Pertemuan Singkat Menjelang Senja

Tazkiyatun Nafsiah
Karya Tazkiyatun Nafsiah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 14 Juli 2016
Pertemuan Singkat Menjelang Senja

Bandung, Jum'at, 31 Juli 2015

Sore ini langit di Kota Bandung nampak mendung. Disusul gerimis sesaat kemudian. Aku baru saja tiba di salah satu mall di pusat Kota Bandung. Entahlah, dengan mudahnya Allah mengarahkan pandanganku pada seseorang yang jaraknya hanya beberapa meter dariku. Ketika aku hendak menuju pintu masuk mall dan melewati lelaki paruh baya itu, diam-diam aku memperhatikan sosoknya. Oh iya, aku lupa bercerita. Sebelumnya aku ke sini untuk menunggu sahabat karibku sedari kecil. Tapi nampaknya ia terjebak gerimis yang mulai menjadi hujan. Aku menunggu sahabag karibku tersebut tepat di samping pintu masuk mall.

Baiklah, mari kembali ke fenomena yang baru saja aku lihat dan ingin aku share.
Ia seorang kakek yang terduduk di antara pot-pot besar, di pinggir jalan yang dilalui ribuan kendaraan setiap harinya. Hampir setiap orang yang mau ke mall ini tentu berjalan melewati kakek tersebut. Sang kakek menjajakan barang dagangannya. Tentunya bukan barang-barang berkelas yang ia jual. Ia hanya bisa menjual kain lap dapur dan keset yang seringkali diinjak orang. Aku tak kuasa melihat beliau. Karena di tengah hiruk pikuk Kota Bandung ini ternyata masih saja ada orang yang harus menerima getirnya hidup. Saat kuperhatikan, tak ada satupun yang mengganggap keberadaan kakek itu dengan barang dagangannya. Tak juga satupun orang yang menoreh ke arahnya untuk sekedar memberikan senyum ataupun menawar barang dagangannya.
Aku menghampirinya. Ia menyunggingkan senyum kepadaku di tengah-tengah keterbatasan hidupnya.

“Bapak berjualan kain lap ini ya. Berapa harganya Pak?”

“Iya, kain lapnya Rp 10.000 dan kesetnya Rp 20.000.’

"Oh begitu ya Pak. Bapak dari jam berapa berjualan di sini? Sudah lama?” Tanyaku sembari melihat-lihat barang dagangannya.

“Dari tadi pagi. Iya sudah lumayan lama.”

“Kalau boleh tahu, Bapak asalnya dari mana?”

“Saya dari Garut neng, di sini hanya numpang berjualan.”

“Dari Garut? Setiap hari pulang pergi ke sini Pak?”

“Iya, dari Garut saya ikut mobil pengangkut Sayur yang hendak menuju Pasar Caringin.”

“Lantas Bapak harus ke Pasar Caringin dulu ya setiap mau pulang dari sini. Masya Allah….”

“Ya begitulah, Neng.” Ia menjawab dengan mata yang hampir berkaca-kaca.

Rasa penasaranku berlanjut untuk mengetahui aktivitas berat beliau.
“Biasanya Bapak berjualan sampai jam berapa?”

“Kira-kira sebentar lagi lah.” FYI, saat ini matahari tepat kembali ke ufuk Barat dan langit Kota Bandung mulai gelap.

“Oh ya tadi berapa harga kain lapnya pak, saya mau beli.” Aku berusaha menyenangkan hati beliau, meski tak banyak yang bisa kubeli.

“Ini saja, Neng?”

“Iya maaf ya, Pak. Saya enggak bisa beli banyak.”

“Tidak apa-apa Neng, terimakasih banyak.”

“Semoga barang dagangan Bapak laku semua ya Pak hari ini.”

“Aamiin Ya Allah, sekali lagi saya sangat berterimakasih Neng.”

“Aamiin, semoga ya Pak. Hmmm, seharian ini sudah laku berapa banyak Pak?”

“Alhamdulillah tadi sih ada yang membeli dua.”

“Baru dua dari tadi pagi?”

“Iya Neng, tapi tak apa. Bersyukur masih ada yang mau beli.”Aku pun tersenyum melihatnya.

Beberapa waktu kemudian aku melirik jam. Sudah pukul 18.03 WIB dan sahabat karibku tak kunjung datang. Di waktu bersamaan, ponselku berdering. Sahabatku itu menelpon dan mengabari bahwa ia tak bisa menjemputku di mall tersebut karena harus ada yang ia selesaikan dulu. Ia menyarankanku untuk naik taksi menuju tempat kerjanya agar lebih mudah.
Tapi aku tak bisa begitu saja meninggalkan tempat ini. Nuraniku tertaut pada sebuah sudut. Tempat kakek tadi berjualan. Aku menghampirinya lagi.

“Bapak kok belum pulang? Belum laku semua ya?”

“Belum, nanti pulangnya jam 10 malam. Beginilah Neng, masih banyak.” Sambil merapikan barang dagangannya.

“Memangnya mobil pengangkut sayur yang sering Bapak tumpangi masih ada jam segitu?”

“Masih Neng, alhamdulillah. Dari sini nanti Bapak naik angkot dulu ke Caringin untuk menumpang di mobil sayur itu.”

“Ya Allah… Bapak jualan di sini enggak pernah ada yang mengusir?” Tanyaku sedikit heran, karena beberapa menit yang lalu melihatnya bertegur sapa dan bertukar senyum dengan seorang satpam di mall itu.

“Enggak pernah Neng, katanya Bapak boleh berjualan di sini.”

“Syukurlah…” Ujarku lega.

“Bapak berjualan di sini pokoknya tak lama setelah mall ini selesai di bangun.”

“Wah sudah lama juga ya Pak. Memangnya sebelum berjualan, dulu pekerjaan Bapak apa?”

“Ya dulu Bapak jadi kuli dan mau bekerja serabutan apa saja Neng. Tapi sekarang Bapak sudah tua. Hanya ini yang bisa jadi usaha Bapak sekarang.”

“Bapak punya berapa orang anak?”

“Tujuh, Neng. Sudah pada besar-besar dan ada yang sudah menikah.”

“Berapa orang anak yang saat ini masih jadi tanggungan Bapak?”

“Ada empat orang, Neng.” Aku melihat semangat yang terpancar di kedua matanya. Semangat yang sama sedari dulu seperti yang ia ceritakan baru saja kepadaku, demi menghidupi keluarganya.

“Nama Bapak siapa?” Aku tersadar, dari tadi mengobrol panjang lebar tapi masing-masing belum sempat memperkenalkan diri.

“Kusnadi.”

“Usia Bapak berapa?”

“Pokoknya Bapak kelahiran tahun ‘30-an….”

“Masya Allah, tapi Bapak masih kuat sekarang. Semangat terus ya Pak jualannya.”

“Bapak memang sudah tak muda lagi. Tapi Bapak pasti semangat.”

“Sebelumnya salam kenal ya Pak, nama saya Tazki. Tinggal di Bandung, asalnya dari Ciamis.”

“Ya Allah, Ciamis? Lumayan dekatlah dengan Garut ya Neng. Neng masih kuliah atau sudah kerja?”

“Masih kuliah Pak, sudah mau sidang skripsi. Mohon do'aNya Pak.”

“Semoga Neng ke depannya sukses terus dan Allah jadikan hidup Neng barokah.”

“Aamiin. Terimakasih. Maaf Pak saya harus buru-buru pergi karena supir taksi di depan sudah menunggu. Semoga Bapak sehat selalu dan barang dagangannya segera laku.”

Ia yang mulai tak kuasa menahan haru, berkata kepadaku seraya menatapku teramat dalam dengan air mata yang hampir menetes, “Semoga kebaikan Neng dibalas Allah. Semoga Neng juga sehat dan rezekinya lancar.”
Sesaat kemudian aku menyudahi posisi merundukku kepada beliau, aku segera berdiri dan mulai berjalan menuju sebuah taksi yang sudah menunggu.

Semilir angin di sore menjelang malam ini, membuatku tertegun tak lama setelah duduk di dalam taksi.
Mendengar tutur kata dan kejujurannya, hatiku tersentuh. Rasanya semakin tak tega membiarkan ia terduduk seorang diri di pelataran mall. Ia yang semakin berusia dan semakin mudah merasa lelah. Hatiku seakan tak percaya, bagaimana mungkin sedari pagi ia bertahan menjajakan barang dagangannya di tengah terik matahari dan hanya satu dua orang yang benar-benar mempedulikannya. Maha Besar Allah. Allah lah yang menguatkan jiwa yang lemah, yang membuat sang kakek tegar dan tetap semangat untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Barakallah Kakek, semoga Allah senantiasa melindungi Kakek & keluarga yang setiap harinya menanti kepulanganmu. Aku tau pasti mereka pun saat ini sedang menunggu hasil kerja keras dari sang kakek.

Lalu aku seketika teringat perkataan seorang temannya Ayah, Om Dedi, “Kita harus iba terhadap orang-orang seperti itu. Pasti anak dan istrinya sedang menunggu ia pulang membawa hasil keringatnya sendiri. Entah untuk sekedar dibelikan makanan ataupun kebutuhan pokok lainnya. Om bisa memastikan, kalau mereka tak dapat uang sepeser pun, mungkin beberapa di antaranya tak bisa membelikan susu untuk anaknya.” Paparnya, sambil menunjukkan deretan orang-orang di sepanjang jalan kota Tasikmalaya beberapa hari yang lalu.

Sembari Om Dedi menjelaskan kepadaku secara perlahan, kulihat deretan orang-orang itu seperti tak mempedulikan rasa lelah. Mereka tetap berjuang di tengah-tengah kebutuhan ekonomi yang semakin menghimpit. Mereka tak lain adalah para petugas parkir, para pedagang kaki lima, bahkan para pedagang asongan. Om Dedi bertutur kata kepadaku tak hanya melalui lisan, tapi juga dari hati ke hati. Semoga Allah pun senantiasa menguatkan mereka dan memudahkan mereka memperoleh rezeki demi menyambung hidup.

©Tazkiyatun Nafsiah

  • view 244