aku tidak mau membuat ibu semakin sedih karena ini. Aku berusaha agar tidak mempedulikan nya selagi dia tidak menyentuhku aku masih bisa terima dengan permainan anak kecil yang ia mainkan. Tetapi entah kenapa setiap kali aku kesushan Arka akan ada di sana untuk membantu ku tidak peduli aku terus menolaknya dan mengusirnya dia tetap berusaha mendekti ku. Aku merasa bingung dengan situasi ini. Di satu sisi aku membenci Arka karena secara tidak langsung dia yang telah menyebabkan kesialan ku karena Naya, di lain sisi aku merasa harus berterima kasih karena dia selalu ada setiap aku butuh bantuan. Aku pernah berfikir seandainya Arka tidak mendekati ku mungkin Naya tidak akan membenciku dan semua akan berjalan seperti seharusnya, tetapi tidak bisa aku pungkiri bahwa kehadiran Arka membuat ku merasakan lagi kehangatan seseorang yang peduli padaku, dia mengajariku arti dari sebuah kepercayaan dan ketulusan. Perlahan tapi pasti kehadiran nya telah mengubah duniaku yang kelabu menjadi lebih berwarna. Hidupku tak melulu memikirkan tentang keadaan keluargaku karena sekarang aku juga harus memikirkan cara menghindari dari kejahilan Naya dan teman-temannya dengan Arka yang selalu membantuku dan kami akan tertawa bersama saat melihat ekspresi kesal Naya karena aku berhasil lolos dari kejahilannya . Aku tidak peduli Naya semakin membenciku bisa jadi dia satu satunya orang yang paling mengerti diriku. Arka pernah bilang padaku seseorang yang membencimu adalah salah satu orang yang paling peduli padamu. Karena dia akan selalu mencari tahu segala hal tentangmu dan memikirkan alasan-alasan untuk membencimu. Dan mereka yang membencimu bisa jadi akan menjadi teman yang paling mengerti dirimu.

***

" Bagaimana apa demamnya sudah turun ?" Tanya Naya yang baru saja masuk ke dalam rumah. Raut ke khawatiran terlihat jelas di wajah ayunya. Aku ingat kemarin dia bilang ingin menjenguk Reyahn sebelum berangkat ke acara Launching toko kue milik kami.

" Sudah turun, tapi dia masih tidur." Sebenarnya aku juga baru bangun karena semalam aku tidak bisa tidur memikirkan ucapan Naya bahwa dia sudah kembali. Ada rindu yang membludak minta di obati namun ada ragu yang membelenggu.

" Biarkan dia istirahat saja, aku juga tidak bisa lama-lama Ra acaranya sebentar lagi mulai ini buah untuk Reyhan setelah acaranya selesai aku akan kemari lagi." Ucapnya sambil menyerahkan sekeranjang buah ke tanganku. Dia terlihat terburu-buru, jelas saja dua puluh menit lagi acara launching nya mulai.

" Maaf jadi merepotkanmu." Ucapku menyesal.

" Dari pada minta maaf bukankah lebih baik jika berterima kasih." Naya tersenyum di ambang pintu. Ah dia belum sempat duduk tapi harus segera pergi lagi.

" Hahha kau benar terima kasih Nay." Ucapku mengantarnya ke teras rumah. Dia langsung bergegas naik mobilnya dan menuju toko kue.

Aku tersenyum menatap sekeranjang buah yang ada di tanganku. Mengingat semua kejadian yang pernah kami alami rasanya lucu. Semua yang dikatakan Arka benar adanya. Naya yang dulu amat membenciku sekarang menjadi satu satunya sahabat yang mengerti keadaan ku.  Sayangnya tak hanya Naya yang berubah tetapi Arka juga, dia yang dulu selalu ada di sampingku tiba-tiba pergi menghilang tak lagi peduli sama seperti Ayahku. Dan mendengar bahwa dia kembali membuatku takut kalau dia akan membenciku dan juga Reyhan anak kandungnya. Memikirkan Reyhan akan di benci oleh ayah kandungnya membuatku ingin menjerit, tidak boleh terjadi. Reyhan sudah di benci oleh kakek dan paman nya aku tidak akan membiarkan Reyhan dibenci oleh orang yang telah lama ia rindukan. Lebih baik Reyhan tidak pernah bertemu dengan ayahnya dari pada ia harus menanggung benci dari orang yang ia cintai.

Kembalikan Tawa Nara (Prolog) di sini

Kembalikan Tawa Nara ( Satu Kesalahan ) di sini

Gambar di sini

Dilihat 106