Istana di Surga

Tee
Karya Tee  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 September 2016
Istana di Surga

Pagi ini seperti biasa selalu di awali dengan ke tergesah-gesahanku, selepas subuh aku tidur lagi dan membuatku selalu kesiangan. Kebiasaan yang sulit sekali untuk aku rubah. Aku mandi ala kadarnya dan langsung memakai seragam yang masih tergantung di balik pintu kamarku. Saat aku keluar kamar ibu sudah siap dengan piring di tangannya. Hah... aku merasa heran melihat ibuku yang sama repotnya denganku atau mungkin lebih. Padahal aku sudah bilang pada ibu tidak sempat kalau aku harus sarapan di rumah tapi ia tetap saja bersikeras memaksaku sarapan masakan yang sudah ibu buat untuk ku. Alhasil ibu selalu menyuapiin ku sarapan dengan tangannya langsung sedang aku sibuk berdandan dan memakai sepatu. Meski hanya dengan lauk sederhana setiap makanan yang masuk ke mulutku dari tangan ibu akan terasa sangat nikmat, aku sendiri tidak tau apa memang masakan ibu senak ini atau di tangannya tersimpan bumbu rahasia yang membuat setiap suapnya begitu nikmat. Dan aku baru menyadari di setiap bagian tubuhnya ada cinta yang besar untuk anaknya itu adalah bumbu rahasia yang di miliki seorang ibu. 

Saat-saat seperti inilah yang membuatku rindu akan rumah. Suasana gaduh di pagi hari, suapan penuh cinta dari tangan ibu dan kadang belaian lembut di kepalaku saat ibu menyisirkan rambutku. Jika aku di tanya hal apa yang paling membahagiakan dalam keluarga jawabannya bukan saat berlibur bersama atau saat makan malam di restoran mewah tapi saat sesuap nasi masuk dalam mulut lewat tangan ibu yang selalu memberikan kasih sayangnya padaku.  Aku mencintai ibu yang mencintaiku melebihi cintanya pada dirinya sendiri. 

Jika ada yang bertanya di mana ayahku aku akan menjawabnya di ada di setiap butir nasi yang aku makan setiap harinya, di dalam dinding rumah kontrakan yang selalu melindungiku, sebenarnya dia ada di sekelilingku tapi aku tidak menyadari keberadaannya yang memang tidak bisa aku lihat setiap harinya seperti halnya ibu yang selalu ada untuk ku. Aku pernah melupakan ayah hanya karena ia tidak ada di sampingku sampai pada akhirnya aku mulai sadar dan merasakan kehadirannya di setiap hembusan nafasku. Dia benar-benar nyata untuk ku. Dia juga mencintaiku lebih dari dia mencintai dirinya sendiri meski dengan cara yang berbeda dengan ibu tapi dia sangat-sangat mencintai ku. Aku tau itu meski dia tidak pernah mengucapkan nya.

****

Gadis kecil berlari menghindar dari kejaran anak laki-laki yang membawa ranting pohon. Gadis kecil itu terlihat ketakutan matanya sudah berair nafasnya pun mulai terengah-engah.  Dia sedang bermain petak umat bersama teman-teman nya yang lain sebelum anak laki-laki itu mulai membuat masalah.  Anak laki-laki itu tidak terima karena persembunyian nya di ketahui gadis kecil itu,  ia pun mengambil ranting kayu lalu mengejar gadis kecil itu.  

Tangisan gadis kecil di ujung gang buntu tidak menghentikan perbuatan anak laki-laki itu memukulinya dengan ranting kayu.  Dia malah tertawa keras sambil terus memukuli gadis kecil itu sampai teman-teman nya yang lain datang menolong gadis kecil itu. 

Sampai di rumah gadis kecil itu menangis dan mengadukan perbuatan anak laki-laki itu pada ibunya. 

" Sabar sayang,  kamu tidak usah bermain lagi dengannya ya. " Ibu memeluk dan membelai rambutku.  Tapi entah kenapa kali ini aku tidak suka belaiannya dan lebih tidak suka dengan ucapannya. Ibu seolah-olah membela anak nakal itu dari pada aku, ibu seperti menyuruhku untuk mengalah dari anak nakal itu.  Aku tidak suka,  harusnya ibu membela ku dengan datang ke rumah anak itu dan memarahinya.  Tapi aku diam saja aku tidak mau membantah ucapannya apalagi menyakiti hatinya. Aku tau kenapa ibu berbuat seperti itu karena ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membelaku ia tidak mungkin memarahinya anak nakal itu sedangkan ia masih punya hutang pada orangtuanya. 

Aku pun berfikir andai saja ayah ada di rumah ia pasti akan membelaku,  sayangnya ia harus bekerja di luar kota.  Kadang aku ingin marah pada ayah,  ia tidak bisa menjagaku dan melindungi dari anak anak nakal itu. Kemana dia saat aku membutuhkan tangannya untuk mendekapku dan melindungiku. 

Ayah di mana dirimu? Tidakkah kau lihat anakmu sedang menangis? Tidakkah kau lihat anakmu di pukuli anak nakal itu? Tidakkah kau ingin memarahi anak nakal yang sudah memukuli anakmu, putri kecilmu? 

Aku selalu mengeluh tentang ayah pada ibu. Tapi lagi-lagi ibu tidak membelaku,  ia bilang ayah bekerja keras untuk ku,  ia ingin membangunkan istana untuk ku dan juga ibu jadi aku harus bersabar untuk itu. Aku menurut,  aku tidak lagi menyalahkan ayah atas kejadian masa kecilku. Aku belajar banyak hal, ayah ku bekerja keras di luar kota seorang diri aku bertanya bagaimana makannya apa dia makan dengan teratur seperti aku disini, apa dia juga tidur dengan nyenyak saat aku bisa tidur pulas di pelukan ibu, siapa yang menjaganya saat ia sakit,  ibu tidak bersamanya ia memilih memberikan belahan jiwanya untuk merawat ku dari pada untuk mengurus dirinya sendiri. Aku mulai mengerti dengan keadaan ini aku tidak lagi menyalahkan ayah.

Aku termaksud anak yang beruntung masih memiliki kedua orang tua yang memberikan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda. Aku masih bisa bertemu ayah, aku masih bisa berkomunikasi dengannya setiap hari. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri ini karena masih banyak anak yang kurang beruntung. Meski ayah tidak tinggal bersama kita tapi aku tidak pernah kehilangan cintanya tidak sekalipun.

Tapi kadang aku masih saja mengeluh pada ibu. 

" Andai ayah bisa tinggal sama kita ya bu pasti akan jadi lebih baik. " keluhku masih dalam pelukan ibu. 

"  Ayahmu sedang bekerja keras untuk membangun istana untuk kita,  sayang.  Kamu harus sabar ya. " Jawaban ibu masih sama dengan jawaban yang pernah ia berikan atas pertanyaanku. Aku tidak setuju sepenuhnya dengan jawaban ibu tapi aku mengerti akan hal itu. 

" Tapi ya bu bukankah lebih baik jika kita bisa sehidup sesurga. Istana di surgalah yang paling penting. " Jawabku sambil melihat wajah ibu. Ibu hanya tersenyum dan membelai rambutku. 

" Kita berdoa saja sayang semoga kita bisa sehidup sesurga dengan ayah. Jadi yang harus kamu lakukan adalah membangun istana di surga untuk kita semua dengan cara menjadi anak yang sholeha. " Aku mengangguk dan menenggelamkan kepala ku di pelukan nya. 

  • view 300