Bagian Novel Filantropi-Hukum 8

Tari Akbar
Karya Tari Akbar Kategori Buku
dipublikasikan 10 Oktober 2016
Bagian Novel Filantropi-Hukum 8

Kabar Kejutan

Mondar-mandir di pinggir jalan. Sesekali Medi mencari batu untuk ditendang. Entah, sudah berpakali ia berjalan dengan jarak pendek, berputar terus berjalan sambil memegang pinggul. Sudah hampir setengah jam kami turun dari mobil. Mendengar ucapan selamat tinggal dari Pak Supir yang bahkan namanya belum sempat kami tahu. Lalu kemudian terlunta-lunta menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Sementara aku hanya duduk bersandar di tas besar ini. bingung masih dengan siaga menjagaku, membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Dibandingkan denganku, Medi masih punya pelampiasan. Setidaknya meski hanya berjalan-jalan tanpa arah dan tak menemukan jawaban.

Suasana di jalan ini samar-samar gelap. Di bawah tiang listrik tempat kami menunggu yang biasanya dipasangkan lampu sorot nampaknya padam. Terkecuali dari tiang listrik yang berjarakkan hampir seratus meter di sebelah kiriku yang masih sempat memberikan cahanya. Jalan aspal yang luas ini sangat sepi. Hanya ada sawah di belakangku. Sejenak aku berbalik arah, melihat sawah yang menghiasi sejauh mata memandang. Kemudian ada gunung menjulang tinggi yang nampak kelabu. Ada satu-dua api bersinar di gunung tersebut, sebagai tanda ada kehidupan di atas sana.

“berapa lama waktu yang dibutuhkan Ilham untuk sampai ke sini. Bukannya desa Maka hanya berjarak sekitar 17 kilometer dari sini?” desah Medi, sejenak berhenti menatap arlojinya.

“kenapa bertanya padaku?” ucapku, sorot mata Medi sedang menusukku. “kau belum pernah ke sini sebelumnya?” sambungku. Dan Medi hanya menggelengkan kepalanya. “ini benar-benar konyol. Apa yang kau rencanakan sebenarnya?” nadaku kian meninggi.

hei, Bocah” ucap Medi yang masih berdiri di depanku.”bukannya kau mantan aktivis kampus. Bukan mantan, setidaknya masih. Untung saja kau belum di drop out. Predikat itu masih cocok untukmu. Jangan kebanyakan mengeluh, jemputan akan datang sebentar lagi” ucap Medi, setidaknya kuliah berupa amarah kecil tak mencapai tujuh menit.

“kau seperti Pak Supir tadi saja. Tapi tunggu, aku sama sekali tidak mengeluhkan kondisi ini. aku khawatir dengan rencanamu yang juga belum jelas”

“lebih tepatnya belum ada rencana”

nah itu dia tepatnya. Belum ada rencana” ucapku, disusul bunyi petikan jariku.

“Ilham akan menjelaskannya nanti. Dia memberi pesan, nampaknya lima belas menit yang lalu. sepertinya sebentar lagi dia akan datang. Semua akan jelas jika mendengar apa yang dia katakan nanti. Jadi kau tenang saja. Duduk, diam dan dengar saja dari situ. Aku juga masih memikirkan rencana lain di luar apa yang akan dikatakan oleh Ilham nantinya” Medi mendesah, napasnya terdengar tidak teratur. Nampaknya dia agak kelelahan mondar-mandir hampir setengah jam.

“ambilkan airku. Haus” keluh Medi. Dengan cepat kusambar sebotol air mineral di kantong tas. Melemparnya kearah Medi. Dengan sigap dan siap Medi menangkapnya bak kiper kelas kakap menangkap bola.

“semoga saja semua baik-baik saja. Permainan kotor elit-elit kampus sudah cukup membingungkan dan sulit dihadapi. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana situasi di masyarakat sebenarnya. Dan predikatmu sebagi wartawan pengejar berita, aku masih belum percaya sebagai pemandu kali ini. Medi, ini yang sebenarnya membuatku belum siap meninggalkan dunia kampus”

“belum siap dan banyak berpikir itu beda-beda tipis, Rafa” ucap Medi. Sembari membasuh sisa-sisa air yang menggantung di bibirnya.

ya, anggaplah itu benar. Kadang kita tahu apa yang kita kejar, hanya saja kita bingung untuk memulai dari mana. Tapi setidaknya aku dan kau bisa belajar kali ini. Kau juga baru akan mengalami kesan perdana kan untuk kasus seperti ini, kan?. Sekali-kali kesuksesan tak bertumpuh pada keberhasilan projek, melainkan intensitas tanggung jawab yang harus terjaga. Dan pastinya, hikmah”

“aku akan memberikan nila A plus untuk renungan itu kepadamu. Kau benar-benar sadar kali ini. kadang-kadang aku menyesal telah mendahuluimu. Bukan karena meninggalkanmu, kau juga bisa hidup dengan apa yang kau punya sekarang. Tapi melainkan, aku sadar bahwa aku benar-benar belum siap menghadapi semuanya. Sebagai sarjana, aku masih terbilang lahir sebagai sarjana yang prematur. Mau bagaimana lagi?, saat kita mengejar perbaikan kualitas diri, dunia akan menuntut dengan kekayaan dan popularitas. Dan aku masih goyah terhadap sesuatu yang kuketahui” ucap Medi dengan datar.

“lalu kau membuatku tersesat di sini?. Kau menggunakan ketidaktahuanmu untuk tujuan apa?. Kemanusiaan?, idealisme?, perjuangan atau apa?. Berhenti Medi, kita bisa pulang sekarang jika kau mau. Bagaimana?, tawaranku layak untuk kau pertimbangkan. Bukan…bukan, putuskan sekarang juga”

Aku berdiri, melangkah menuju ke hadapan Medi. Dia hanya menatapku bingung. 1001 kata mungkin benar-benar terpasung dalam benaknya kali ini. aku mengangkat alis, menuntut kembali apa yang kurasakan sekarang.

hey, Bocah gelandangan kampus. Sampai kapan kau akan mengujiku, ha-a?” geram Medi mengucap. Otot di lehernya saling tarik-menarik pertanda marah. Tawaku seketika lepas, keseimbangan tubuhku menjadi goyah. Aku menunduk, kemudian menjongkok. Tawaku semakin lepas tak terkendali. Medi menyambarku dengan gelitikan, kami berdua bergulingan di tengah aspal. Medi akhirnya sadar juga, bahwa dari tadi aku hanya memancingnya.

Napas kami berdua hampir habis. Aku sempat menyentuh keringat Medi bersama hangat napasnya. Aku pun sama, untuk  beberapa detik aku hanya mampu berbaring di pinggir jalan. Sementara Medi, masih dengan desahnya yang terengah-engah. Medi sedang duduk di sampingku dengan melipat lutut. Aku masih sungkan untuk bergerak, masih terbaring lemah berbekas canda barusan. Tanganku terbentang, seluruh tubuhku luruh dan pasrah di atas aspal.

hey, wartawan yang katanya idealis. Tadi kau menyebutku Bocah gelandangan kampus?” tawaku masih mampu sedikit meledak, meski berat tubuh yang terasa belum berubah ringan. Masih pasrah terbaring di atas aspal ini. “timbang-timbanglah terlebih dulu. Aku dan kau mana yang bisa dikatakan lebih mendingan. Medi, bagaimana perasaanmu yang membiarkan seorang Medi di tunggangi begitu saja?”

“dan bagaimana perasaanmu yang masih bertahan di kampus sementara pendidikan sudah di liberalisasi?” potong Medi dengan cepat dan bertanya.

“hidup kadang-kadang rumit, Medi. Kita dicetak menurut apa yang penguasa mau. Mereka memberi kita uang, tempat dan popularitas, sementara kita adalah robot untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Ketika akhirnya kita menjadi penguasa, kita akan melakukan hal yang sama. Karena hal inilah yang diwariskan dari tahun ketahun. Belajar, sekolah, ijazah, dunia kerja dan cita-cita?. Aku bahkan belum tahu bagaimana peletakan substansi dasar untuk memulai dan mencapainya. Apakah kita benar-benar cinta terhadap ilmu pengetahuan atau kita mulai merisaukan masa depan?.

“biaya pendidikan semakin mahal. Semau-maunya saja para penguasa mengendalikan itu semua. Mau bagaimana lagi?, mereka punya kekuasaan, mereka punya perlindungan dan mereka punya legalitas. Dan ketika kami bersorak, figur lain di tampilkan. Orang-orang yang mereka sogok dengan beasiswa, atau orang-orang yang bisa mereka kendalikan dengan prestasi di kampus. Akhirnya modal besar dalam gerakan yaitu massa, kini berangsur pindah corak berpikirnya. Sementara kami yang katanya berjuang tidak lebih dari sampah pendidikan. Segala dalih akan kembali pada kehidupan pribadi. ‘INGAT ORANG TUAMU, MEREKA SANGAT KESUSAHAN MEMBIAYAIMU SEKOLAH’. Bodoh, kita semua mulai goyah dengan retorika itu. Pada hal aku ingin sekali bertanya di lubuk hati yang paling dalam, orang-orang terdekat kita menginginkan kita sarjana atau mereka akan lebih bangga jika membantu orang lain?”.

“sudah selesai kultummu?” potong Medi dengan tanya.

ah, kau merusak suasana hatiku” balasku. Seketika aku terbangun, tenagaku mulai kembali sedikit demi sedikit. Rasa-rasanya Medi hanya terpaksa mendengarku bicara.

“Rafa, kau sering mengatakan hal itu saat kita masih semester empat”

Mungkin Medi memang benar. Tapi sudahlah, aku hanya ingin mengingatkannya.

“Medi, Rafa” aku dan Medi seketika mengangkat pandangan. Tiba-tiba ada orang yang berdiri di samping kami.

Medi berdiri, sejenak menatap pria itu dalam keremangan. “Ilham” ucap Medi. Aku pun langsung berdiri sambil membersihkan butiran-butiran pasir yang menempel di celanaku.

“maaf agak lama. Ada beberapa hal yang harus saya urus tadi, kalian sudah lama di sini?” tanya Ilham kepada kami berdua.

“lumayanlah, mungkin sekitar setengah jam-an begitulah” balas Medi, ia melihatku untuk menyetujui pendapatnya. Aku hanya mengangkat bahu. “kita langsung berangkat?” sambung Medi dengan tanya kepada Ilham.

“iya, kita akan berjalan kaki sampai ke dusunku. Kita tidak bisa melewati jalan umum. Kita harus memakai rute lain”

“sampai di kaki gunung sana?” aku menunjuk gunung yang menjulang ke atas dalam keremangan.

“iya, banyak hal yang ingin kuceritakan. Mungkin perjalanan 17 kilometer tidak akan terasa dengan kabar yang akan kusampaikan nanti”

“kabar?” sergah Medi dengan tanya.

“ya, kabar. Lebih tepatnya kabar kejutan”

  • view 204