Perjalanan (Singgah Sejenak)

Tari Akbar
Karya Tari Akbar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 September 2016
Perjalanan (Singgah Sejenak)

Perjalanan (Singgah Sejenak)

Perjalanan dalam hidup atau hidup dalam sebuah perjalanan. Rasa-rasanya, saya memulai tulisan ini dengan pemikiran yang begitu acak, alias tidak jelas. Tapi saya begitu terkesima dengan kata ‘perjalanan’. Meski kata ini begitu familiar di kehidupan kita, bahkan mungkin nyaris seperti makanan yang basi karena sering dihidangkan dalam sebuah pembicaraan. Akan tetapi saya tetap menyukainya sekali pun basi, dan mungkin anda semua berpikiran sama dengan saya, amin.

Perjalanan!, saya mengambil lagi kata itu sebagaimana seperti pada prgaraf pertama. Kalau Dhoni  Dhirgahantoro sempat menuliskan dalam novelnya yang berjudul ‘5 cm’, sewaktu Genta dan teman-teman hendak mendaki ke gunung Maha meru. Katanya dalam perjalan tersebut “bukan kaki yang akan mendaki, melainkan hati”. Kalau kita menelaah kalimat tersebut dari sisi keindahan, kita akan benar-benar terbuai dengan manisnya. Akan tetapi dari sisi realita, bagaimana dengan penerapannya?, hati mungkin punya kaki?, begitu?.

Saya sempat tersekat dengan kebodohan dengan pertanyaan seperti itu. Ya, begitulah persepsi yang saya cipta. Kebersamaan Genta dengan kawan-kawan memberikan kesan perjalanan, seraya dengan nalar saya yang kadang-kadang mengembara tidak karuan. Akan tetapi sesungguhnya keindahan hanyalah buah hasil pada sebuah kata-kata, yang penting adalah aspek perenungan atau dengan kata lain sejauh mana kemurnian investasi emosi kita menelusup kedalam kata-kata tersebut. Hal ini bukanlah pendapat pribadi saya. Akan tetapi saya mendapatkannya dari ahli filsafat yang bernama Dr. Bambang Sugiharto.

Berputar-putarnya kata-kata yang saya tuliskan bukanlah permainan kebodohan dalam menulis, atau pun ego semata untuk mengacak-acak sebuah aksara, melainkan saya ingin mengatakan bahwa dalam perjalanan hidup, kadang-kadang kita mengabaikan aspek perenungan dan bahkan begitu tergiur dengan perjalanan logika yang semau-maunya saja melangkah, berlari atau bahkan terbang. Perjalanan tidak akan pernah ada tanpa penerapan kata ‘singgah’. Maaf, saya bermain pada standar dialektika dasar. Saya sempat membacanya pada buku bersampul merah, ditulis oleh salah satu pahlawan Indonesia dengan apresiasi sangat minim. Katanya; A=B atau B=A, pada arti hematnya kita menyimpulkan sesuatu karena proses perbandingan. Perjalanan ada karena kita pernah mengalami sebuah keadaan berhenti, sejenak singgah untuk merefleksikan kembali apa yang sempat terjadi.

Pada kenyataannya saya sering luput dari hal tersebut. Teramat sering saya mengembarakan raga dan jiwa saya, tanpa sejenak berhenti untuk memikirkan hal-hal lain yang mungkin begitu penting. Banyak hal, Seperti; salah satu senior saya sempat menyarankan untuk saya berhenti membaca, dia melihat hal yang tidak wajar dengan candu membaca yang sedang saya alami. Saya lebih suka sendiri dengan waktu yang saya miliki, saya banyak mengabaikan orang-orang disekitar saya., begitulah kenyataannya. Kejadian yang lain bahkan memberikan peringatan yang sama. Beberapa minggu terakhir saya dan beberapa teman lainnya sering terlibat diskusi panjang, dan bahkan berujung pada perdebatan. Bukan tanggung-tanggung, dari pagi hingga malam hal tersebut terus terjadi setiap harinya. Hingga pada satu titik, keadaan menjadi hening dan muncul pertanyaan yang menusuk secara pelan, menampar secara halus. “kira-kira kita tidak ego kalau begini terus?” tanya teman saya sambil memejamkan matanya. Telunjuknya bersandar mesra di keningnya, ia seperti berpikir, teramat dalam.

Seketika suasana menjadi lengang. Kami mulai menjawab pertanyaan tersebut masing-masing dalam hati. Bukan tentang benar atau baiknya, bukan tentang salah atau buruknya. Namun kadang-kadang kebutuhan memang muncul terlebih dahulu dibandingkan dengan kebenaran argumentasi atau pun pembenaran.

Kalau anda sempat membaca novel cinta daur ulang yang ditulis oleh Moammar Emka dengan karakter puitisnya, akan tetapi tak seperti Genta yang menunda sejenak kebersamaan meraka pada tulisan Dhoni Dhirgahantoro, melainkan bagaimana seorang Sam berhenti sejenak saat dirantai dilema dan belenggu oleh dua wanita. Maura dan Tanya, itulah nama kedua wanita tersebut. Hingga akhirnya dari proses untuk  singgah sejenak, pada akhirnya Sam mampu terlepas dari belenggu tersebut dan mengambil sebuah keputusan untuk memilih Tanya.

Pada perbandingan dari dua novel tersebut. Cinta Daur Ulang milik Moammar Emka dan 5 Cm milik Dhoni Dhirgahantoro. Entah mengapa saya lebih menyukai karakter Genta, namun bukan kebenaran mutlak. Hanya saja banyak hal keadaan terdesak yang meminta kita untuk singgah sejenak, hingga akhirnya kita mengambil keputusan. Mungkin masih terkesan baik jika Ending-nya berbuah kebahagiaan, namun jika tidak, anda pasti punya bayangan tersendiri. Akan tetapi seorang Genta mendahulukan inisiatifnya dari pada keterdesakan yang menghimpit emosi. Menyadarkan dirinya bahwa kita harus berhenti sejenak dari keadaan ini.

Dari sekian banyak kata yang menggumpal menjadi kalimat tidak jelas dan menggunung pada bentuk pragraf. Saya hanya mengkhawatirkan, saya dan atau kita terlambat menyadari untuk singgah/berhenti  agar kita dapat melihat orang-orang dan keadaan di sekitar kita. Hingga semuanya tak dapat kita ubah lagi. Karena waktu tak seperti uang yang dapat kita simpan, suatu saat ‘waktu’ itu akan berlalu dan kita benar-benar telambat.

 

  • view 285