Nara ( Prolog)

Tee
Karya Tee  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Maret 2016
Nara

Nara


Cerita tentang Nara. Kisahnya di masa lalu dan hidupnya sekarang hanya untuk menemukan senyuman nya yang telah hilang.

Kategori Cerita Pendek

982 Hak Cipta Terlindungi
Nara ( Prolog)

Nara, wanita itu hanya duduk termenung melihat keluar jendela kaca di kamarnya. Hujan sedang mengguyur seluruh kota tempat ia tinggal memberikan kesejukan tersendiri. Tapi tidak dengan hati Nara, ia tidak perlu sesuatu untuk menyejukan hatinya karna hatinya telah membeku. Pandangannya menerawang jauh membelah tirai hujan di luar sana. Seolah mencari kepingan masa lalunya lewat tetesan hujan. Ya dari tetesan-tetesan itu ia mampu mengingatnya.

Ayah, Nara mau naik kincir-kincir itu.?" Nara kecil menarik tangan ayahnya menuju wahana bianglala di sebuah karnaval dekat rumahnya. Raut wajah gadih berumur 5 tahun itu tampak bergembira pipi bulatnya tertarik keatas tak kala ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi ompongnya.

"Memang Nara tidak takut itu kan tinggi.?"tanya wanita yang berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Nara kecil.

" Tidak. Nara tidak takut Nara pemberani.? "Jawabnya girang sambil menepuk dadanya sendiri.

"Hahahahah...?" Terdengar gelak tawa di sana.

"Baiklah tapi sama abang Ryan ya.?"Sang ayah memberikan izin Nara kecil naik bianglala bersama kakak laki-lakinya.

" Yeeee....?"teriaknya girang.

"Jaga adikmu yan.?" Kata ayah pada Ryan.

"Siap yah.?" Ryan memberi hormat layaknya prajurit pada kaptennya.

Ayah sama ibu tunggu di bawah ya, hati-hati.?" Ucap ibu sambil melambaikan tangannya saat bianglala mulai berputar.

Nara tersenyum kecil.

Senyum Nara kecil tak pernah luntur dari wajah imutnya tak kala ia melihat karnaval dari atas bianglala. Banyak lampu-lampu warna-warni dari atas bianglala ia bisa melihat semua yang ada di karnaval itu. Wahana ini, wahana itu ia tak berhenti berceloteh sambil menunjuk wahana yang ada, ia ingin menaiki semuanya. Pikirnya.

Tiga kali putaran, kurungan yang Nara kecil naiki tepat berada di puncak, bianglala berhenti menurunkan penumpang yang habis waktunya dan di ganti dengan penumpang yang lain.

" Abang kenapa berhenti.?" Tanya Nara kecil wajah polosnya ketara sekali bahwa ia sedang takut. Melihat itu Ryan berniat mengerjai adiknya. Remaja umur 12 tahun itu menggoyang-goyangkan kurungan yang ia naiki bersama adiknya.

 "Huaaa....abang abang jangan di goyang-goyang."Teriak Nara kecil ketakutan.

"Hahahahaha katanya pemberani. "Kata Ryan mengejek.

Nara kembali tersenyum kali ini lebih lebar sampai memperlihatkan giginya. Matanya ikut menyipit namun tatapannya tetap tajam melihat rinai hujan yang semakin deras di luar sana. Masih ada jutaan tetes hujan yang menyimpan semua kenangan Nara. Kali ini Nara memilih tetesan hujan yang semakin besar yang diturunkan dari langit. Tetesannya semakin besar jatuhnya pun semakin cepat, memberikan riak yang semakin besar pada genangan di halaman rumahnya. Ia kembali teringat masa itu, masa yang tidak akan pernah ia lupakan meski ia menginginkannya.

"Apa yang kau lakukan.??" teriak sang ayah pada ibunya.

"Aku mau pergi dari sini aku mau pulang." jawab ibu tak kalah kencang dengan teriakan ayah. Ibunya masih sibuk memasuka pakaian dalam koper tidak mempedulikan teriakan-teriakan ayah bahkan dia juga tidak menghiraukan tangisan Nara kecil yang baru berusia 6 tahun itu.

Prakk...prakk

Brukkk...

Bunyi benda-benda menghantam lantai. Di sudut kamar Nara meringkuk menekuk kedua lututnya dan kedua tangannya menutup telinganya berharap tidak ada suara yang masuk indra pendengarannya. Wajahnya sudah basah dengan air mata tubuhnya menggigil ketakutan.

"Hiks..hiks ibu kita mau kemana.?? "dengan isakan Nara kecil bertanya pada ibunya yang menarik tangannya.

Nara ikut ibu ya.? "Hanya itu yang di ucapkan ibunya. Air matanya terus mengalir bagai anak sungai.

"Jangan bawa anak ku.? "Teriak ayahnya dari ruang tengah. Tak dihiraukan ibunya semakin mempercepat langkahnya keluar dari rumah itu dengan Nara kecil yang ia gandeng.

Nara tidak tau apa yang terjadi pada kedua orang tuannya, Nara tidak pernah tau sampai sekarang pun ia tetap tidak tau. Nara kecil terus betanya kemana ia akan pergi bersama ibunya. Mengapa ia harus pergi. Bagaimana kalau abang Ryan mencarinya sepulang sekolah. Bagaimana dengan ayahnya. Kemana, kemana ia akan pergi. Pertanyaan demi pertanyaan muncul namun tak ada jawaban dari ibunya. Nara melihat ibunya masih menangis sesekali ibunya menghapus air matanya namun tetap saja air mata itu mengalir lagi dari mata sembabnya. Nara kecil memang tidak tau apa-apa tapi yang pasti ia tidak mau semua ini terjadi. Ia tidak mau.

"Hemppt..."Nara kecil dibekap dari belakang dan di paksa menjauh dari ibunya. Ayahnya menggendong Nara kecil dan menjauh dari ibunya. Ibunya tidak berusaha merbutnya ia tetap melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti kini ia berjalan seorang diri dengan air mata yang semakin deras keluar dari mata sayunya.

"Aaaaaa ibu...ibu...ibu jangan pergi.?"teriak Nara kecil dari gendongan ayahnya.

" Hiks ayah turun Nara ingin ikut ibu hiks hiks.? "Tangisnya pilu.

Sang ayah membawa Nara kecil kembali ke rumah. Nara masih menagis, tangisannya semakin menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Nara terus memanggil ibunya dalam tangisannya.

"Hiks hiks ibu..ibu hiks ibu hiks ibu ibu..." tangisannya semakin pilu.

Saat ia sampai di rumah Ryan sudah ada di sana. Tatapannya tajam penuh dengan kebencian melihat ayahnya hanya membawa Nara kecil kembali tanpa ibunya.

"Hiks...abang ibu ibu bawa pulang ibu bang." Pintanya pada sang kakak. Sang kakak langsung pergi mengejar ibunya. Nara hanya bisa berharap kakaknya bisa membawa kembali ibunya dalam pelukannya. Ya pelukan, Nara amat sangat membutuhkannya saat itu. Jiwanya begitu rapuh, ia amat terpukul di usianya yang masih belia harus menghadapi pemandangan seperti ini.

Nara tidak tau apa yang terjadi dulu sampai sekarang pun ia tidak tau. Tapi dia bisa bernafas lega karna saat itu kakaknya berhasil membawa ibunya kembali. Entah apa yang membuat kakaknya mampu membujuk ibunya untuk kembali, Nara tidak mempedulikannya yang penting ibunya kembali. Kembali memberikan pelukan hangat pada tubuh kecil Nara yang menggigil.

Nara tersenyum kecut. Matanya masih menatap hujan dari balik jendela. Kenangan itu membuat hatinya serasa diremas kuat menyebabkan nyeri yang begitu hebat di dadanya. Karna ia tau setelah kejadian itu semuanya berubah. Nara kecil tak lagi menunjukan senyumannya. Kehidupanna telah berubah. Ayahnya pergi dengan alasan bekerja di luar kota. Ayahnya hampir tidak pernah pulang, tapi Nara tidak mengharapkannya karna ia tau saat ayahnya pulang pasti aka ada pertengkaran. Dan Nara benci itu.

Nara sudah kehilangan sosok ayahnya dulu. Ayah yang selalu melindunginya, menjaganya, menyayanginya sudah tidak ada lagi. Ayah yang sangat ia banggakan sudah hilang, hilang bersama kenangan. Hidupnya kini hanya ada kakak dan ibunya. Yang entah kenapa pula sosok kakaknya pun telah berubah. Dia bukan kakaknya yang dulu. Nara kembali mengingat masa lalunya lewat tetesan hujan. Masa di mana ia kehilangan sosok kakaknya.

Dasar adik sialan, masuk sana aku tidak mau teman-temanku melihatmu." Kata-kata kasar, menghina bahkan pukulan sekarang menjadi hal biasa buat Nara. Ia tidak pernah melawan tapi hatinya menyimpan kebencian.

"Minggir, kau merusak pandanganku."Ryan dengan tega mendorong tubuh Nara hingga terjatuh.

" Ryan.." teriak ibunya saat melihat apa yang di lakukan Ryan pada Nara.

" Kenapa denganmu.?Dia adikmu." Lanjutnya sambil memeluk Nara yang masih terduduk di lantai.

" Persetan dengan adik. Persetan dengan keluarga." Teriak Ryan sambil berlalu pergi.

" Nara....Nara yang sabar ya nak." Kata ibunya sambil membelai rambut Nara.

Nara tak bersuara dia hanya diam bahkan dia tidak menangis meski tubuhnya merasakan sakit akibat hantaman keras saat ia terjatuh tadi. Dia hanya diam tapi matanya memancarkan kebencian, tak ada lagi cahaya di sana hanya gelap. Nara tau kenapa sosok kakaknya berubah seperti itu dia amat tau. Tapi apa semua ini salah Nara.? Apa pertengkaran orang tuanya itu salahnya.?Apa kepergian ayahnya juga salahnya.? Bukan. Ini bukan salah Nara. Nara juga tidak menginginkan semua ini terjadi. Lalu kenapa Ryan amat membencinya.? Entahlah. Nara pun tidak tau jawabannya.

Raut wajah Nara berubah kini ia tidak menangis lagi tatapannya tajam seolah bisa membunuh siapa saja yang melihatnya. Mengingat kenangan itu kebenciannya muncul kembali hingga tak sadar ia mengepalkan tangannya erat. Pertannyaan mengapa kakaknya membencinya tak pernah ia dapatkan jawabannya. Masih melihat hujan di luar sana yang masih belum menunjukan akan reda, Nara kembali mencari kepingan-kepingan yang lain.

" Lihat gadis itu apa kau berani mendekatinya."

" Yang benar saja."

" Hahahha kau bayar pun aku tidak sudi berteman dengannya."

" Benar, lihat saja matanya penuh dengan intimidasi."

" Hahahah dasar gadis aneh."

Nara hanya duduk di kursi barisan paling belakang tepat di samping jendela. Pandangannya tertuju pada barisan pohon yang ada di taman belakang sekolahnya. Dia mendengar semua bisik-bisik itu tapi ia memilih untuk diam meski ia tau semua bisik-bisik itu tertuju untuknya. Manusia Es, gadis aneh, menakutkan, dan masih banyak lagi julukan untuknya tapi Nara tetap tidak peduli. Ia memang memilih seperti ini. Menjauh dari semuanya menyendiri ia tidak butuh siapa-siapa. Pikirnya. Karna Nara tidak mau percaya dan berharap pada orang lain lagi. Nara pernah berharap dan percaya pada ayah dan kakaknya tapi harapan dan kepercayaannya telah hancur tak bersisa. Kini tinggal Nara sendiri, ia sendiri di dunia ini.

Nara kembali mematung, tatapannya menjadi kosong. Nara berfikir bahwa selama ini ia tidak bisa menikmati masa remajanya dulu. Tapi tidak juga, ia pernah sangat-sangat bahagia rasanya Nara ingin tertawa mengingat itu. Sampai sebuah teriakan mebangunkan lamunannya. Hujan juga sudah reda entah sejak kapan.

" Mama..."

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Tulisan yang berhasil membawa pembaca turut merasakan pedihnya hati seorang anak menghadapi keluarga yang berantakan saat kebanyakan teman sebaya merasakan utuhnya kasih sayang dari keluarga. Teknik penulisan yang dibuat secara acak sanggup membuatnya jadi kisah yang wajib dibaca sampai akhir guna tahu akhirnya walau masih berupa prolog. Pemilihan kata yang pas membuat emosi para tokoh tersampaikan dengan baik. Kami katakan membaca tulisan ini bak menyaksikan drama keluarga berbobot yang penuh intrik. Inti kisah ini adalah masalah perpisahan ibu dan ayah Nara yang tetap menyisakan luka bagi anak ini hingga usianya beranjak remaja. Belum tuntas luka akibat kepergian sang ayah, ia kembali menghadapi tingkah laku sang kakak yang mendadak sadis secara psikis hingga Nara tumbuh menjadi anak yang tertutup, minder dan murung. Kami tunggu kelanjutan kisah Nara berikutnya, Tee!

    • Lihat 1 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    aku hanyuttttt

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Nara Shikamaru akan berkata, " merepotkan*... Hihi. Lanjutkan Tee

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    ikut sedih.
    semoga di kisah selanjutnya, Nara bisa tertawa