Kisah Hani

Tazkiyatun Nafsiah
Karya Tazkiyatun Nafsiah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 30 Maret 2016
Kisah Hani

*Sumber foto:?http://islamicartdb.com/wp-content/uploads/2013/09/with-hardship-comes-ease1.jpg

Hani terlahir tanpa saluran lubang pembuangan dan alat kelamin. Bukan? tak ingin melihat senyum anaknya merona, orang tua Hani dengan ketidak berdayaannya telah mengusahakan pengobatannya. Beberapa tahun silam keduanya pernah membawa Hani ke salah satu rumah sakit pusat di Bandung. Ya, mereka bahkan begitu ikhlas menempuh jarak karena di kota asal mereka belum ada sarana yang memadai. Sukabumi, masih satu region dengan Bandung?Jawa Barat. Tapi tak berarti kedua orang tuanya dengan mudah melewati jarak Sukabumi-Bandung. Setibanya di? kota Paris Van Java?tersebut, hati mereka bagai ?kebal? melawan derita. Orang tua Hani harus rela membiarkan tubuh kecil yang seharusnya tengah riang berlari serta bermain dengan teman-temannya, memasuki ruang operasi. Malang menimpa nasibnya. Gadis sekecil Hani yang pada usianya saat itu seperti tumbuhan?pioneer,?telah memperjuangkan antara hidup dan mati untuk operasi?colostomy. Sebuah tindakan medis guna membuat lubang pembuangan sementara Hani. Operasi itu tidak serta merta membuat hidup Hani berubah seratus delapan puluh derajat seperti dalam dongeng. Namun setidaknya operasi itu membuat mata kedua orang tua hani sedikit lebih berbinar, tak ada senyum layu lagi.

?

Satu senti saja senyum mereka berkurang, akan berdampak demikian pula pada senyum Hani kecil. Bagaimana Hani bisa tertawa bahagia sedangkan kedua orang tuanya saja tak mampu menahan derita. Kali ini senyum ketiganya tak seratus persen murni. Ya, ada bantuan pemerintah di belakang operasi?colostomy?tersebut. Allah meringankan beban mereka lewat uluran tangan pemerintah,?alhamdulillah.

?

?Gemuruh? itu datang lagi. Setelah operasi pertama selesai, orang tua hani masih harus memutar akal untuk tindakan medis selanjutnya. Sehari-hari kehidupan mereka serba dalam keterbatasan. Penghasilan sang ayah yang didapatkan dari hasil berdagang es cincau keliling seolah menjadi tembok pemisah yang menjulang tinggi bagi keinginan keduanya untuk melanjutkan pengobatan Hani. Seharusnya Hani menjalani rangakaian selanjutnya yakni penutupan lubang anus dan pembuatan alat kelamin. Bila takdir-Nya berkata hal itu terlaksana, guratan kesedihan itu mungkin tetap ada. Melihat anaknya tumbuh tak normal seperti teman seumurannya mungkin laksana mimpi buruk yang menghantui. Salah satu kenikmatan di dunia yakni nikmatnya istirahat sampai tak terasa ketika Ia memasukkan siang ke dalam malam, dan malam ke dalam siang. Tapi tidur nyenyak dengan hati tenang bagai menjadi barang mahal yang harus ditebus ke dua orang tua Hani. Ya, mimpi itu selalu datang membuat onar dalam kegelapan hingga menjadi suratan takdir di pagi hari. Begitulah setiap malam kelam yang harus dilalui ke dua orang tua Hani. Dada mereka terasa lebih sesak ketimbang sesaknya hunian yang menjadi payung mereka dari hujan dan terik mentari.

Ketika Hani menginjak usia 3 tahun, takdir masih belum berpihak pada mereka. Justru kehidupan keluarga kecil ini semakin terhempaskan. Jika dalam kurva analisis, mungkin inilah klimaksnya?titik tertinggi dari suatu deretan nilai dan peristiwa. Bagi kebanyakan orang tua, saat anaknya memasuki usia 3 tahun menjadi saat-saat menyenangkan. Menikmati hasil membesarkan buah hati dari yang tak bisa apa-apa kini mulai menunjukkan perkembangan. Bagi mereka di luar sana, adalah hal yang istimewa melihat anaknya tengah belajar berbicara, menemukan kata-kata dan ?istilah? baru setiap harinya. Memperhatikan gaya motorik anaknya dan?gesture?tubuh mereka yang merespons sesuatu. Terlebih lagi menjadi hal yang sangat dinanti-nati ketika sang anak mulai bisa berjalan, yang sebenarnya lebih mirip seekor pinguin.

Masa-masa menjadi orang tua di tengah anak yang mulai tumbuh dan berkembang seharusnya juga dirasakan keluarga kecil ini. Tapi nampaknya takdir selalu ?mengajari? mereka lebih ekstra, tidak seperti orang lain yang berbahagia dalam segi apapun. Ya, Hani sempat terjatuh di usia keemasannya tersebut sampai kaca rumah mereka seketika pecah. Kejadian itu ternyata membawa dampak yang sangat buruk bagi pertumbuhan Hani.

?Berjuang itu tidaklah mudah, tapi itulah hidup.?Cheers and believe you can do it.?

?Stanijuanita Marantika

Keterbelakangan pendidikan, himpitan ekonomi, operasi colostomy, lalu apa lagi? Hani tak lagi dapat berjalan. Nampak dari tubuh mungilnya tinggal kaki dan tangan yang berbalutkan kulit, anggota tubuh itu semakin mengecil. Tragis memang, melihat tubuh yang seharusnya riang berlari hanya tergolek lemah. Yang lebih mengenaskan, pertumbuhan Hani tak seimbang?perutnya semakin membesar di balik anggota tubuh lainnya yang semakin mengecil.

?Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.? (Q.S. Al-Baqarah: 286)

??Cambuk? bagi orang tua Hani bertambah ?keras?. Kondisi lebih buruk yang dialami anaknya ini membuat vonis gizi buruk itu terngiang di telinga mereka. Mungkin saat kedua orang tuanya tersungkur, Hani tidak tinggal diam. Buktinya ia masih bisa menggerakkan tubuhnya. Ia sering kali berusaha menopang tubuhnya yang tak berdaya dengan cara mengesot. Anak sekecil Hani tak kehabisan akal bagaimana seharusnya ia melewati fase-fase menyedihkan dalam hidupnya, ketika gelak tawa Hani bagai mengawang-ngawang di atap rumah mereka, ketika keadilan menjadi barang langka bagai jarum dalam jerami, ketika perjuangan hidup harus dirintis bahkan sejak kita terlahir ke dunia. Hani tahu, ia bisa melewati ini semua. Allah bahkan Maha Tahu, Ia ?menganugerahkan? bait-bait ujian hidup tersebut karena Mengetahui bahwa Hani dan keluarganya sanggup untuk itu.?Yeah, practice make you perfect. Problem makes you stronger.

?

?Dengan sedikit keberanian dan keyakinan kita dapat melakukan sesuatu yang mustahil.?

?Kutipan dialog dalam film??Oz The Great and Powerful.?

?

Hani memang tak tahu apa itu?justice for peace,?tapi? kehidupan yang pahit ini justru begitu baik mengajarkan Hani sekeluarga untuk senantiasa bersyukur. Mungkin di luar sana ada yang mengalami kondisi lebih buruk dan menyakitkan ketimbang Hani. Orang tua Hani belum kehilangan segalanya, lantunan do?a selalu memberi secercah cahaya untuk mereka. Selama keyakinan dan kepercayaan itu masih ada, harapan yang lebih baik akan selalu tumbuh, memekar dan menyibakkan ?harumnya?. Membuat orang tua Hani semakin bersemangat untuk mewujudkannya.? Di samping Hani yang tumbuh tak normal, Allah mengirimkan malaikat-malaikat kecil yang lain ke keluarga ini. Beruntung anak-anaknya yang lain tak mengalami kondisi sama seperti Hani. Mereka terlahir normal, tumbuh dan berkembang layaknya ?jagoan? kecil pada umumnya. Lihat, Hani dan orang tuanya sangat masih punya alasan untuk tersenyum. Di sela-sela menghabiskan waktu bersama sanak saudaranya tersebut, dalam hati Hani berujar, ?Kalian jangan seperti aku. Cukup aku saja yang ?malas-malasan?, hanya bisa diam tak banyak bergerak. Berlarilah, sekuat kalian berlari mengejar impian. Jika kalian hanya berpangku tangan seperti aku, takdir akan menelan kalian hidup-hidup. Berlarilah, jangan biarkan budak-budak takdir lainnya muncul.?

?

?Tak ada yang perlu kita lakukan selama kita masih punya keyakinan.?

?Kutipan dialog dalam ?film??Oz The Great and Powerful.?

?

Masa-masa kelam itu telah jauh tertinggal di belakang sana. Menyisakan keyakinan orang tua Hani untuk terus bergerak. Setidaknya senyum itu kembali merekah, mata itu tak lagi kosong, gumpalan awan hitam di sekitar rumah mereka kini perlahan hilang. Mungkin ?matahari? dan ?langit biru? merindukan keluarga ini, serta ?kicauan burung? yang riang hinggap di ranting pohon bermandikan sang surya itu ingin kembali menghibur mereka. Kini Hani mencapai usia 7 tahun, masih dengan kondisi mengenaskan tapi lebih baik dibandingkan masa-masa kelam itu. Ya, meskipun berat yang tersisa hanya 9kg dan tinggi badan 80 cm.

??Allah tidak akan memberi cobaan kepada seseorang kecuali dalam batas kemampuannya. Bisa jadi kitalah perantara terlepasnya ia dari cobaan Allah tersebut.?

?Abdurrahman Dihya Ramadhan

?Takdir mempertemukan keluarga Hani dengan Kampus Peduli. Entah bagaimana caranya, Allah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, membuat Kampus Peduli tergerak untuk memberikan bantuan kepada keluarganya. Rumah sederhana yang berlokasi di Kampung Setia Bhakti, RT 03 RW 01, Desa Kompa, Kecamatan Parakan Kuda?Sukabumi ini akhirnya diketahui Kampus Peduli berdasarkan informasi yang didapat. Pada hari itu beberapa relawan Kampus Peduli mengadakan persiapan sebelum menuju Sukabumi. Perjalanan dimulai. Di tengah-tengah suasana hening saat menempuh jarak menuju rumah Hani, dalam hati beberapa relawan tersebut membayangkan bagaimana kondisi Hani. Hati mereka terenyuh, tak kuasa meneruskan imajinasi mereka saat mulai menjadi-jadi. Terbayang Hani yang dengan keterbatasannya mencoba berjuang hidup, terpikirkan orang tua Hani yang setiap paginya harus memulai hari dengan kekecewaan. Kecewa pada diri mereka sendiri mengapa membiarkan anak sulungnya tumbuh dalam masa-masa kelam.

?

Khairunnas anfa?uhum linnas?

?Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.?

Kampus Peduli setibanya di rumah Hani membawa kabar gembira. Gumpalan awan hitam di rumah sederhana itu mulai tersibakkan. Dukungan moral dan moril diberikan. Akhirnya pada 18 Februari 2013 pengobatan Hani kembali berlanjut, ia dibawa Kampus Peduli menuju rumah sakit tempat dulu ia dioperasi. Di sana Hani menjalani serangkaian tindakan medis mulai dari pemeriksaan darah, kromosom, radiologi, dll. Setelah itu barulah Hani akan menjalani operasi lanjutan yang meliputi operasi pembuatan anus dan alat kelamin. Serta masih diperlukan pengawasan dalam tahap-tahap perbaikan gizi Hani. Dalam hal ini Kampus Peduli tidak tanggung-tanggung memberikan bantuannya. Jika operasi pertama dibiayai pemerintah, maka operasi berikutnya dipikul Kampus Peduli. Selain itu biaya transportasi, perawatan selama Hani di rumah sakit, dan pemenuhan gizi juga di-handle?Kampus Peduli karena pemerintah tidak memberi jaminan lagi. Setelah menjalani proses pemeriksaan tadi Hani dan keluarga memutuskan kembali ke kampung halaman untuk menunggu hasilnya, karena hasil baru diperoleh satu bulan kemudian.

?

  • view 158