Sapa

Tee
Karya Tee  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juni 2016
Sapa

Sepeda putih itu setiap hari melewati depan rumahku. Yang mengendarai adalah bidadari beransel. Rok panjang dan lebarnya melambai-lambai di setiap kayuhan. Satu dua satu dua kayuhannya berhenti jalan yang sedikit menurun membantu roda-roda itu melaju. Duhai, kain apa yang kau gunakan menutupi mahkotamu itu begitu halus berkibar tertiup angin sejuk setiap pagi dan sore. Ah...aku membayangkannya seperti tirai di balik jendela kaca bening ketika jendela itu terbuka hembusan angin menyapa. Tapi tentu saja kau tidak sama dengan jendela. Perumpamaanku buruk sekali. Tapi bolehkah aku jadi orang yang menyambut angin di balik jendela itu ? Sudah lupakan saja.

" Monggo mbah." 

Selalu seperti itu. Sedikit mengurangi kecepatan lajunya kau selalu menyapa setiap orang tua yang duduk di beranda rumah mereka. Menyapa dengan sedikit meninggikan suaramu aku tau bukan maksudmu berteriak tapi karena jarak halaman rumah dengan jalan itu dan semua juga tau kemampuan pendengaran orang tua mulai berkurang terutama embahku ini. Ah harusnya kau tidak perlu berteriak untuk menyapanya cukup dengan angukan sopan semua juga tau apa maksudmu. Tidak masalah jika kau berjalan kaki seperti dulu sebelum kau punya sepeda putih itu, dengan begitu embahku bisa menyuruhmu untuk mampir sebentar dan aku jadi punya kesempatan untuk mimbrung.

" Ngati-ngati nduk."

Satu doa lagi yang mengiringimu pagi ini. Aku penasaran sudah berapa banyak doa yang kau kantongi sepanjang perjalananmu. Selalu seperti itu. Tersenyum manis sekali saat kau mendapatkan doa-doa itu. Apa jika embahku tidak menjawab sapaan mu kau akan berhenti barang sejenak. Jika iya aku akan memintanya untuk menunda mendoakanmu sampai kau memintanya sendiri. Barang kali aku bisa membuatkanmu teh hangat yang katanya adalah teh ternikmat. Itu kata embahku.

" Mbah aku juga berangkat. Wassalamu'allayikum." Mau tidak mau aku harus bergegas juga menyusulmu yang telah dulu.

" Wa'alaikumssalam ngati-ngati le." Ah ternyata aku masih dapat jatah doanya.

Pagi-pagi aku sudah dibuatnya berkeringat setelah tadi membuatku melayang tertiup angin sejukmu. Perasaan tidak terlampau lama aku bergegas darinya, tapi dia sudah jauh di depan. Apa karena jalur persawahan ini sudah tidak ada perumah lagi sampai kau tidak mengurangi lajumu untuk menyapa dan meminta doa. Kau ini benar-benar. Kau kan juga bisa menyapa petani di tengah sawah itu. Cukup berteriak lebih keras dari sebelumnya aku yakin petani itu akan mendengarnya.

" Kau...kau cepat sekali ?"

" Memang kenapa ?"

" Tidak apa."

Anggun sekali pemandangan di depanku. Matahari di timur merona menjadi bingkai yang tepat. Serasi. Meski harus ku akui matahari pagi ini kalah anggunnya denganmu. 

" Kenapa kau melakukan itu ?"

" Melakukan apa ?"

" Menyapa setiap orang yang kau temui."

" Kamu berlebihan, aku tidak melakukannya ke semua orang."

" Tunggu dulu, apa mbah kamu tidak menyukai ini ?"

" Hahahaha lebih dari sekedar tidak menyukai."

" Benarkah ? Kenapa ?"

" Karena dia mau kau menyapanya setiap pagi di dalam rumah tidak berteriak dari pinggir jalan."

" Apa maksudnya ?"

" Ah tidak ada, lain kali aku yang akan menyapa orang tuamu."

Ya dengan angin yang kau bawa akan mengantarkanku di depan rumah orang tuamu. Menyapa seluruh kerabatmu dan menanyakan apa kau mau ku bonceng dengan sepedaku atau sepedamu terserah mana yang kau pilih.

 

  • view 215

  • Dinan 
    Dinan 
    2 tahun yang lalu.
    Asyik Tee. Lama tak 'melihatmu'...

    Aku itu, Laki-laki?
    Paya jelas. Hihi...

    • Lihat 1 Respon