Bintang Bulan di Sungai Madu

Tee
Karya Tee  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Bintang Bulan di Sungai Madu

Kenapa selalu bintang yang salah (?) Apa salahnya bintang yang berlari ke sana-kemari, dia hanya ingin menerangi seluruh semesta. Bintang yang ceria bintang yang tertawa keras meloncat-loncat berlari dan berteriak, apa salahnya jika ia hanya ingin menghidupkan suasana hening ini. Kenapa Bumi begitu membenci ke hadiran bintang kenapa malam juga tak merangkulnya. Kenapa ? Bukan kah dulu Bumi begitu mengharapkan malam untuk menghadirkan bintang. Tapi kenapa setelah bintang hadir bertaburan di setiap inci kehidupan Bumi dan Malam, mereka malah membencinya. Bintang masih begitu mencintai Bumi dan Malam karena ia belum mengerti arti kata membenci.

Lagi-lagi bintang berulah, ia senang sekali menjahili Bulan. Bulan yang tenang dan damai, ia sedikit tidak suka kebisingan tapi pengecualian jika kebisingan itu di ciptakan oleh bintang ia akan begitu menyukainya. Meski sifat mereka berbeda tetapi mereka saling mencintai, Bintang tidak merasa kesepian karena di acuhkan Bumi dan malam jika Bulan hadir. Namun sayang, Bulan tidak bisa selalu menemani Bintang hanya seminggu dalam sebulan ia di izinkan bersama Bulan sisanya Bulan akan berada dalam dekapan Bumi dan juga Malam.

Seperti biasa, kunjungan Bulan menjadi angin segar untuk Bintang kali ini Bumi dan Malam ikut berkunjung. Mengantar Bulan, mungkin.

Bintang sedang mengumpulkan kayu bakar saat Bulan datang mengagetkan nya membuat kayu bakar di dekapan tangan kecilnya jatuh berantakan.

" Bintang, Bulan datang." Sapa Bulan dengan senyum tak bersalahnya.

" Lihat lah kayu bakarnya jadi berantakan lagi, bantu aku." Oceh Bintang. Raut wajahnnya ia tekuk alis menyatu dan bibirnya mengerucut. Ia sudah lelah mengumpulkan kayu untuk membantu nenek Karimah dan sekarang harus menumpuknya kembali.

" Tidak mau, weekk." ejek Bulan sambil menjulurkan lidahnya. Bintang geram ia ambil arang bekas api unggun semalam dan mencoretkan nya ke wajah Bulan. Bulan berteriak mengejar Bintang yang berlari mencari nenek Karimah tempat berlindungnya.

" Ada apa ini teriak-teriak ?" Tubuh Bintang gemetar di balik punggung nenek Karimah mendengar suara Bumi.

" Kenapa muka mu begitu ?" Tanya Bumi pada Bulan yang baru muncul dari samping rumah nenek Karimah. Wajah Bulan tertunduk takut menceritakan kalau ini adalah perbuatan Bintang, ia tidak mau Bintang di marahi.

" Pasti kamu." Dengan marah Bumi menyertet tangan Bintang dari persembunyiannya begitu ringan tangannya memukul tubuh kecil Bintang yang masih bergetar, air matanya deras menganak sungai. Dia meraung menangis meminta ampun agar Bumi berhenti memukul tubuhnya lagi. Bukan hanya tubuhnya yang sakit hatinya juga sakit ada luka yang tak berdarah di sana lebam membiru dan lama-kelamaan akan membusuk.

" Sudah." Teriak nenek Karimah menyelamatkan Bintang dari amukan Bumi. Bintang berlari ketakutan tubuhnya bergetar, air matanya masih mengalir deras, ingusnya juga masih mengalir meski berkali-kali ia seka. Langkahnya terhenti di bawah pohon dekat sungai belakang rumah nenek Karimah. Bintang duduk memeluk lututnya sendiri, wajahnya merah, matanya merah, hidungnya merah, lengannya pun merah akibat pukulan dari Bumi. Tangisnya mereda saat matanya menatap kosong aliran sungai di depannya. Ia ingat mimpinya tadi malam.

***

" Bintang maaf, ini semua salah Bulan. Bintang dimarahin itu salah Bulan Bintang di pukul juga salah Bulan. Bulan minta maaf." Tangisnya tidak bisa di bendung lagi hatinya terluka melihat saudarinya begitu di benci rasa bersalahnya pun menyeruak bagai menaburkan garam pada lukanya perih melihat saudarinya di pukul oleh tangan yang biasanya menyentuhnya dengan lembut.

" Bukan- Bukan salah Bulan jangan menangis." Tangan kecil yang sedari tadi memeluk lututnya ia ulurkan untuk menghapus air mata Bulan. Kedua gadis itu saling berpelukan berbagi rasa sakit pun penawarnya.

" Bulan mau ikut denganku?" Setelah tangis mereka reda Bintang melepas pelukannya dan bertanya pada Bulan.

" Kemana?" Tanya Bulan sambil mengangguk sebagai jawaban ia mau ikut kemana pun Bintang pergi.

" Ke sungai madu. Semalam aku bermimpi naik perahu bersamamu di atas sungai madu yang panjaaaang sekali di tepi sungainya banyak sekali pohon apel merah dan kita menepi untuk memetiknya kita duduk seperti ini sambil makan buah apel dan mencicipi madu dari sungai madu itu." Ucap Bintang menjelaskan mimpinya semalam yang lagi-lagi di jawab dengan angguk-kan oleh Bulan.

" Kalau begitu aku akan mengantarmu ke sana setelah itu aku akan menyusulmu." Kini Bintang beranjak dari duduknya menggandeng tangan Bulan untuk mengikutinya ke tepi sungai yang deras lalu menyuruhnya membasuh muka yang mesih bercemong arang.

" Cuci mukamu dulu, Bulan." Bulan pun menuruti apa kata Bintang, ia berjongkok dan membasuh mukanya dengan air sungai.

" Aku akan mengantarmu ke sungai madu, Bulan. Tunggu aku."

Byurr....

Tubuh kecil Bulan tenggelam terseret arus sungai yang deras sedangkan Bintang hanya berdiri mematung dengan tatapan kosong melihat Bulan yang berusaha berenang meski ia tau Bulan tidak bisa berenang. Aku akan menyusulmu sebentar lagi ucapnya dalam hati saat mendengar teriakan Bumi dan Malam yang mencari Bulan untuk pulang, yaa Bintang tau kali ini tidak akan ada acara satu minggu bermain dengan Bulan tapi kali ini juga ia akan selalu bersama-sama dengan Bulan. Di sungai madu.

" Di mana Bulan?" Tanya Malam yang terlihat lebih geram dari biasanya, Bintang berfikir pasti bertengkar dengan nenek Karimah lagi sampai membatalkan acara menginap Bulan. Tanpa menjawab satu kata pun Bintang menunjuk arus sungai yang tadi menyeret tunuh Bulan.

" Apa maksudmu?" Kali ini Bumi memegang erat lengan Bintang.

" Bintang mengantarkan Bulan ke sungai madu lewat sungai ini Bulan tadi tenggelam dan terseret arus sungai seperti naik kereta mungkin Bulan sudah sampai." Jawab Bintang dengan ekspresi datar. Meski Bumi dan Malam tidak tau apa maksud perkataan Bintang, tapi mereka berfikir satu hal Bulan tengelam di sungai itu karena Bintang.

Bumi dan Malam bagai gemuruh tsunami yang siap meluluh lantahkan apa saja yang ada di depannya termaksud Bintang. Malam memulai aksinya menjambak rambut Bintang dan menamparnya kesar sampai sudut bibirnya robek setelah itu ia bergegas mengikuti aliran sungai mencoba mencari Bulan yang mungkin memang benar telah sampai pada sungai madu. Kini aksi Malam di gantikan oleh Bumi yang seperti kerasukan penghuni pohon tepi sungai menghajar tubuh kecil Bintang membabi-buta. Tidak tanggung-tanggung Bumi memukul, menjambak, menendang tubuh Bintang sampai terkulai lemas di tanah. Tidak ada tubuh yang bergetar tidak ada air mata yang mengalir tidak ada tangis dan jeritan  kesakitan yang keluar dari mulut Bintang yang ada hanya teriakan gila yang di ucapkan Bumi pada Bintang. Masih belum puas Bumi menghajar Bintang dengan tangannya sendiri, ia mengambil sebatang kayu besar dan menghantamkan nya pada Bintang sampai tubuh Bintang jatuh dan kelapanya menghantam keras pada batu besar di tepi sungai. Tubuh kecil yang penuh luka lebam itu tak bergerak lagi, wajah cantiknya tertutupi cairan kental merah. Darah dari kepalanya mengotori batu dan juga batang kayu yang masih di pegang Bumi, menetes dan mengalir bersama air sungai. Dengan sisa kesadaran yang masih di miliki Bintang beucap lirih menatap Bumi.

" Ma-ma mengantan-tar-kan Bin-tang ke sungai ma-du." Bersama hembusan nafasnya yang terakhir Bintang menutup matanya.

Bintang sampai pada sungai madu yang menjadi tujuannya, di sana sudah ada Bulan yang menunggunya di bawah pohon apel di tepi sungai tangannya melambai-lambai meminta Bintang untuk bergabung dengannya menikmati buah apel dan segelas madu. Dari bawah pohon apel di tepi sungai madu Bumi dan Malam terlihat begitu gelap setelah Bulan dan Bintang pergi dari kehidupan mereka.

 

  • view 275