Skill of Introvert

Tee
Karya Tee  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Juni 2016
Skill of Introvert

Menjadi seorang yang memiliki kepribadian introvert tentu bukan pilihanku. Di dunia ini tidak banyak yang bisa kau lakukan jika kau hanya diam larut dalam duniamu sendiri tanpa bisa menyampaikan apa yang mau kau sampaikan. Karena pada dasarnya mereka menganggap introvert adalah makhluk yang tidak bisa bersosialisai, sehingga introvert hanya akan menjadi anak bawang dalam suatu organisasi atau kelompok. Mereka hanya tertuju pada orang yang aktif dalam organisasi dan menganggap orang yang pasif seperti introvert tidak layak menjadi pemimpin. Tentu saja mereka benar, jika yang mereka maksud orang yang layak menjadi pemimpin adalah orang yang banyak bicara di depan umum. Bagaimana mungkin aku memilih menjadi seorang introvert di dunia yang seperti itu.

Aku hanya seorang introvert yang berpura-pura menjadi orang lain. Aku tidak bisa mematahkan omong kosong mereka, tapi aku bisa membuktikan bahwa opini mereka selama ini tentang introvert itu salah. Karena orang yang diam bukan berarti tidak berfikir dan orang yang banyak bicara belum tentu tau segalanya.

" Bagaimana Yas ?" Aku suka suasana ruang bimbingan konseling yang sunyi ini, tapi aku benci situasi di dalamnya. Di mana aku harus duduk berhadapan dengan dua orang guru. Yang satu Ibu Susy guru bimbingan konseling, aku kenal dia aku sering mengobrol dengannya di perpustakaan saat jam istirahat. Dia salah satu guru yang di takuti tapi bagiku dia adalah sosok penyayang dan menyabar yang tegas sangat cocok dengan bidangnya. Mungkin mereka salah beranggapan bahwa tegas adalah kata lain dari galak. Dan yang satu lagi Pak Hery wali kelasku. Dia adalah sosok yang amat peduli pada siswanya. Mereka ah tidak, kami sedang membahas tentang beasiswa yang minggu lalu aku ajukan. Menurut syarat pengajuan beasiswa aku jelas berhak menerimanya tapi hanya satu yang menjadi masalah. Aku merupakan siswa yang kurang mampu, aku bahkan harus bekerja paruh waktu di percetakan untuk membantu kedua orangtuaku. Aku juga jadi juara satu di kelas tentu saja nilai rata-rataku di atas angka delapan. Dua syarat sudah ku kantongi, tinggal satu syarat lagi. Syarat yang menurutku tidak masuk akal. Bagaimana bisa aktif dalam organisasi siswa menjadi salah satu syarat mutlak untuk dapat beasiswa. Ini bukan tentangku yang seorang introvert meski itu jadi salah satu alasanku, tapi tentang waktu yang terbuang dalam organisasi. Jika mendapat beasiswa berarti harus berhenti bekarja bukan kah itu sama saja (?) Jika aku mampu aku tidak perlu bekerja paruh waktu dan aku juga tidak akan butuh beasiswa itu.

" Apa tidak bisa syarat itu di kecualikan, pak ?"

" Tidak bisa Yas, semua yang mengajukan beasiswa adalah siswa yang aktif dalam organisasi. Siswa yang aktif lebih di prioritaskan." Tentu saja aku tau itu, tapi mereka siswa yang tidak perlu bekerja paruh waktu.

" Ikut saja satu kegiatan yang tidak banyak menyita waktu.Selama ini kamu juga tidak ikut ekstrakulikuler, apa kamu tau berapa poin untuk siswa yang tidak ikut ekskul apa perlu ibu tulis di buku poinmu sekarang ?" Ah..Ibu Susy tau betul caranya membuatku berkata 'iya' selama ini dia yang paling mengerti, aku memang siswa pengecualian yang boleh tidak ikut ekskul tanpa takut dapat poin tapi itu juga tidak geratis sebagai gantinya setelah makan siang aku harus membantunya menjaga perputakaan, tentu saja aku menyanggupinya perpustakaan adalah tempat yang sempurna. 

"Baiklah aku akan ikut ekstrakulikuler taekondow." Walau sedikit ragu, tapi aku tau ini adalah satu-satunya kegiatan yang tidak banyak  menyita waktu ku bekarja. Latihannya hanya satu sampai dua jam sehari. Meski akan memakan banyak tenaga tapi aku masih bisa bekerja setelahnya. Jika ini satu-satunya jalan agar aku bisa dapat beasiswa, akan aku lakukan.

***

Tidak banyak yang mengikuti ekstrakulikuler ini, hanya ada enam siswa baru termaksud aku dan tiga orang senior. Taekondow memang tidak begitu popular seperti ekskul lainnya seperti PMR dan Pramuka. Meski tidak begitu banyak tapi tetap saja membuatku sedikit tidak nyaman untung saja kegiatannya berkaitan gerak tubuh bukan gerak mulut. Senior yang merangkap menjadi pelatih memberi intruksi untuk menjaga jarak. Kami akan melakukan tendangan, tentu saja. Tendang, loncat tandang, putar, tendang, tangkis, pukul, tendang. Terus seperti itu gerakan dasar dilakukan dari ujung ruangan ke ujung yang lain. Melelahkan memang tapi menyenangkan juga. Meski awalnya terpaksa lama-lama aku jadi terbiasa dengan ini. Mereka menerimaku dengan baik aku tidak hanya jadi anak bawang di sini tidak mendiskriminasikan walau tidak waktu sparing. Lima perempuan empat laki-laki mau tidak mau aku yang harus sparing dengan perempuan karena postur dan berat tubuhku yang paling sesuai. Tapi aku juga tidak bisa menanggap remeh kemampuan Devy lawan sparingku, dia memiliki teknik dan kekuatan di atas rata-rata perempuan biasanya.

" Latihannya cukup, semuanya kumpul."

" Teman-teman bagaimana kalo ekskul taekondow juga mengadakan seragam semacam kaos identitas seperti ekskul yang lainnya.?" Salah satu senior bertanya mengenai kaos identitas. Ini juga yang membuatku enggan mengikuti kegiatan di sekolah, terlalu membuang-buang uang.

" Tapi minimal pemesanan kaos itu kan satu lusin, sedangkan kita cuma sembilan orang."

" Iya juga sih, kalo kita buat sendiri bagaimana ?"

"Maksudnya sablon ? lalu desainnya gimana ?"

" Ah...aku bisa buat desainnya dan nanti kita bisa mencetaknya di tempatku bekerja." Tiba-tiba semuanya diam. Mungkin terkejut dengan suara yang keluar dari mulutku oh ayolah aku juga masih bisa bicara.

"Waw...iya aku tau Ilyas kan kerja di pecetakan dan kamu juga bisa desain grafis kan ? Aku udah lihat karya typography dan doodle art-nya juga keren-keren." 

" Baiklah kalo begitu sudah di putuskan. Ilyas tolong buatkan desain yang paling bagus yaa sebagai gantinya kamu bebas biaya untuk pembuatan kaosnya."

***

Entah kenapa aku jadi senang hati membantu mereka membuat desain kaosnya. Rasanya baru pertama kalinya ada orang yang mempercayakan sesuatu padaku. Di tempatku bekerja merupakan tempat yang paling sempurna, aku bisa menyendiri menepi di sudut ruang bersama meja lengkap dengan komputer, buku sketsa dan beragam jenis dan ukuran pen. Aku sungguh beruntung di perbolehkan kerja paruh waktu di sini. Mas Fajar pemilik percetakan ini dengan senang hati menerimaku bekerja dengannya setelah dia tau aku adalah memilik aku Instragram @YasArt. Dia bilang kapan lagi punya pekerja yang bisa desain dengan bayaran yang murah. Aku tidak ambil pusing dengan alasan itu, aku tau dia hanya bercanda karena memang seperti itu lah dia. Aku bekarja di sini juga karena aku memang membutuhkan pekerjaan, lagi pula ini cocok dengan keahlianku dan aku juga masih bisa menerima pesanan untuk typography dan doodle lewat akun media sosialku.

" Yas udah jam sembilan kamu gak pulang ?"

" Belum mas, aku gak enak sering telat." Karena harus ikut ekstrakulikuler aku jadi sering telat masuk kerja, sebenarnya Mas Fajar sendiri juga tidak keberatan yaa mana mungkin dia mau kehilangan desainer grafis 'murah' nya. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak Mas Fajar sudah begitu baik padaku.

" Hahahha...bagus lah kalo merasa begitu."

" Ooo iya Yas, 'Snowgirl' lagi ngadain lomba grafis loh. Kamu ikutan aja typograpy dan doodle juga diperbolehkan."

" Hadiahnya apa ?"

" Hhahaha udah aku tebak pertanyaanmu bakalan kaya gitu. Juara pertama akan dapat beasiswa kuliah jurusan desain sampai lulus kan lumayan Yas kamu bisa sekolah gratis lagi Hahhaha." Apanya coba yang lucu, wajar kan kalo orang tanya hadiah dalam lomba, kalo hadiahnya gak menarik ngapain harus ikut. Tapi Beasiswa untuk kuliah desain sampai lulus mah bukan lumayan lagi kali mas itu luar biasa. Walau kemungkinan menangnya kecil tapi tetap harus coba dulu kan toh tidak ada ruginya.

***

Tema lomba yang di adakan 'Snowgirl' adalah tentang 'Negri tanpa Garuda' sedikit sulit untuk menuangkan temanya dalam sebuah grafis. Aku mencoba menuangkan tema dengan ide-ide yang ada di kepalaku. Typography dengan sedikit doodle art mungkin akan mempertegas temanya, itu yang aku pikirkan. Peserta lomba tidak sampai 150 orang bisa dibilang sedikit jika mengingat hadiah yang di berikan mungkin karena tidak banyak yang tau tentang lomba ini. Jika di lihat dari semua pesertanya kemungkinan aku menang akan lebih besar.

Pemenang lomba akan di umumkan lewat website resmi milik 'Snowgirl' dua minggu setelah perlombaan. Dan hari ini adalah hari pengumumannya, Mas Fajar langsung membuka website untuk melihat apakah aku menang atau tidak. Sebenarnya aku sudah melihatnya tadi siang, tapi melihat Mas Fajar begitu antusias dan penasaran aku pura-pura tidak tau. Melihat ekspresi Mas Fajar yang kaget sekaligus bahagia membuatku ikut tersenyum senang. Pengumuman pemenang lomba grafis dengan tema ' Negri Tanpa Garuda' juara pertamanya adalah 'Muhammad Ilyas Saputra' di tulis dengan huruf Capital Bold. Aku juga tidak menyangka akan menang, dengan begini sebelum aku lulus SMA uang kuliahku sudah terjamin jadi aku cukup fokus membantu orangtuaku untuk sekolah Alya adik bungsu ku saja.

Aku seorang introvert dari kecil belum pernah merasa seberhasil ini meski belum mencapai sukses. Dengan begini aku bisa mematahkan omong kosong mereka yang memandang sebelah mata introvert. Kami para introvert memang lebih nyaman menyendiri tapi bukan berarti kami tidak bisa bersosialisasi. Kami para introvert memang lebih suka diam tapi bukan berati kami tidak berfikir, sebaliknya kami akan berfikir terlebih dahulu sebelum berucap. Kami para introvert juga bisa berguna dalam suatu kelompok jika di dalamnya tidak ada kata diskriminasi. Kami para introvert memang tidak pandai berbicara di depan umum tapi bukan berarti kami tidak layak menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin kita di tuntut untuk bertindak bukan berbicara banyak janji dan alasan mengingkari. Aku adalah seorang introvert yang nyaman menyendiri yang hobi menulis terutama grafis dan sedikit bela diri. Tendang, putar, tendang. Dan K.O

P.S : * Beasiswa yang memprioritaskan siswa yang aktif dalam organisasi memang ada.

* akun @YasArt hanya sekedar fiktif jika ada yang memiliki ini murni ketidaksengajaan.

'Snowgorl' di larang menyebutkan merk.

  • view 230

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    >>> Kami para introvert memang lebih nyaman menyendiri tapi bukan berarti kami tidak bisa bersosialisasi.
    Kami para introvert memang lebih suka diam tapi bukan berati kami tidak berfikir, sebaliknya kami akan berfikir terlebih dahulu sebelum berucap.
    Kami para introvert juga bisa berguna dalam suatu kelompok jika di dalamnya tidak ada kata diskriminasi.
    Kami para introvert memang tidak pandai berbicara di depan umum tapi bukan berarti kami tidak layak menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin kita di tuntut untuk bertindak bukan berbicara banyak janji dan alasan mengingkari <<<

    mmm... Introvert.
    Adam rasa hawa.. hihi