Mak Jua dan Si Kecil Kiki

Mak Jua dan Si Kecil Kiki

Tazkiyatun Nafsiah
Karya Tazkiyatun Nafsiah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 30 Maret 2016
Mak Jua dan Si Kecil Kiki

03/30/2016

Globalisasi memang tak ?memanusiakan? manusia. Globalisasi dengan segala bentuk kemudahannya tak lantas menghapuskan kemiskinan, ia hanya menguntungkan para kapitalis. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Pahitnya hidup justru dirasakan sebagian rakyat negeri khatulistiwa ini di tengah-tengah wacana naiknya UMR (Upah Minimum Rata-Rata). ?Perkembangan zaman memaksa mereka yang tak berpendidikan tinggi? harus ?merangkak? demi mengais rezeki.

Sebutlah Mak Jua,? seorang janda renta yang hidup dengan segala keterbatasan. Ia tinggal bersama seorang cucunya yang berusia 11 tahun. Mungkin bagi Mak Jua bernafas pun dirasa berat mengingat ujian hidup yang harus ia jalani di masa senjanya ini. Bagaimana tidak, ia harus tergopoh-gopoh demi mencari sesuap nasi. Penyakit reumatik yang dideritanya tak lantas membuat Mak Jua menyerah pada nasib. Semenjak penyakit itu bersarang pada tubuhnya, tak banyak yang bisa ia lakukan. Walaupun demikian, ia masih bekerja serabutan dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang cucu.

Kiki, sang cucu yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar tersebut juga harus rela menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bekerja keras. ?Sejak ia duduk di kelas 3, ia ?berprofesi sebagai pemetik alpukat. Hal itu ia lakukan demi membantu sang nenek yang kondisi tubuhnya semakin rentan. Ya, hanya Kiki yang menemani sisa hidup Mak Jua. Ia tak hanya menjadi pelipur lara nenek berusia 65 tahun itu, tetapi juga menjadi penopang hidupnya. Penyakit reumatik membuat Mak Jua tak bisa lagi beraktivitas seperti sedia kala, kakinya pun susah digerakkan. Oleh karena itu ia tak bisa bekerja dengan maksimal.

Sebenarnya Mak Jua mempunyai anak semata wayang?orang tua Kiki. Tetapi telah bertahun-tahun meninggalkannya, sehingga Mak Jua harus merawat dan membesarkan Kiki yang waktu itu masih berusia 2 bulan. Sejak tujuh tahun lalu, orang tua Kiki yang merantau ke Sumatera tersebut tak pernah terlihat batang hidungnya. Bahkan sejak dua tahun terakhir tak ada sedikitpun kabar yang sampai ke gubuk bilik milik mereka yang berlokasi di Cihideung Sasak, Desa Simpang, Kecamatan Cikacang ? Garut.

Di balik bilik sederhana itu, dinginnya angin pegunungan setempat bagai menusuk tulang punggung. Membuat penyakit reumatik Mak Jua sering kambuh dan tak kunjung sembuh. Bilik tua itu sebenarnya didirikan berkat bantuan para tetangga yang bersimpati kepada mereka. Dengan bahan bangunan dan alat seadanya, bilik itu didirikan secara gotong royong. Tak sampai di situ, simpati para tetangga juga membuat Kiki setidaknya memperoleh penghasilan. Kiki seringkali dipekerjakan sebagai buruh untuk memetik alpukat atau pekerja serabutan lainnya. Pekerjaan itu tidaklah ditawarkan setiap hari, Kiki masih harus memutar akal untuk mencari sesuap nasi melawan kejamnya arus hidup. Tapi Kiki tak punya pilihan selain terus berjuang untuk mengumpulkan rupiah demi mengobati Mak Jua, nenek yang teramat dicintainya. Jalanan setapak yang biasa dilaluinya menjadi saksi bisu dari perjuangannya.

Sebenarnya, Mak Jua sempat menjalani rangkaian pengobatan beberapa waktu lalu. Tetapi ketidakberdayaannya untuk melunasi hutang 5 juta rupiah kepada para tetangga yang ia gunakan untuk berobat, membuat proses pengobatan itu terputus. Tak hanya karena itu, lokasi pengobatan yang sangat jauh juga memaksa Mak Jua untuk menghentikan proses pengobatan. Kakinya tak kuat lagi berjalan jauh. Di sela-sela waktunya memetik alpukat, Kiki mencarikan akar-akaran dan berbagai jenis tumbuhan untuk dijadikan jamu pengganti obat yang selama ini Mak Jua konsumsi.

Hidup dengan keprihatinan membuat Kiki tumbuh lebih dewasa dibandingkan anak-anak seusianya. Bocah lelaki sekecil Kiki sudah bisa belajar menerima kenyataan bahwa jalan hidupnya berbeda. Begitu terjal, tak semulus jalan hidup teman sebayanya yang masih memiliki orang tua. Di tengah teriknya mentari di sela-sela pekerjaan mencari alpukatnya itu, seringkali terbesit keinginan dalam benak Kiki untuk bertemu kedua orang tuanya. Tapi apa boleh dikata, ia hanya mampu melihat neneknya tersenyum getir yang entah sampai kapan bisa terus di sampingnya. Semua kesulitan hidup tersebut justru membentuk karakter Kiki menjadi luar biasa. Di usianya yang dini, Kiki menjadi terlatih mandiri. Membuatnya bertekad untuk terus berjuang membangun jalan hidup tanpa mengemis kepada orang lain. Pengalaman hidup memang selalu menjadi guru yang terbaik. Kisah Kiki tadi berhasil ?melukiskan? bagaimana seharusnya kita belajar dari hidup.

?This is why life so beautiful, we can learn much even in pain.??Anonim

?*Foto-foto mengenai kehidupan Kiki sehari-hari dapat dilihat di link ini:

?https://www.facebook.com/kampus.peduli/media_set?set=a.307007519429966.1073741834.100003621606190&type=3

  • view 176