"Dari Hati"

Tari Akbar
Karya Tari Akbar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Desember 2016

Menggali lebih dalam, melihat kembali bagaimana gambaran hati serta mengetahui apa sebenarnya yang diinginkannya.

Salah satu film yang berasal dari Thailand yang berjudul “The Teacher’s Diary”,  memberikan gambaran sederhana tentang, intuisi, aktualisasi, cita-cita dan perjuangan bagaimana menjadi seorang guru, dengan bercermin pada hati bukan hanya sekedar sesuatu yang sifatnya komersil.

Film ini sebenarnya amat sederhana, tergantung sejauh mana kadar perenungan setiap penonton yang menyaksikannya. Dengan konsep bagaimana seorang guru meninggalkan sekolah terkenal dan mengajar di sekolah terpencil. Salah satu film yang menggambarkan sisi idealisme yang hampir punah saat ini.

Idealisme?.

TAPI DI DUNIA ZAMAN SEKARANG, WHAT IS SOMETHING WHICH IS NOT CHARACTERISTICALY COMERSIAL?.

Peradaban memaksa kita untuk bertarung dengan hati di level ini. Sayangnya banyak yang tak menjadi pemenang dan belum sempat menyelesaikan pertarungannya kemudian beranjak pergi untuk mengejar ambisi. Dan kemudian, sadar atau tidak sadar kita tenggelam dilautan progresif yang sebenarnya juga ikut menenggelamkan jiwa primitif (kemurnian) kita.

Diawal pertempuran yang dahsyat, film “Seediq Bale” memberikan pemahaman yang serupa tentang hal ini. Meski Mouna Rudo hanya memiliki pasukan sebanyak tiga ratus orang yang dibandingkan dengan pasukan jepang yang berjumlah ribuan, namun Sang Pemimpin Mouna Rudo pada film ini menyampaikan dalam orasinya “bahwa kita bertempur atas keinginan bersama, dari dalam hati untuk pembuktian kepada nenek moyang kita”. Kurang lebih seperti itulah makna yang disampaikan.

Hal serupa juga nampak dari film “Kingdom of Heaven”. Sebuah Drama kolosal yang mengisahkan tentang perebutan Kota Jerussalem, dititik-titik hampir mencapai Ending film, sang pemimpin pada film tersebut juga mampu membangkitkan keinginan dari beberapa penduduk Jerussalem, dari pemuda biasa menjadi tentara, dari yang takut mati lalu berubah seketika menjadi pemberani dan mau mengangkat pedang. Sebenarnya hanya satu poin, tapi dalam hal ini kita coba lepas dari esensi yang berifat universal-general.

 

Just One Point!.

Dalam makna perjuangan. Hati adalah cerminan mutlak, sepantasnya hati sebagai cerminan cinta, kemanusiaan, dan cerminan Tuhan.

Namun ditataran skeptis, sesuatu apa di zaman sekarang yang tak bisa ditukar dengan komersialisasi?. Bahkan jargon sekelas “uang bukanlah segala-galanya” bisa diputar balik dengan logika menjadi “segala-galanya butuh uang”. Mau bagaimana lagi, pusat akomodir barang dan jasa adalah uang.

Sesuatu apa didunia ini yang tak membutuhkan uang?.

Banyak!, banyak sekali. Anda bisa membuak youtube sekarang, dan mengetik kata kunci “Rasis yang dialami oleh Balotelli”. Uang?, Popularitas?, bahkan perasaan Balotelli yang tergambarkan dengan tangisan di bangku cadangan setelah memilih keluar dari lapangan karena hinaan. Uang dan popularitas?, sayangnya penghinaan tersebut telah menjadi contoh setelah beberapa orang sadar atau tidak sadar telah menuhankan uang, ternyata keberadaan adalah salah satu aspek penting yang juga bagian dari cerminan hati. Sepantasnya keberadaan yang dapat diterima orang lain.

Tergantung bagaimana mengkodisikannya, tapi bukan management dan pembenaran sepihak untuk menghianati bagaimana sebenarnya kemauan hati. Seperti menggunakan dalih sepihak dengan menggunakan alur progresif untuk memperkaya diri sendiri dan mengabaikan potensi penting dalam diri kita serta orang-orang tertindas lainnya.

Jadi, jika masih seperti ini. Maka wajar saja aleppo masih dibom-bardir, negeri di Tanduk Afrika masih di jajah, dan entah berapa lagi contoh yang mengenaskan, yang diakibatkan dari diri kita yang secara tidak sadar telah menghianati hati demi kepentingan komersialisai.

Mungkin di suatu waktu, saat napas tinggal ditenggorokan. Atau ketika tanah kita yang sendiri dijajah, atau kita yang dihina mungkin.

Dan disaat itu juga, komersialisasi, uang dan popularitas menjadi sirna seketika. Dan saatnya kembali bercermin dengan hati, sebagaimana hati menjadi cerminan kemanusiaan dan Tuhan.

 

  • view 211