SMK dan Ruang cuci darah

Tubagus Hakim
Karya Tubagus Hakim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Juli 2017
SMK dan Ruang cuci darah

SMK dan Ruang Cuci darah

Tangis sendu deras terdengar dibalik ruang biru kecil disudut rumah sakit besar kota baja, entah kutukan atau keniscayaan, kesedihan manusia tanpa harapan selalu mengisi kebisingan suara diruang ini. Malaikat berbaju putih yang bertugas menjaga para pesakitan sudah terlatih untuk mengatur ritme empati kesedihannya, kalbu mereka dipaksakan untuk berpura-pura tegar dilingkungan penuh prahara tiada tara.

Di tengah keriuhan sang malaikat putih yang berusaha memberi mukjizat pada hamba yang  tergulai pasrah, sesosok pemuda dengan baju biru tua khas  smk teknik terdiam terperanga melihat jeritan, tangisan dan rasa gundah gulana manusia. Seketika dia berujar

“ mengapa orang-orang ini seperti terjerembab dalam jurang kesedihan yang amat mendalam”. Sang pria tersebut lalu berjalan dan merenung tentang nasib di kemudian hari apakah akan sama hampanya dengan mereka.

Langkah kaki penuh optimisme jiwa muda setapak demi setapak dia lalui dengan mata yang awas melihat pemandangan murung muka pengunjung, setibanya ia di sudut ruang biru tiba-tiba ia berhenti dan tangannya tak mampu digerakan untuk membuka pintu ruangan tersebut.

Pria tersebut keringatnya meluncur deras bak air BAH di depan ruang tersebut, kecemasan mulai masuk dalam relung jiwa muda penuh semangat ini. Tatkala pria ini lama sekali tak kuat membuka pintu pesakitan para manusia yang selalu berdampingan dengan alat kotak harapan pemanjang hidup mereka, salah seorang malaikat berbaju putih bertanya.

“ de kenapa ga mau masuk ruangan?

“Pria muda tersebut hanya diam tak kuasa mengangkat bibirnya walau hanya untuk satu kata”

Dengan sabarnya malaikat tersebut bertanya kembali sambil keheranan, “ade mau jemput siapa di ruang cuci darah ini ?”

Dengan singkat pemuda tersebut menjawab “ ABAH”

“ oh gitu, ya udah atuh ade masuk aja “ seraya dia membantu membukakan pintu tersebut.

Ketika pintu sudah dibuka “ pemuda tersebut hanya diam tak bergerak tatkala dia langsung melihat pemandangan cucu adam dan hawa tergulai tak berdaya bersama jarum tajam penambah umur kehidupan, melihat potret tersebut kaki pria itu seperti di pasung oleh paku yang besar menembus lantai ruangan hingga seluruh tubuhnya lemas tak berdaya”

Air mata sendu pria muda pembawa tespen dan avometer ini tak terasa mulai mengalir dari peraduaannya dan bergabung bersama keringat kecemasan yang membahasi baju biru tua. Langkahnya yang mati dan mulutnya membisu tak ayal menyiratkan kepedihan mendalam, hanya air matanya saja yang mencoba berkomunikasi dengan semua pihak yang ada diruangan tersebut bahwa dia tak kuasa masuk dalam lingkungan baru yang penuh akan nuansa haru biru.

Tak terasa lembayung senja sudah menyapa, tetapi sang pemuda tersebut masih saja tak kuasa menahan kenyataan bahwa tuhan mentakdirkan sebuah kesengsaraan perasaan yang begitu mendalam sampai-sampai pemuda ini lagi-lagi ditegur malaikat putih

“ de kok dari tadi diem sama nangis aja, ayo sini masuk anak laki-laki harus kuat”

Sontak mendengar kata-kata itu pemuda tersebut sadar dari gumam kepeedihannya yang baru dia rasakan pertama kali dalam hidupnya.

“iya pak “ hanya 2 kata itu yang sempat dilontarkan oleh pemuda ini sebelum badai kerisauann melanda kembali, dan membuat air matanya seolah menjadi sumber mata air suci yang tak pernah habis mengalir tanpa bisa dikendalikan. Dalam pikirannya dia mencoba melawan naluri simpati berlebih ini, tapi apa daya semakin meronta semakin menguras seluruh kekuatannya. Sehingga ia pun menutup kembali ruang cuci darah tersebut dengan penuh rasa gundah gulana manusia tanpa harapan.

 

  • view 54