Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 29 Juli 2016   15:46 WIB
Tak ku Temukan Ragu di Matamu

" Malam ini aku ingin tidur dengan ibu." Ucapku pada kedua orangtuaku yang sedang mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah seharian ini  di sofa ruang tengah. Pukul sepuluh malam, sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu saudara-saudaraku dan beberapa tetangga meninggalkan rumah ini setelah menyelesaikan tugas mereka masing-masing secara sistematis.

" Kenapa ?" Tanya Ayah yang mengisyaratkan aku untuk duduk di antara mereka. Lampu ruangan ini sudah di matikan membuat pencahayaannya hanya bergantung pada televisi yang masih menyala tanpa ada satu orang pun yang berniat melihatnya. Aku berjalan pelan dan duduk di antara kedua orang yang paling aku sayangi, nyaman adalah kata yang paling tepat untuk apa yang ku rasakan saai ini.

" Hanya ingin saja, Ayah." Jawabku sambil menyenderkan kepalaku pada bahu Ibu. Kali ini Ayah harus mengalah membiarkan ku tidur dengan Ibu.

"Sebaiknya kalian tidur sekarang." Tidak perlu menunggu perintah untuk kedua kalinya, aku dan ibu bergegas ke kamarku karena memang tubuh kami sudah lelah seharian ini. Seperti biasa saat ayah bekerja keluar kota, ibu akan tidur sambil memelukku di kamarku yaa setidaknya sampai malam ini, kamar ini masih menjadi miliku.

" Bu..." Ucapku lirih. Aku tau ibu juga sama lelahnya denganku mungkin lebih, tapi aku belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku harap ibu mau menemaniku sejenak setidaknya sampai aku benar-benar tenang.

" Ada apa, sayang ?"

" Aku takut, bu -

- aku takut untuk besok." Lanjutku yang sempat terputus, sebenarnya aku sendiri tidak tau apa yang mau aku bicarakan.

" Apa yang kamu takutkan ?" Belaian lembut pada rambutku yang sengaja ku urai saat tidur membuatku merasakan kenyamanan tersendiri.

" Aku takut setelah besok, aku tidak bisa tidur seperti ini lagi. Tidak bisa tidur dengan aku di pelukanmu seperti ini, Bu." Aku membalas pelukan ibu lebih erat seakan tidak ada lagi kesempatan untuk merasakannya.

" Nak, setelah ini kamu tidak perlu pelukan ibu lagi saat tidur."

" Tapi aku takut, bu ?"

" Tidak ada yang perlu ditakutkan, percaya pada ibu." Masih dengan membelai rambutku ibu menyakinkanku bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku percaya pada ibu karena mungkin ibu juga pernah merasakan apa yang aku rasakan saat ini, tapi entah mengapa aku masih sedikit ragu.

" Aku takut dia akan menyesal, bu. Aku tidak mau gagal, bu. Aku takut setelah ini dia akan berfikir ingin meninggalkanku setelah mendapatkanku. Aku tidak mau, bahkan jika hanya sepintas terlintas dalam fikirannya." Sebenarnya masih banyak lagi yang membuatku takut dan berakhir menjadi keraguan. Aku sedang berada dalam zona abu-abu yang ku buat sendiri. Bisakah ibu merasakan semua ragu dan takutku, bu.

" Kamu fikir dia memilihmu tanpa mempertimbangkan semuanya. Ibu yakin dia laki-laki yang baik, nak. Jika kamu tidak mau dia berfikir akan meninggalkanmu, buatlah dia berfikir bahwa dia beruntung memilikimu dengan begitu dia tidak akan meninggalkanmu."

Mendengar nasihat ibu membuatku sedikit lebih tenang. Peluk dan belaiannya membuatku nyaman dalam dekapannya, tiba-tiba aku merasakan kantuk yang tidak bisa ku lawan untuk tetap terjaga. Biarkan untuk malam ini saja aku ingin merasakan peluk hangatmu, bu sama seperti dulu saat aku dalam rahimmu.

***

Sepertinya malam ini tiga kali lebih cepat dari biasanya. Setelah sholat subuh berjama'ah dengan ayah dan ibu, kami memutuskan untuk memeriksa kembali persiapan yang sudah dari seminggu lalu di siapkan. Aku memang meminta agar tidak meramaikan acara pernikahanku, hanya ijab qobul tanpa ada acara hiburan. Bahkan tamu undangan hanya dari saudara, teman dekat dan tetangga saja, jadi tidak ada tenda besar yang menutup jalan hanya sampai halaman depan saja sudah cukup.

Beberapa tetangga dan saudaraku sudah ada yang datang untuk membantu persiapan pernikahanku. Aku sendiri hanya duduk di depan meja rias di kamarku yang di sulap menjadi ruang make up pengantin. Ada ibu, mbak Shella istri dari kakak laki-lakiku dan Juang keponakanku yang berusia lima tahun yang menemaniku berhias. Aku meminta penata rias agar tidak membuat dandanan ku mencolok cukup dengan lebih mempertegas bagian mata saja. Karena dia pernah bilang bahwa mataku sangat indah, aku ingin menjadikannya lebih indah.

Acara mulai pukul delapan pagi, masih ada waktu sekitar satu jam dan aku sudah siap dengan gaun soft pink ku. Gaun hasil karya ku sendiri dan Ayah sebagai penjahit profesionalnya. Aku cukup puas dengan hasil gaunku, semoga saja dia juga puas dengan baju pengantin yang ku buat.

" Aku ingin bicara dengan ayah, bu." Ibu yang juga sudah siap dengan kebayanya melangkah keluar untuk memanggil ayah.

" Ayah..." Ucapku saat melihat pria paruh baya itu masuk ruangan. Pria pertama yang aku cintai duduk di sampingku menggenggam tanganku erat. Merasa mengerti bahwa kami memerlukan waktu untuk bicara berdua, semua orang yang ada di dalam kamarku keluar meninggalkan kami berdua.

" Apa yang harus aku lakukan, yah ? Rasanya aku belum siap."

" Tidak ada yang tau seseorang sudah siap atau belum sebelum mereka menjalaninya, sayang. Apapun yang terjadi kamu tetap jadi putri satu-satunya ayah." Ada genangn air di pelupuk matanya saat ia mengatakan itu, tapi ia juga tersenyum membuat kumisnya terangkat sedikit.

" Apa yang harus aku lakukan ?" Ku ulangi pertanyaanku.

" Jadilah istri seperti ibumu, dan jadilah ibu seperti ibumu. Ayah tidak bisa memberi contoh selain ibumu, nak."

" Ayah membuatku ingin menikah dengan ayah saja." Ucapku memeluknya erat. Aku tidak boleh menangis di acara bahagia ini.

" Cie yang mau nikah cie." Candaan dari bang Dani yang tiba-tiba masuk ke kamarku.

" Tidak mau mengucapkan sesuatu untuk adikmu yang sebentar lagi jadi istri orang hem ?" Sindirku.

" Gak nyangka ternyata adek ku udah gede. " Ucapnya sambil melangkah masuk lebih dalam lagi.

" Kalian ngobrol aja dulu ayah mau ke depan." 

" Buatlah suamimu beruntung memilikimu, dek. Dengan begitu dia tidak akan menyakiti apalagi meninggalkanmu" Ucap bang Dani serius.

" Bang, apa abang pernah berfikir ingin meninggalkan mbak Shella ?"

" Abang tidak ingat. Meskipun pernah itu hanya emosi sesaat, dek. Tidak mudah menyatukan dua kepribadian yang berbeda untuk tetap satu jalan tapi itulah tantangan yang sebenarnya."

" Abang membuatku takut." Sedikit merinding mendengar ucapan bang Dani tapi sepertinya itu bukan masalah besar melihat ekspresinya.

" Hahahaha sudah sudah acara mau mulai. Persiapkan dirimu !" Ucapnya lagi sambil membelai kepalaku lalu berlalu menginggalkan kamarku. Ku lihat jam dinding sudah menunjukan pukul delapan kurang lima menit. Seharusnya rombongan dia sudah datang. Ini membuat perutku mulas, kebiasaan saat aku sedang tegang aku masih takut, aku masih ragu. Aku tidak tau kemana keyakinan sebulan lalu saat menerima lamarannya, rasanya aku belum siap untuk ini.

Ibu menuntunku ke ruang tamu yang sudah penuh dengan tamu undangan. Ku lihat para tamu duduk di kursi yang sudah di tata mengelilingi satu meja di tengah ruangan, tiga kursi sudah di duduki tiga laki-laki tinggal satu kursi lagi yang masih kosong. Aku melangkah pelan dan duduk di kursi yang tersisa dan Ibu duduk di dekat ayah agar bisa melihatku katanya. Di depan ku sudah ada bapak penghulu dan Ayah di sampingnya sedangankan di sebelah kiriku ada laki-laki yang akan menjadi suamiku. Ku beranikan melihatnya sebentar, ingin melihat adakah keraguan di matanya.

Dengan balutan tuksedo putih sedikit aksen pink soft membuat dia terlihat em tampan. Dia  juga menatapku dan tersenyum menenangkan, tak ku lihat ragu di matanya. Tidak biasanya dia bisa tersenyum seperti itu  seketika keraguanku pun menguap begitu saja. Senyumnya menyelamatkanku dari keraguanku sendiri. Pria ini lah yang aku inginkan untuk menjadi imamku. Pria yang pertama kali ku temui di sebuah program Tafidz Qur'an di salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah. Selama karantina kurang lebih sekitar satu tahun untuk pemula sepertiku, dia lah yang menjadi tutor ku dan beberapa peserta lainnya. Dia selalu menerangkan beberapa ayat yang ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari agar kita bisa menghafalnya dengan mudah. Suatu hari dia memberiku sebuah rekaman suara bacaan beberapa potong ayat Al-Qur'an metode mendengarkan akan mempermudah menghafal, katanya. Setiap seminggu sekali dia akan memberiku rekaman ayat baru yang telah ku ketahui bahwa dia lah yang membuat rekaman itu sendiri. Suaranya yang merdu, jelas dengan intonasi yang lambat membuatku mudah untuk mengikuti sambil menghafalnya. Seperti saat aku menghafal lagu-lagu barat atau jepang aku juga lebih mudah menghafal Al-Qur'an dengan mendengarkan. Sampai akhirnya aku menjadi seorang Hafidzah.

Masih ingat jelas saat aku akan pulang kembali ke rumah dia juga memberiku rekaman. Jangan di dengarkan sebelum sampai di rumah, begitu katanya. Dua bulan lalu aku mendengarkan isi rekaman itu dan sejak saat itu setiap hari ku habiskan untuk menunggu. Rekaman itu berupa potongan surah Ar- Ruum ayat 21 dan sebuah pesan untuk  menunggu.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Ruum : 21)

" Alya, awalnya aku tidak begitu menyukaimu yang bahkan membaca Al-Qur'an pun kamu tidak bisa, tapi aku senang dengan semangatmu untuk menghafal Al-Qur'an. Meski kemampuanmu membaca Al-Qur'an kuang dari pada peserta lainnya yang bahkan usianya jauh di bawahmu tapi kamu tetap berusaha tidak peduli aku yang dulu selalu menyindir dan meremehkanmu. Maafkan aku untuk itu."

" Alya, aku hanya ingin kamu tau entah kenapa aku selalu merasa nyaman jika bersamamu meski selalu ada perdebatan diantar kita, kalau boleh jujur aku memang sengaja membuatmu jengkel, senang rasanya melihat wajah cemberutmu. Maafkan aku juga untuk ini."

" Alya, maukah kamu melengkapi iman ku dan menikah denganku? Aku akan berkunjung ke rumah orang tua untuk menanyakannya langsung padamu. Aku harap kamu mau menungguku."

" Alya, jaga hafalan Qur'an mu dan perbaiki hafalanmu surah Asy Syu'ara, hafalanmu masih buruk di surah itu. Dan satu lagi hapus rekaman ini setelah kamu mendengarkannya, aku tidak mau kamu menggunakan ini untuk mengejek ku. Riski Subuh. Wassalamu'alaikum."

Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum saat mendengarkannya. Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia berhasil membuatku gila selama satu bulan menunggu. Kegilaan ku mereda atau malah menggila saat dia benar-benar datang ke rumah bersama Bapak Kyai beserta istrinya, mas Frizqi putra pertama dari pak Kyai dan Aisyah putri bungsunya sekaligus temanku di pondok dan juga Bilal adik laki-lakinya yang seumuran denganku. Dia meminta Pak Kyai untuk melamarku menggantikan kedua orangtuanya yang telah lama meninggal. Jantungku hampir copot, saat ku kira Pak Kyai mau melamarku untuk mas Frizqi, dia benar-benar jago membuat kejutan.

Tapi entah kenapa setiap melihatnya aku selalu yakin bahwa dia lah takdir untuk ku, menghapuskan semua keraguanku melenyapkan ketakutanku. Senyumannya begitu menenangkanku. Semoga dengan pernikahan ini semakin mendekatkanku pada Allah dan menyempurnakan Agamaku. 

Aku kembali menghadap kedepan, mencoba menetralkan detak jantungku saat melihat dia berjabat tangan dengan Ayah. Ayah sendiri yang menikahkanku di pandu dengan bapak pehulu. Rasa lega yang begitu besar ku rasakan saat Ijab Qobul selesai ia ucapkan dengan satu tarikan nafas tanpa ada kesalahan. Dan sekarang aku sudah sah menjadi seorang istri dari laki-laki yang ku cintai karna Allah, Riski Subuh.

Karya : Tee