“Let’s Hope We Are Still Together”

Tari Akbar
Karya Tari Akbar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Oktober 2016
“Let’s Hope We Are Still Together”

“Let’s Hope We Are Still Together”

Ini bukan hanya ujian tertulis, melainkan hati pun ikut tertuji.

Saya agak tergugah dengan kata-kata itu, karena tiba-tiba saja muncul dalam benak saya setelah melihat murid-murid saya menghadapi ulangan harian. Kata-kata itu bagai kilat menyambar setiap neuron yang bertugas dalam kepala saya, meski bukan ide brilian, tak ada apa-apanya dengan pemikiran tiba-tiba seorang Sarman dalam film ‘Mohenjo Daro’, ketika ia akan membawa segerombolan orang-orang untuk menyebrangi sungai yang amat deras dan luas sebelum mereka akan menemukan sungai yang akan kita kenali sekarang dengan nama, ‘Sungai Gangga’.

Akan tetapi kata “Ini bukan hanya ujian tertulis, melainkan hati pun ikut tertuji”, adalah kata yang bukan sekedar kata. Melainkan serangkaian makna yang terselubung dari perjalanan kesadaran. Ya, saya tidak ingin mengatakannya hebat seperti fase kesadaran milik Sigmund Freud ( Concius, Pra-Concius, dan Unconcius).

Ulangan Harian. Ya, bukan hanya dengan itu saya mengenang masa-masa SMA. Kalau pun ingin diceritakan lagi masa SMA saya, maka akan sampai pada pemvonisan anak-anak sekarang dengan kata ‘Garing’.

Saya ingin mengurai sedikit. Ala-ala curhatlah, (Hahahaha). Tapi begini, Ujian itu (Seperti di kelas tadi),  seperti perjalanan bersama orang-orang, pendakian gunung ketika nyaris sampai di puncak. Seperti Gio yang menolong Mentor Zahra pada sebuah tebing dalam serial novel Super Nova-Partikel. 

Namun sayangnya, Ujian masuk dalam paradigma sebagai lomba dalam pemahaman tunggal. Yang pintar akan mengalahkan yang dibawahnya ( apa sebutan halus untuk pemvonisan bodoh ya?, hahaha saya tidak tahu), yang curang akan mengalahkan yang pintar, mungkin yang beruntung akan mengalahkan segala-galanya, hahahahaha. Padahal sebenarnya tidak. Ujian bahkan hampir melibatkan seluruh aspek kehidupan. Ya, dalam lingkup yang lebih kecil. Seperti; kejujuran, bijak, tulus dan tanggung jawab.

Ujian sebagai perjalanan, pendakian gunung nyaris sampai di puncak. Bukan hanya melangkah begitu saja atau mengisi halaman kosong belaka. Saya mengingat pendakian pertama saya di gunung Gawalise (Mungkin menjadi gunung tertinggi di kota palu dengan tinggi lebih dari 2000 MDPL). Yah!, saya bukan pendaki yang hebat, namun saya belajar banyak dari hal tersebut. Kalau boleh di ‘cocologi-kan’, saya mengingat Novel 5 cm Milik Dhoni Dirgahantoro. Meski saya agak kecewa dengan filmya, katanya “ini bukan hanya perjalanan kaki melainkan perjalanan hati”. Semua menjadi teruji, siapa yang akan mebawa bawaan berat?, siapa yang lambat?, siapa yang punya fisik kuat?, siapa yang lemah?, dan bagaimana menyatukan itu semuanya. Dan akhirnya kita berjuang dalam pemahaman ‘sendiri’, padahal sebenarnya tidak. kalau kita sempat melihat judul pada salah satu foto di joinmeetup.com, foto itu memberikan makna “Kamu bisa mendaki sendirian, namun akan lebih baik kamu berjalan bersama teman”

Bahkan ini nyaris sama dalam kasus yang berbeda. Pendidikan kadang-kadang kejam dengan Ujian. Banyak anak-anak yang memiliki bakat untuk masa depannya, harus tertunda dengan ujian dan pemahaman yang jauh dari bakatnya. Ini bahkan jauh dari apa yang Hugo Chavez katakan “Pendidikan adalah rumah yang membahagiakan”. Ujian menjadi momok yang menakutkan. Kerasnya keegoisan untuk meninggalkan semua demi sebuah nilai. Padahal yang tercantum di atas kertas adalah benda mati dan tak mampu secara keseluruhan menjelaskan kemampuan kita.

Siapa yang pintar?, kenapa tidak belajar?, salahmu sendiri!, kenapa tidak perhatikan guru saat menjelaskan?. Entah berapa lagi pertanyaan akan menggugat dan mengecam untuk Sang Tertinggal ( Mereka yang diawah rata-rata untuk hal ini).

Ujian bukan hanya sekedar lomba. Apa yang ditampilkan Film ‘Happy New Year’ , yang dibintangi oleh Sharukh Khan, pada saat lomba di semi final. Tokoh utama menolong lawannya dalam lomba tersebut. Si Tokoh hampir gagal dari sisi SOP juri, tapi dia berhasil lulus dalam ujian hati. Sebuah keberanian, bijak, dan jujur atas dasar kebersamaan dalam menari. Ini semua tentang Kalian sedang melewati jembatan masa depan bersama. Ini tentang kesadaran menanggapi semuanya. Bagaimana untuk tidak untuk saling meninggalkan. Pendakian untuk mendorong dan memotivasi yang lainnya untuk sampai ke puncak. Perjalanan untuk saling menuntun agar tak tertinggal dan tersesat.

Dalam perjalanan itu, kadang-kadang kita ingin sampai duluan. Seperti dalam ujian kita ingin menjadi seseorang dengan nilai yang paling tinggi. Dan kadang-kadang pula kita dilampaui karena mengajarkan, memotivasi, dan mendukung. Ada yang nilainya lebih tinggi daripada kita. Dan akhirnya kita kecewa.

Kalau dalam situasi ini, mungkin kita tak sehebat hati kita sebelumnya. Yang mungkin tulus memberi, namun tak rela dengan kenyataan yang ada. Hati kita teruji kembali dengan rintangan yang lebih berat. Dan saatnya kita memenangkannya. Dalam perjalanan kesadaran, bahwa kita lebih mencintai Ilmu pengetahuan dari pada sebuah nilai, kita lebih menyanjung semangat belajar daripada sebuah coreng-moreng di atas kertas.

Semua akan sampai pada kesimpulan, apa yang menjadi baik dalam kenyataan ini, bukan tentang benar dan salah. Kalau boleh mengutip pernyataan Socrates pada buku Dr. Ali Maksum ketika salah seorang ingin mencela plato. Beliau mengatakan, “katakanlah kepadaku ketika menurutmu baik”. Setelah mereka berdua membicarakan tentang benar-salah, dan yakin-tidak. Dan sang Pencela pun akhirnya terdiam.

Dan dalam hal ini apa yang menjadi kabaikan untuk kita?.

Semoga saja kita masih mencintai semangat belajar dan Ilmu pengetahuan dibandingkan nilai. Dan kekecewaan pada orang lain, biarlah menjadi ujian hati untuk perbaikan diri. Bahwa kita akan lulus dan memiliki potensi dari kemauan kita sebelumnya, tidak seperti mereka yang hanya menerima hal-hal praktis. Semoga saja mereka akan memahami hal yang sama. Dan semoga saja dari sekian banyak yang kita lakukan, let’s hope we are still together.

  • view 483