Aku dan Aku yang lain

Aku dan Aku yang lain

Tee
Karya Tee  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Mei 2016
Aku dan Aku yang lain

" Rasanya aku ingin menangis dan membenci semua." Meski aku tau, aku bisa dengan mudah melakukannya tapi kali ini aku ingin mendengar pendapat pada diriku yang lain.

" Siapa ?" Cih. Dia pura-pura tidak tau yang benar saja dia adalah aku dan aku adalah sebagian darinya.

" Aku tau kau mengetahuinya. Aku punya begitu banyak alasan untuk menangis dan membenci." Harusnya dia memang tau jawabannya tanpa harus bertanya.

" Apa perlu aku ingatkan lagi, bukan hanya kau yang pernah mengalami hal sulit dan menyedihkan ada milyaran manusia yang kisahnya lebih menyedihkan darimu." Lagi-lagi itu, aku sudah khatam itu.

" Aku tau itu. Aku sudah memikirkan itu ribuan kali dan setiap aku memikirkannya membuat mulutku bungkam, takut ditertawakan karena mungkin saja kisahku tidak lebih menyedihkan dari kisahnya."

" Hahaha bukan kah itu karena kau juga begitu pada mereka yang berbagi kisah denganmu. Menertawakan seolah kisahmu lah yang paling menyedihkan." Sial dia memang benar. Tapi memang begitu adanya mereka selalu merengek akan satu hal dan tidak memikirkan banyak hal. Sudut pandang misalnya, mereka hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri merasakan ke sedihannya sendiri tanpa memikirkan pihak lain yang terlibat. Ironi sekali.

" Meski begitu harusnya kau tidak boleh menghakimi seseorang karena rasa sedih mereka bukan ? Setiap orang berbeda dalam menerima sebuah rasa." Dia terus saja menceramahiku.

" Kau benar, tapi aku tetap tidak bisa membagi kisah ku itu akan lebih membebani mereka. Tapi aku juga tidak tahan jika harus terus bungkam kau tau orang yang diam cenderung memendam benci."

" Haah...itu karena kau belum menemukan orang yang tepat untuk berbagi." Ucapnya sambil menghela nafas.

" Lalu bolehkah aku menangis dan membenci sampai ada orang yang mengatakan 'Semua akan baik-baik saja, aku akan mendengarkanmu.' itu datang ?"

" Menangislah tapi tidak dengan membenci." Jawabnya dan lalu ia menghilang.

" Haah...harusnya dia tau kalau aku menangis rasa benci itu akan muncul." Aku hanya bisa menghela nafas berat.

" Sudah ku putuskan aku tidak akan menangis sampai ada orang yang akan menjadi tempat pecahnya tangisku."