Nara ( Satu Kesalahan )

Tee
Karya Tee  Kategori Project
dipublikasikan 16 Januari 2017
Nara

Nara


Cerita tentang Nara. Kisahnya di masa lalu dan hidupnya sekarang hanya untuk menemukan senyuman nya yang telah hilang.

Kategori Cerita Pendek

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Nara ( Satu Kesalahan )

" Mama..."

"Hujan - hujanan lagi ?" Tanya Nara sambil berdelik pada bocah umur 5 tahun yang menunduk takut di depan nya. Bajunya basah kuyup air masih menetes dari rambutnya badannya pun menggigil kedinginan. Melihat itu perasaan bersalah mulai merayap di hati Nara berfikir apa yang telah dia lakukan dengan kenangan - kenangan itu samapai mengabaikan buah hatinya.

Dengan perlahan bocah laki-laki itu melangkah mendekat dan menggenggam tangan Nara dengan kedua tangan kecilnya. Suranya lirih berisik. "Maaf ma, Rey salah." Tersirat penyesalan di raut jawahnya yang sudah pucat kedinginan. Tangannya masih menggemggam erat tangan Nara mencari sedikit kehangatan disana dan berharap Nara tidak marah padanya.

" Baiklah, kali ini mama maafkan. Tapi kamu tetap harus di hukum." Nara bergegas mengambil handuk di dekat kamar mandi untuk mengeringkan rambut Reyhan dan menyiapkan air hangat utuk mandi buah hatinya. Dengan penuh kesabaran Nara memandikan Reyhan yang sesekali merengek ingin mandi sendiri. Sudah tiga minggu ini ia tidak mau di mandikan lagi dan menurut Nara ini hukuman yang pas untuk mengobati rasa Rindu nya memandikan Reyhan.

" Lihat demam mu tinggi, malam ini kamu tidur dengan mama tidak ada tapi." Nara memperlihatkan termometer bertunjukan angka 39 derajat celsius pada Reyhan yang duduk di atas ranjang Nara sambil memeluk selimut. Rey sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan Nara dan memilih untuk menurut saja kali ini. Nara memberikan obat menurut panas pada Reyhan dan mengompres dahinya agar demam nya turun.

" Mama jangan marah ya?" ucap lirih Reyhan yang tidur di samping Nara.

" Tidak sayang, mama tidak marah sama Reyhan kok." Jawab Nara membelai rambut Reyhan.

" Reyhan tidak mau di mandikan mama lagi. Teman - teman Reyhan tidak mandi dengan mama nya tapi dengan papa nya. Mereka cerita mandi dengan papa lebih asik bisa sambil main pistol air. Reyhan gak mau di ejek anak mama lagi." Suaranya sedikit bergetar Nara tau ia menahan tangisnya. Nara tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa memeluk dan membelai lembut punggung buah hatinya agar lebih tenang atau mungkin saja ia sengaja menyembunyikan air matanya sendiri dari Reyhan. Bajunya terasa basah Nara tau kalau Reyhan juga menangis dalam pelukannya.

" Kapan papa akan pulang?" Sudah ribuan kali pertanyaan yang sama keluar dari mulut Reyhan. Pertanyaan yang Nara sendiri tidak tau jawaban nya.

" Jika papa mu rindu dia pasti akan pulang." itu pun kalau dia tau keberadaan mu, nak. Lagi - lagi ia tak bisa menahan air matanya sendiri, jawaban yang ia berikan menambah luka pada hatinya dan juga Reyhan.

" Itu berarti papa tidak rindu Reyhan." Kini baju Nara semakin basah, sesekali terdengan isakan kecil. Nara tau apa yang di rasakan Reyhan, anak kecil itu merasa tidak diinginkan oleh papa nya sendiri.

" Bukan seperti itu. Papa hanya belum rindu. Belum bukan berarti tidak." Perlahan isakan itu tidak lagi terdengar. Nara berharap jawabnya mampu menenangkan hati Reyhan dari perasaan tidak diinginkan. Efek obat menurun panas yang Nara berikan membuat Reyhan kini terlelap dengan jejak air mata yang belum mengering.

****

Kepulangan pria paruh baya itu seperti awal neraka bagi Nara. Raut wajah pria paruhbaya itu merah padam terbakar amarah meski tangannya sudah meluapkan amarah itu dengan menampar keras pipi Nara tapi ia rasa itu masih belum cukup. Kini ia menjambak rambut putrinya sendiri dan menyeretnya keluar dari kamar bernuansa purple itu. Tangis kesakitan Nara tidak menyurutkan amarahnya bahkan jeritan dari istri dan anak laki-lakinya pun tidak ia hiraukan. Rasa sakit pada tubuh Nara mungkin tidak sesakit hatinya yang telah lama beku dan kini di hancurkan pula. Nara merindukan Ayahnya, ia menginginkan Ayahnya pulang tapi tidak untuk menyakitinya. Nara merindukan Ayahnya yang dulu selalu menyayangi dan melindunginya. 

Rasa sakit di kepalanya dan juga air mata yang tak henti-hentinya keluar membuat pandangan Nara buram. Teriakan, tangisan dan jeritan menggema di telinga nara. Kata - kata yang tidak pernah Nara harapkan keluar dari mulut sang Ayah.

" Tidak Tau Diri Perempuan Murahan. Anak Haram Siapa Itu Bilang Hah..?" 

" Bukan Ayah, Dia bukan anak haram jangan...jangan bilang begitu kumohon." Tidak Nara tidak ingin anak yang di kandungnya di sebut sebagai anak haram meski ia tau hasil dari perbuatannya memang haram.

" Siapa Brengsek Itu Cepat Bilang ? Apa Kamu Melakukannya Dengan Sembarang Laki-Laki ?" Tuduhan yang di berikan Ayahnya benar-benar membuat hancur hati Nara lebih hancur lagi ketika beberapa menit lalu ia mengetahui kenyataan bahwa ayah dari bayi yang di kandungnya tidak menginginkan kehadiran bayi ini.Untuk apa ia memberitahu Ayahnya apa yang sebenarnya terjadi,sudah tidak ada lagi alasan untuk Nara mengharapkan pertanggungjawaban dari laki-laki itu. Lagipula Ayahnya sudah amat membencinya percuma jika ia menceritakan apa yang terjadi itu tidak akan mengembalikan Ayahnya yang dulu.

" Cepat Bilang Dasar Anak Sialan. Biar Ku Patahkan Juga Kaki Bajiang Itu. Bilang Sekarang." Jambakan pada rambut Nara semakin kencang tak hanya itu ia juga menghantamkan kepala putrinya ke dinding. 

" Hentikan mas....dia anak kita sudah cukup." Ibu Nara mencoba meraih tubuh putrinya dari cengkraman suaminya. 

" Lepas Perempuan Sialan...Kau Dia Didik Seperti Apa Sampai Dia Jadi Seperti Ini. Ini Semua Salahmu." Tendangan yang di lakukan suaminya menjauhkan dirinya yang hampir meraih tubuh Nara

" Sudah Yah cukup....biar Ryan cari orangnya sendiri akan Ryan bunuh dia yang sudah menghancurkan Nara." Ryan kakak laki-laki Nara yang selama ini tidak peduli padan Nara kini menangis untuknya. Namun sayang ia terlambat menyingkirkan penyesalan itu sekarang.

" Tidak ada yang perlu di bunuh bang. Kau tidak akan menemukan orang itu, Ayah benar aku melakukannya dengan laki-laki yang membayarku." Jawaban Nara tak ayal membuat ayahnya naik pitam menghantampak kepalanya ke dinding. Tanpa mempedulikan darah yang mengalir dari pelipisnya dan teriakan serta tangisan dari kakak dan ibunya, Nara sengaja berbohong ia sudah tidak mau mengharapkan apa-apa dari ayah bayi ini.

" Kenapa kau begitu marah, bang ? bukan kah kau sendiri sering memanggil ku lonte ? dan Ayah kenapa kau begitu marah ? bukan kah kau sendiri yang mengabaikan keberadaan ku ? kenapa baru sekarang kau peduli dan kepedulianmu hanya menyakitiku." 

" Gugur kan anak itu !" Ucap Ayah Nara membuang mukanya engan melihat wajah putrinya sendiri sedang ibunya membawa tubuh kecil Nara ke pelukan nya di usapnya air mata yang bercampur keringat dan darah dari wajah Nara.

" Tidak Yah. Aku tidak mau menggugurkan nya dia tidak salah apa-apa biarkan aku membesarkan nya ku mohon." Biar bagaimana pun Nara tidak berniat menggugurkan buah cintanya dengan laki-laki itu. Tidak sama sekali.

" Gugur kan atau keluar dari rumah ini. Tidak ada tempat untuk perempuan kotor seperti mu di sini." Ucap Ayah Nara sambil berlalu pergi. Nara menangis sejadinya di pelukan ibu nya. Ryan pun ikut memeluk adik perempuannya yang selama ini ia abaikan. Ada perasaan bersalah yang mencambuk hatinya, mungkin bisa di bilang ia yang paling merasa bersalah saat ini.

" Ibu...ke...napa...kenapa ayah mengusirku ? selama ini aku telah menuruti semua kemauannya, aku hanya berbuat satu kesalahan saja...kenapa ia tidak bisa memaafkan kesalahan ku...kenap bu ? a..ku aku tidak mau menggugurkan nya. aku mau membesarkan nya bu aku tidak peduli pada ayah aku tidak peduli lagi pada orang yang tidak peduli padaku. aku akan membesarkannya sendiri dan akan ku buat dia agar bisa peduli padaku. Dia yang akan peduli padaku. Hanya dia yang aku butuhkan. Ibu aku harus bagaimana ?" Nara tidak bisa menahan tangis nya lagi, yang di butuhkannya sekarang adalah keluarganya jika ayah nya sendiri telah membuangnya kini hanya ibu nya yang menjadi pelindungnya. Ibu nya berniat pergi bersama Nara namun Nara melarangnya Ia ingin suatu saat ada tempat pulang di rumah ini dan ibu nya lah satu-satu nya alasan untuk pulang. Jika ibunya ikut bersamanya maka tidak akan lagi ada tempat untuk pulang karena bagi Nara keluarga adalah rumah tempat ia pulang untuk itu Nara ingin ibunya tetap tinggal menjadi satu-satunya rumah yang menarimanya.

***

Hampir enam tahun Nara tidak mengunjungi rumahnya, meski setiap hari ia masih bisa menghubungi ibunya dan sesekali bertemu di luar. Nara masih engan utuk pulang ' Rumah itu masih terkuci, ibu. Bagaimana aku bisa masuk sedangkan aku tidak punya kuncinya. Kenapa pula aku harus ke rumah itu ? aku bisa menemuimu setiap saat, sedangkan di sana tidak ada yang ingin menemuiku.' kalimat yang sering keluar dari mulut Nara setiap kali ibunya menyurhnya untuk pulang. Nara kini memiliki kehidupan nya sendiri memiliki keluarga nya sendiri meski tidak terasa sempurna.

Dering telfon membangunkan Nara dari mimpinya. Ia merasa harus berterima kasih pada orang yang menelfon nya karena sudah membangunkannya dari mimpi masa lalunya. Di raihnya handphone yang berada di dipan samping tempat tidurnya. Naya gumam nya saat melihat nama dari layar handphone nya.

" Hallo Nay."

" Nara ke mana saja sih baru angkat telfon nya ?" Naya sedikit meninggikan suaranya kesal karena panggilannya tidak di angkat.

" Ah...maaf Nay aku ketiduran, Reyhan demam." Jawab Nara sedikit menguap.

" Reyhan demam ?" Beo naya kaget.

" Iya...tadi sore hujan-hujanan. Maaf seperti nya aku tidak bisa datang di acara launching toko nya besok, kau bisa mewakilinya kan ?" Tanya Nara sedikit tidak enak telah merepotkan sahabat satu-satunya itu.

" Kau tidak perlu khawatir masalah launching nya aku bisa atasi semua. Yang terpenting apa kau sudah membawa Reyhan ke dokter ?" Naya adalah satu-satunya sahabat Nara yang mengetahui masa lalunya.

" Sudah ku beri obat menurun panas, jika demam nya masih tinggi akan ku panggil dokter. Terima Kasih." Ucap Nara tulus. Meski dulu ia memiliki kenangan buruk dengan Naya namun nyatanya sekarang Naya lah satu-satu nya sahabat yang mengerti keadaan Nara.

" Baiklah. Kalau ada apa-apa beri tahu aku. Besok pagi mungkin aku akan menjenguk Reyhan sebelum ke toko."

" Baiklah sekali lagi terima lasih." Nara benar-benar berterima kasih memiliki sahabat seperti Naya.

" Oo satu lagi apa kau sudah dengar kalau dia sudah pulang ?" Tanya Naya saat teringat sesuatu yang penting yang ingin ia beritahu pada Nara.

" Siapa ?" Tanya Nara bingung.

" Dia."

 

NB : Baca juga prolog nya di sini

  • view 306

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    10 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Walau mengandung sejumlah kesalahan teknis, seperti huruf besar di beberapa paragraf dan salah ketik, cerpen ini kami sanjung berkat dua hal; yang pertama mengangkat tema yang memang sudah bukan barang baru lagi di zaman sekarang, pergaulan bebas akibat salah urus orang tua. Hubungan keluarga yang terkadang dilupakan betapa ia penting membentuk karakter dan masa depan anak. Dalam cerpen ini, Nara menanggung akibat salah pergaulan akibat kurangnya cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya, terutama sang ayah. Akhirnya dia menjadi gadis yang salah berteman lalu melahirkan anak di luar penikahan. Bahasa yang lugas, langsung ke pokok persoalan menjadikan cerpen ini secara tegas dan cepat sukses mengajak pembaca menikmati sampai paragraf terakhir.

    Yang kedua akhir yang menggantung, yang justru membuat cerpen ini mempunyai daya tarik ekstra. Asyiknya, Tee menaruhnya di bagian akhir di saat pembaca mungkin mengira cerpen ini sudah habis. Ternyata ada kata menggantung yang membuat pembaca mungkin penasaran. Siapakah dia? Ayahnya Nara atau ayah dari anak Nara? Hmm.. Layak ditunggu kelanjutannya di sini, Tee..