Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 27 Mei 2016   21:23 WIB
Tentang Seekor Monyet yang Mencintai Matahari

Tubuhnya penuh debu seolah-olah perjalanan tak pernah cukup panjang baginya. Langkah kakinya panjang dan cepat, sebentar lagi dan rasanya harapan itu telah ada di ujung jemari. Sudah berhari-hari ia menempuh perjalanan, sebuah peta di genggamnya erat. Tak ingin kehabisan waktu sebab rindu sudah terlalu lama memburu. ?berhentilah sejenak, kau bisa mandi di rumahku? ?kau tak bisa menemuinya dalam keadaan seperti itu? Orang-orang berteriak setiap kali ia melewati jejeran warung kopi di pinggir jalan. Ia sudah berhenti makan sejak tiga hari yang lalu dan benar, orang-orang itu benar. ?aku harus makan agar segenap kekuatanku kembali pulih, dan..? Ia terdiam menatap cermin di hadapannya. Cermin yang berada tepat di pintu masuk sebuah kedai kopi. Orang-orang menatapnya, menunggu ia untuk mengomentari dirinya. Tapi dia tak berucap bahkan sepatah katapun. Ia memesan sepiring nasi sup dan setumpuk pisang ambon bewarna hijau kekuningan. Orang-orang mengamatinya makan sementara ia masih saja seacuh pertama kali ia masuk. ?bolehkah aku membayarmu dengan ini?? Ia menyerahkan beberapa helai daun hijau selebar tiga jari. Serupa daun mangga namun dengan bintik-bintik hitam di bawahnya. Pemilik rumah makan terpana menatapnya, bukan karena takjub, melainkah ia tidak tahu dimana ia bisa menukarkan helai daun tersebut dengan rupiah. Tapi pemilik rumah makan tidak memiliki banyak pilihan selain meneima lembaran daun tersebut. ?nasi sup mu enak, lain kali aku pasti mengajaknya untuk makan kesini? Ia berlalu dan kembali berhenti di depan kaca. Menyisir rambut-rambutnya dan membasahi dengan sedikit air. Langit sedang cerah. Ia membuka lembaran peta yang tak pernah dilepasnya. Angin bertiup perlahan, mengusap manja punggungnya yang terbuka. ?ah.. aku hampir sampai? Ia tak bisa menahan gejolak mendebarkan di dadanya. Bayangan tentang perjumpaan melayang di pelupuk mata, pertanyaan-pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Langkahnya kembali panjang-panjang. Sesekali ia berlari. Barat sudah dekat. Hanya beberapa menit perjalanan saja. Perhelatan akan digelar. ?tidak.. jangan lagi? Kali ini ia sedikit melolong. Langit mulai memerah, jingga. Perlahan matahari mulai menukik jatuh sementara ia masih memacu langkah. Lari secepat gemuruh mengejar kilat. Monyet terpana. Di hadapannya membentang laut seluas pandangan. Nun jauh di ujung sana, ia melihat matahari melambaikan tangan. Memanggilnya. ?Matahari tak bisa berenang, aku harus menyelamatkannya? Senja merah saga mulai menggelap. Ia terjun ke laut, memacu kedua lengannya untuk mengayuh lebih cepat. Menyelamatkan Matahari. Langit mengggelap, sementara ia kehabisan napas bulan muncul. Cinta memang buta, tapi kamu jangan bodoh sayang!

Karya : Aulisa Rahmi